Jakarta, CNBC Indonesia - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) parkir di zona hijau pada perdagangan sesi pertama hari ini. IHSG berada di level 5.016,18, naik 96,41 poin atau 1,96%.
Pada pembukaan perdagangan pukul 09.00 WIB, IHSG langsung dibuka menguat di level 4.998,34. Indeks kemudian terus naik dan menyentuh titik tertingginya di 5.072,05 pada awal sesi, sebelum bergerak terkoreksi dan berfluktuasi di kisaran 5.000 hingga 5.050 menjelang pukul 11.00 WIB. Adapun level terendah hari ini tercatat di 4.995,46.
Dari sisi aktivitas perdagangan, total volume transaksi mencapai 145,24 juta lot dengan nilai transaksi Rp5.721,13 miliar.
Pasar keuangan Indonesia diharapkan menguat pada hari ini. Hasil pemilu AS dan anjloknya harga minyak diharapkan bisa menjadi katalis positif.
Dari dalam negeri, perhatian investor tertuju pada rilis pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal III-2026, perkembangan pasar modal, serta rencana perluasan bantuan BPJS Kesehatan.
Berikut sentimen dan perkembangan penting yang perlu dicermati pelaku pasar.
1. Pemilu AS, Trump dan Republik Kalah Telak
Partai Demokrat berjanji memanfaatkan kemenangan telak dalam pemilu paruh waktu (midterm elections) untuk membatasi kekuasaan Presiden Donald Trump.
Kemenangan ini membuka peluang kebuntuan politik di Washington selama dua tahun ke depan. Sementara itu, dalam penampilan publik pertamanya setelah pemilu, Trump justru memamerkan proyek pembangunan ballroom di Gedung Putih.
Demokrat berhasil merebut kendali Senat dan DPR AS setelah meraih kemenangan di sejumlah basis kuat Partai Republik. Gelombang kemarahan publik terhadap kebijakan Trump, terutama perang AS-Iran yang memperburuk inflasi dan biaya hidup, menjadi salah satu pendorong utama kemenangan tersebut.
2. Defisit Perdagangan AS Menyusut
Defisit perdagangan Amerika Serikat (AS) menyusut tipis menjadi US$105 miliar pada September 2026, dari US$105,7 miliar pada Agustus. Angka ini juga lebih rendah dari perkiraan pasar sebesar US$108 miliar.
Penyusutan defisit ditopang oleh ekspor yang melonjak 1,9% menjadi US$321,5 miliar, tertinggi dalam lima bulan. Kenaikan ekspor terutama berasal dari komputer, kedelai, minyak mentah, aksesori komputer, pesawat sipil, dan produk farmasi. Namun, ekspor emas nonmoneter mengalami penurunan.
3. Data Tenaga Kerja AS
Sektor swasta Amerika Serikat (AS) menambah 86.000 tenaga kerja pada Oktober 2026, melampaui ekspektasi pasar sebesar 69.000 pekerjaan. Angka ini juga menyamai kenaikan pada September yang telah direvisi lebih rendah. Perekrutan tenaga kerja masih solid selama dua bulan berturut-turut, dengan perusahaan dari berbagai skala bisnis mencatat penambahan karyawan.
Dari sisi sektor, penyerapan tenaga kerja terbesar terjadi pada perdagangan, transportasi, dan utilitas yang bertambah 39.000 pekerjaan. Sektor pendidikan dan kesehatan menyusul dengan 28.000 pekerjaan, sementara rekreasi dan perhotelan menambah 19.000 pekerjaan.
Namun, sektor jasa profesional dan bisnis justru kehilangan 27.000 pekerjaan untuk bulan ketiga berturut-turut. Sektor sumber daya alam dan pertambangan juga berkurang 8.000 pekerjaan, sedangkan sektor informasi turun 2.000 pekerjaan.
4. Harga MInyak Jatuh
Harga minyak mentah dunia ambruk lebih dari 8% pada perdagangan Rabu (4/11/2026), menyentuh level terendah dalam lebih dari dua bulan.
Pelemahan terjadi setelah Partai Republik pimpinan Presiden Donald Trump kehilangan kendali atas Kongres AS dalam pemilu paruh waktu. Investor menilai perubahan kekuasaan politik ini dapat memperbesar tekanan terhadap Trump untuk mengakhiri perang AS-Israel melawan Iran.
Harga minyak Brent anjlok 8,7% ke US$94,62 per barel, sementara minyak WTI merosot 8,3% ke US$88,12 per barel. Keduanya mencatatkan penutupan terendah sejak 31 Agustus.
Kekalahan Partai Republik membuat posisi politik Trump melemah. Dengan Demokrat menguasai DPR dan Senat, ruang gerak militer pemerintah AS berpotensi semakin terbatas sehingga peluang negosiasi damai dengan Iran dinilai meningkat.