Jakarta, CNBC Indonesia - Punya brand fashion sendiri mungkin menjadi impian sebagian anak muda. Namun, keinginan itu kerap terbentur modal hingga urusan produksi. Padahal, di kawasan Tanah Abang, Jakarta Pusat, ada cara untuk memulai bisnis pakaian tanpa harus membuat baju sendiri.
Pantauan CNBC Indonesia di Pusat Grosir Metro Tanah Abang (PGMTA) menunjukkan sejumlah pedagang menawarkan pakaian tanpa merek yang bisa dibeli untuk dijual kembali menggunakan brand sendiri. Calon pengusaha yang kebanyakan anak muda tinggal memilih model pakaian, menyiapkan label, lalu memasarkannya kembali.
Ini juga yang membuat pedagang pakaian tanpa merek diserbu anak muda RI. Mereka membeli sejumlah potong pakaian dan nantinya akan diberi merek sendiri. Ini yang dinamakan bisnis clothing brand.
Modalnya pun beragam. Salah satu pedagang memperkirakan pembeli perlu menyiapkan sekitar Rp1,5 juta untuk mendapatkan 16 potong pakaian. Sementara pedagang lain menawarkan pilihan belanja mulai Rp250.000 saja.
"Kalau di kita, modalnya bisa Rp250.000 saja, Kakak sudah bisa belanja produk-produk kami. Nanti produknya bisa dijual lagi pakai nama brand Kakak sendiri," ujar Rina, salah seorang penjaga toko saat ditemui di lokasi, Minggu (8/11/2026).
Konsepnya cukup sederhana. Produk sudah disiapkan supplier dalam kondisi tanpa merek. Pembeli kemudian bisa memasang label dan kemasan sendiri sehingga pakaian tersebut dapat dipasarkan sebagai produk brand miliknya.
Sejumlah pakaian tanpa merek terpajang di Pusat Grosir Metro Tanah Abang (PGMTA), Jakarta Pusat, Rabu (4/11/2026). (CNBC Indonesia/Martyasari Rizky) Foto: Sejumlah pakaian tanpa merek terpajang di Pusat Grosir Metro Tanah Abang (PGMTA), Jakarta Pusat, Rabu (4/11/2026). (CNBC Indonesia/Martyasari Rizky) |
"Jadi begini, white label itu produk yang sebenarnya sudah siap dijual dan diproduksi oleh kami supplier, tapi produknya masih polos atau belum dikasih merek. Jadi, kakak sebagai pembeli bisa pasang labelnya sendiri, terus buat packaging sendiri. Setelah itu, produknya bisa dijual lagi pakai nama brand kakak-nya," jelas dia.
Pilihan produknya juga beragam, mulai dari kemeja, atasan, outer, hingga celana. Di salah satu toko, misalnya, kemeja ditawarkan mulai dari Rp87.000 hingga Rp115.000 per potong. Pembelian juga tersedia dalam skema semi-grosir, sehingga bisa menjadi pilihan bagi mereka yang belum ingin mengambil stok terlalu banyak.
Bagi yang mengambil dalam jumlah besar, harga produk bisa lebih murah. Salah satu pedagang memberikan potongan Rp7.000 per potong untuk pembelian 13-60 potong, dan Rp12.000 per potong untuk pembelian minimal 61 potong.
Pemasangan label juga bisa dibantu oleh supplier. Untuk pembelian di bawah 120 potong, biayanya Rp2.000 per potong. Sementara pembelian di atas 120 potong mendapatkan fasilitas pemasangan label gratis.
Menariknya, bisnis ini tak hanya menyasar pasar lokal. Salah satu pedagang, Veni (nama samaran), mengungkapkan produknya sudah pernah dikirim ke Singapura, Malaysia, hingga Qatar.
"Kemarin kita sudah sering kirim ke Singapura sama Malaysia. Kalau untuk Asia Tenggara kita baru ke Singapura sama Malaysia. Terjauh kita pernah kirim ke Qatar," ungkap Veni.
Veni menyebut penjualan yang sudah tembus ke mancanegara itu juga menawarkan hal yang sama, yakni penjualan dengan skema tanpa label.
"Iya, yang diekspor itu semua tanpa label atau merek kita. Sudah ada mereknya, tapi itu merek atau brand mereka, jadi mereka sudah request untuk dipasangkan mereknya. Jadi di sana mereka tinggal langsung jual," jelasnya.
Dengan model bisnis seperti ini, calon pengusaha tak harus langsung memiliki konveksi atau mengurus produksi sendiri. Tanah Abang menawarkan pilihan bagi mereka yang ingin mencoba peruntungan di bisnis fashion, bahkan dengan modal awal yang relatif terjangkau.
(wur)[Gambas:Video CNBC]
