Kebutuhan infrastruktur digital Indonesia diperkirakan semakin besar seiring berkembangnya teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Untuk menjawab kebutuhan tersebut, Asosiasi Penyelenggara Jaringan Telekomunikasi (Apjatel) ungkap strategi terbaru industri.
Ketua Umum Apjatel Jerry Siregar mengatakan, jaringan fiber optik menjadi salah satu fondasi penting dalam pengembangan ekosistem digital. Infrastruktur ini tidak hanya mendukung layanan internet berkecepatan tinggi, tetapi juga menjadi tulang punggung operasional pusat data (data center), komputasi awan (cloud computing), hingga berbagai aplikasi berbasis AI.
Disampaikannya, perkembangan teknologi AI menuntut infrastruktur konektivitas yang semakin andal, berkapasitas besar, dan menjangkau lebih banyak wilayah.
"Kolaborasi menjadi kunci agar industri telekomunikasi khususnya fixed broadband dapat terus berkembang dan berkontribusi dalam mendukung kedaulatan serta transformasi digital Indonesia," ujar Jerry dikutip detikINET, Kamis (5/11/2026).
Berdasarkan Laporan Kinerja Komdigi 2025, panjang jaringan fiber optik terrestrial di Indonesia mencapai sekitar 1,02 juta kilometer. Sementara itu, jaringan fiber optik bawah laut mencapai sekitar 131,2 ribu kilometer.
Meski demikian, jangkauan fiber optik terrestrial baru mencakup 5.253 dari total 7.285 kecamatan atau sekitar 72,11%. Artinya, masih terdapat kebutuhan perluasan jaringan untuk memperkecil kesenjangan konektivitas antardaerah.
Selain memperluas jangkauan, Apajtel menyoroti persoalan penataan jaringan fiber optik yang selama ini terpasang di berbagai wilayah. Penataan diperlukan agar pembangunan infrastruktur telekomunikasi tidak hanya mengejar perluasan jaringan, tetapi juga memperhatikan keselamatan, estetika kota, dan keandalan layanan.
Salah satu upaya yang didorong adalah penataan jaringan kabel udara secara bertahap menuju kabel tanam bersama. Program ini membutuhkan koordinasi antara penyelenggara jaringan, pemerintah daerah, dan instansi terkait.
Berdasarkan data program Apjatel di wilayah Jabodetabek, Serang, dan Banten periode 2021-2026, penataan jaringan telah mencakup 363 lokasi dengan total panjang 604,771 kilometer.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 281 lokasi dengan panjang 403,218 kilometer telah selesai ditata. Sementara 82 lokasi lainnya dengan panjang 201,553 kilometer masih dalam pengerjaan.
Apjatel menilai penataan jaringan tidak bisa dilakukan secara terpisah oleh masing-masing penyelenggara. Diperlukan integrasi program pembangunan dengan organisasi perangkat daerah (OPD), terutama yang berkaitan dengan pekerjaan jalan, trotoar, jembatan penyeberangan, dan drainase.
Dengan koordinasi sejak tahap perencanaan, proses perizinan, survei, hingga pemantauan pekerjaan di lapangan, pembangunan infrastruktur diharapkan lebih efisien dan tidak menimbulkan pekerjaan berulang.
Jerry menyampaikan melalui Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Apjatel 2026 turut membahas kesiapan industri jaringan telekomunikasi menghadapi perkembangan AI serta kebutuhan penguatan infrastruktur digital nasional.
"Kami ingin mendorong industri untuk tidak hanya membangun konektivitas, tetapi juga memperkuat kerja sama dan mempercepat pertumbuhan ekosistem digital Indonesia. Apjatel berkomitmen untuk terus menjadi wadah kolaborasi bagi para penyelenggara jaringan telekomunikasi dan pemangku kepentingan terkait," tutup Jerry.