Surabaya (ANTARA) - Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Kota Magelang menggelar Family Business Forum untuk mendorong pelaku usaha menjaga, mengembangkan, dan mewariskan bisnis keluarga kepada generasi penerus.
“Kami ingin pengusaha Magelang melek ilmu. Modal bisa dicari, pasar bisa dibangun, tetapi tanpa ilmu semuanya akan rapuh,” kata Ketua Apindo Kota Magelang Eddy Sutrisno dalam keterangan yang diterima di Surabaya, Rabu.
Kegiatan yang berlangsung di Grand Artos, Kota Magelang, Jawa Tengah, Minggu (1/11), tersebut mempertemukan pemilik usaha dan generasi penerus perusahaan keluarga untuk berbagi pengetahuan mengenai keberlanjutan bisnis lintas generasi.
Forum tersebut menghadirkan dua narasumber, yakni Teddy Saputra dari Universitas Ciputra dan Komisaris Independen Ciputra Group Antonius Tanan.
Eddy mengatakan pengetahuan merupakan modal penting bagi pengusaha untuk bertahan dan berkembang di tengah persaingan usaha. Menurut dia, pengetahuan juga menjadi pedoman dalam menghadapi perubahan zaman dan dinamika dunia bisnis.
"Ilmu dapat menuntun usaha kita. Ketika pengusahanya cerdas, usahanya kuat. Dan ketika usahanya kuat, Magelang pasti akan semakin maju," ujarnya.
Ia menilai dunia usaha bergerak semakin cepat sehingga pengusaha harus terus belajar dan melakukan pembenahan agar mampu mengikuti perkembangan zaman.
Karena itu, Apindo Kota Magelang berkomitmen menghadirkan ruang pembelajaran seperti Family Business Forum secara berkelanjutan.
"Jangan pernah berhenti belajar. Hari ini kita duduk bersama untuk belajar, besok kita berdiri bersama untuk membangun Magelang," kata Eddy.
Sementara itu, Ketua Panitia Family Business Forum Yohanes Santoso menekankan pentingnya kolaborasi dan jejaring antarpengusaha untuk memperkuat perekonomian Kota Magelang.
Yohanes yang juga Wakil Ketua Apindo Bidang Ekonomi Kreatif dan Digitalisasi Kota Magelang itu meminta para pengusaha tidak menjalankan usaha secara sendiri-sendiri.
"Pengusaha Magelang harus saling terhubung dan bersatu. Satu pengusaha mungkin hanya sebatang lidi. Tetapi jika kita bersatu, kita menjadi kekuatan besar yang mampu menggerakkan ekonomi Kota Magelang," ujarnya.
Menurut Yohanes, jejaring antarpengusaha dapat membuka peluang kerja sama, pertukaran pengalaman, hingga memperluas akses pasar yang sulit diperoleh jika dilakukan sendiri-sendiri.
Ia menilai kehadiran Teddy Saputra dan Antonius Tanan memberikan wawasan baru bagi pengusaha mengenai pengelolaan dan pengembangan perusahaan keluarga.
"Melalui Ciputra, kita mendapatkan pandangan yang lebih luas. Dengan bekal itu, mari kita jadikan Kota Magelang sebagai pakunya Pulau Jawa," katanya.
Ungkapan tersebut merujuk pada julukan Magelang sebagai Pakunya Tanah Jawa yang selama ini dikaitkan dengan keberadaan Gunung Tidar di tengah kota.
Yohanes juga menyoroti peran perusahaan keluarga sebagai salah satu penggerak perekonomian Kota Magelang. Menurut dia, sejumlah usaha yang telah lama berkembang tidak hanya menjadi pusat perdagangan, tetapi juga bagian dari sejarah dan identitas kota.
"Perusahaan keluarga harus dijaga agar ekonomi Kota Magelang semakin maju dan besar. Amat disayangkan jika banyak perusahaan legendaris mati karena hal itu akan memengaruhi kemajuan kota," ujarnya.
Ia menilai keberlangsungan perusahaan keluarga perlu mendapat perhatian karena keberadaan usaha tersebut turut mendukung aktivitas ekonomi dan membuka lapangan pekerjaan.
Sebagai pengurus yang membidangi ekonomi kreatif dan digitalisasi, Yohanes mendorong generasi penerus menggabungkan nilai-nilai warisan keluarga dengan inovasi dan pemanfaatan teknologi digital.
Menurut dia, digitalisasi bukan ancaman bagi usaha yang telah lama berkembang, melainkan peluang untuk memperluas jangkauan pasar dan menjaga relevansi bisnis di tengah perubahan perilaku konsumen.
"Mari kita jaga yang sudah dibangun, kita kembangkan dengan cara-cara baru, dan kita wariskan dalam keadaan yang lebih besar," katanya.
Melalui forum tersebut, Apindo Kota Magelang berharap semakin banyak pengusaha lokal yang mampu mengembangkan usaha, meningkatkan daya saing, dan meneruskan bisnis kepada generasi berikutnya.
Kegiatan tersebut disponsori Bank Syariah Indonesia (BSI) dan Armada Group serta didukung Hotel Grand Artos.