Liputan6.com, Jakarta - Jauh sebelum era pemesanan tiket secara daring lewat aplikasi di ponsel pintar populer seperti sekarang, sejumlah nama sudah melekat di hati pengguna jasa transportasi rel Indonesia. Layanan legendaris seperti Mutiara Selatan, Fajar Utama Solo, Senja Utama Solo, Fajar Utama , serta Senja Utama Yogyakarta telah puluhan tahun mengantar perjalanan warga, mulai dari urusan kerja, pendidikan, mudik, hingga melepas rindu dengan keluarga.
Rekam jejak panjang tersebut terbukti tak lantas meredup tergerus zaman. PT Kereta Api Indonesia (Persero) mencatat akumulasi penumpang dari kelima kereta tersebut menembus 1.258.364 pelanggan pada periode Januari hingga September 2026. Angka ini menegaskan bahwa deretan layanan bersejarah ini masih menjadi andalan masyarakat sampai saat ini.
Mengutip laman KAI, Minggu (8/11/2026), Vice President Corporate Communication KAI, Anne Purba, mengungkapkan bahwa eksistensi kereta-kereta kawakan ini menjadi cermin dinamika perkeretaapian yang terus beradaptasi dengan kebutuhan zaman. Menurutnya, setiap nama menyimpan kisah perjalanan lintas generasi yang diiringi transformasi teknologi maupun fasilitasnya.
Salah satu yang memiliki histori panjang adalah KA Mutiara Selatan. Mengaspal pertama kali pada 17 Agustus 1972, kereta penyambung rute Bandung–Surabaya via jalur selatan Jawa ini tetap diminati. Sepanjang Januari–September 2026, Mutiara Selatan sukses mengangkut 342.036 penumpang, alias tumbuh 0,98 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Nama ikonik lainnya adalah Senja Utama Solo yang resmi beroperasi di rute Solo–Jakarta sejak 14 Oktober 1978. Kehadirannya kemudian dilengkapi oleh Fajar Utama Solo untuk memberikan fleksibilitas opsi waktu perjalanan bagi masyarakat di koridor tersebut.
Mendekati usia 48 tahun sejak perjalanan pertamanya, duet layanan Solo–Jakarta ini membukukan total 320.037 penumpang selama sembilan bulan pertama 2026. Rinciannya, Fajar Utama Solo menggaet 164.342 pelanggan (naik 6,80% secara tahunan), sementara Senja Utama Solo membukukan 155.695 pelanggan (tumbuh 4,65% dibanding 2025).
Sementara dari perlintasan Jakarta–Yogyakarta, giliran Fajar Utama Yogyakarta dan Senja Utama Yogyakarta yang mengukir cerita sejak era 1980-an. Penamaan keduanya dengan lugas menggambarkan jam keberangkatan khas favorit penumpang, yakni pada waktu fajar dan senja.
Pada rentang Januari–September 2026, Fajar Utama Yogyakarta berhasil melayani 306.328 penumpang, sedangkan Senja Utama Yogyakarta mencatatkan 289.963 pelanggan. Jika digabungkan, koridor Yogyakarta ini berhasil mengantarkan 596.291 penumpang.
Transformasi Tanpa Menghapus Identitas
Meskipun mempertahankan nama yang telah berusia puluhan tahun, aspek fisik dan teknologi rangkaian kereta terus mengalami modernisasi. Fajar dan Senja Utama Solo menjadi contoh nyata dari pembaruan ini. Jika pada awal kemunculannya Senja Utama Solo mengandalkan gerbong kelas bisnis Goša buatan Yugoslavia, kini kedua layanan tersebut telah beralih memakai rangkaian stainless steel (baja nirkarat) generasi terbaru karya PT INKA Madiun.
Metamorfosis ini membuktikan fleksibilitas satu nama layanan dalam melewati berbagai fase perkembangan industri kereta api nasional. Kendati sarana pendukung terus diremajakan, identitas nama yang familiar tetap dipertahankan sebagai penanda riwayat panjang perjalanannya.
Anne menilai keberlanjutan armada bersejarah ini merupakan bagian dari identitas perkeretaapian yang bertumbuh beriringan dengan masyarakat. Di tengah kemajuan fasilitas, modernisasi armada, dan kemudahan transaksi digital, jejak histori dinilai tetap punya makna penting untuk dirawat.
Penumpang Secara Keseluruhan
Secara keseluruhan, kinerja KAI Group mencatatkan total 394.443.300 penumpang sepanjang Januari–September 2026.Angka ini melonjak 7,06 persen ketimbang pencapaian periode sama tahun sebelumnya yang sebesar 368.429.917 penumpang. Khusus untuk segmen KA Jarak Jauh dan Lokal, volume pengangkutan mencapai 43.959.327 pelanggan atau tumbuh 8,33 persen secara tahunan.
Warisan sejarah transportasi rel Indonesia sendiri sejatinya tak cuma terpancar dari identitas nama kereta, melainkan juga lewat arsitektur stasiun, keberadaan lokomotif lawas, hingga berbagai peninggalan sarana bersejarah lainnya. Seluruh aspek tersebut berkelindan membentuk narasi perkembangan transportasi nasional yang adaptif terhadap masa.
KAI berkomitmen terus merawat warisan sejarah ini selaras dengan peningkatan standar pelayanan bagi kebutuhan penumpang modern. Melalui langkah tersebut, deretan kereta legendaris yang telah melintasi berbagai generasi dapat terus melaju dan menjadi bagian tak terpisahkan dari cerita perjalanan bangsa.