SLEMAN – Di kawasan lereng Gunung Merapi, sektor pertanian dan peternakan menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat. Lahan pertanian menyediakan ruang bagi budidaya berbagai komoditas, sementara usaha peternakan ayam menjadi salah satu sumber kegiatan ekonomi produktif.
Potensi tersebut membuka peluang bagi masyarakat untuk mengembangkan usaha yang lebih efisien, berdaya saing, dan berkelanjutan melalui pemanfaatan teknologi tepat guna. Berangkat dari kondisi tersebut, Universitas AKPRIND Indonesia melalui Program Mahasiswa Berdampak–AKSARA Mahasiswa melaksanakan kegiatan pemberdayaan masyarakat di Dusun Banaran, Kapanewon Cangkringan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta.
Kegiatan ini melibatkan dua kelompok masyarakat yakni Kelompok Tani Merapi Makmur dan Kelompok Ternak Tri Manunggal Bakti. Program tersebut memperoleh pendanaan dari Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM), Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan (Ditjen Risbang), Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia Tahun 2026. Program AKSARA Mahasiswa dirancang untuk mempertemukan pengetahuan dan inovasi perguruan tinggi dengan kebutuhan nyata masyarakat. Melalui keterlibatan mahasiswa, dosen pendamping, dan kelompok masyarakat, program ini diarahkan untuk menghasilkan solusi aplikatif yang dapat meningkatkan produktivitas serta kemandirian masyarakat.
Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan Universitas AKPRIND Indonesia, Prof Dr Anak Agung Sustrawan, S.T., M.Tech., mengatakan Program AKSARA menjadi salah satu sarana bagi mahasiswa untuk mengimplementasikan ilmu pengetahuan dan teknologi secara langsung di tengah masyarakat. "Program ini bertujuan mendorong mahasiswa agar berperan aktif memberikan solusi terhadap permasalahan nyata di masyarakat melalui penerapan ilmu pengetahuan, teknologi, inovasi, dan keterampilan yang diperoleh di perguruan tinggi. Pelaksanaannya mengedepankan kolaborasi antara mahasiswa, dosen pendamping, perguruan tinggi, dan kelompok masyarakat sebagai mitra sasaran," ujarnya.
Keterlibatan mahasiswa dalam kegiatan ini menjadi pengalaman pembelajaran langsung untuk mengintegrasikan pengetahuan akademik dengan kebutuhan masyarakat. Mahasiswa tidak hanya mempelajari teknologi di ruang kelas, tetapi juga terlibat dalam proses identifikasi masalah, perancangan solusi, penerapan inovasi, hingga pendampingan kepada kelompok sasaran.