Ekonomi

1.271 Karyawan Canva Terancam PHK Gara-gara AI

1.271 Karyawan Canva Terancam PHK Gara-gara AI
Jakarta, CNN Indonesia

Perusahaan teknologi asal Australia,, mengumumkan pemutusan hubungan kerja () dan perombakan struktur organisasi yang berdampak terhadap 1.271 karyawan atau sekitar 22 persen dari total tenaga kerjanya.

Perubahan tersebut dilakukan di tengah perkembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) yang mengubah industri perangkat lunak.

CEO Canva Melanie Perkins mengatakan perubahan tersebut mencakup karyawan yang kehilangan pekerjaan, berpindah peran, hingga harus direlokasi ke kantor-kantor pusat perusahaan.

Dalam memo kepada karyawan yang diunggah di situs resmi perusahaan pada 4 November, Perkins menyebut perubahan besar diperlukan agar Canva dapat menyesuaikan diri dengan perkembangan teknologi.

"Teknologi baru mengubah apa yang dapat diciptakan orang, bagaimana mereka menciptakannya, dan apa yang mereka harapkan dari produk yang mereka gunakan. Saya sampai pada kesimpulan sulit bahwa perubahan kecil tidak akan cukup," tulis Perkins dalam memo tersebut, seperti dikutip dari The Straits Times, Rabu (4/11).

Meski demikian, Perkins tidak merinci jumlah karyawan yang akan terkena PHK dari total 1.271 orang yang terdampak perubahan tersebut.

Perkins, yang mendirikan Canva bersama Cliff Obrecht dan Cameron Adams, mengatakan perusahaan perlu menyederhanakan struktur bisnis dan kembali mengandalkan tim-tim kecil dengan kewenangan lebih besar.

Ia juga menyebut pertumbuhan Canva melambat untuk pertama kalinya dalam satu dekade. Karena itu, perusahaan akan mengurangi spesialisasi pekerjaan yang terlalu spesifik dan menyusun ulang tim agar lebih sederhana.

Perkins menggambarkan restrukturisasi tersebut sebagai "momen tersulit dalam 13 tahun sejarah perusahaan".

Perubahan di Canva mencerminkan tekanan yang lebih luas terhadap industri perangkat lunak akibat perkembangan teknologi AI. Teknologi tersebut memungkinkan pengguna menyelesaikan lebih banyak pekerjaan secara mandiri tanpa bergantung pada program khusus.

Di sisi lain, perusahaan juga mulai memanfaatkan AI untuk menjalankan operasional dengan jumlah tenaga kerja yang lebih sedikit.

Perkembangan tersebut turut memicu kekhawatiran investor terhadap keberlanjutan model bisnis perusahaan perangkat lunak.

Sejumlah investor memangkas nilai perusahaan di sektor tersebut karena khawatir teknologi baru, termasuk Claude milik Anthropic, dapat mengambil alih sebagian pasar yang selama ini dilayani produk perangkat lunak konvensional.

Sebagai bagian dari perubahan organisasi, Sydney akan menjadi basis utama bagi lebih banyak tim produk Canva.

Perkins juga mengatakan perusahaan akan mendorong lebih banyak karyawan untuk bekerja secara langsung di kantor. Mulai Januari, sebagian besar karyawan dengan pola kerja hibrida akan diwajibkan masuk kantor dua hingga tiga hari dalam sepekan.

Perombakan organisasi tersebut dilakukan ketika Canva juga tengah mempersiapkan kemungkinan untuk melantai di bursa saham.

Valuasi perusahaan sempat mencapai US$40 miliar pada 2021. Namun, nilainya turun menjadi sekitar US$26 miliar setahun kemudian di tengah aksi jual saham perusahaan teknologi secara luas.

Valuasi Canva kemudian kembali meningkat, meskipun dampak gejolak industri teknologi terbaru terhadap nilai perusahaan belum diketahui secara pasti.

Perubahan yang terjadi di Canva berlangsung di tengah meningkatnya tekanan terhadap perusahaan teknologi untuk membuktikan bahwa investasi besar pada AI dapat menghasilkan keuntungan finansial.

Pada Oktober, Firmus Grid membatalkan rencana penawaran umum perdana saham atau initial public offering (IPO) di Australia dengan nilai hingga US$5,5 miliar. Sementara itu, saham operator pusat data NextDC anjlok pada bulan yang sama setelah perusahaan mempertimbangkan opsi force majeure dan memangkas proyeksi pendapatannya.