Ekonomi

Bahan Baku Popok Sampai Pipa RI Masih Impor, Ini Penyebabnya

Bahan Baku Popok Sampai Pipa RI Masih Impor, Ini Penyebabnya

Bogor, CNBC Indonesia - Industri petrokimia Indonesia menghadapi persoalan yang cukup ironis. Sejumlah produk sebenarnya sudah mampu diproduksi di dalam negeri dengan kapasitas besar, tetapi impor masih terus masuk dan menekan penyerapan produk lokal.

Dua produk yang menjadi sorotan adalah polyvinyl chloride (PVC) dan superabsorbent polymer (SAP). Keduanya memiliki kebutuhan domestik yang cukup besar, mulai dari bahan baku konstruksi hingga produk kebutuhan sehari-hari seperti popok bayi.

Direktur Industri Kimia Hulu Kementerian Perindustrian Sri Bimo Pratomo mengungkapkan, Indonesia bahkan telah menjadi produsen PVC terbesar di kawasan ASEAN. Kapasitas produksi nasional pada 2026 mencapai 1,22 juta ton per tahun.

"Kalau kita lihat pada 2026, Indonesia ini sudah mengoptimalkan kapasitas hingga 1,22 juta ton per tahun, sehingga menjadi leading produsen PVC di ASEAN. Kemudian demand dalam negeri mengalami peningkatan hingga 5,1% per tahun, sehingga pada 2027 permintaan PVC dapat mencapai 873.000 ton," ungkap Bimo dalam media gathering Forum Wartawan Industri (Forwin) di Sentul, Jumat (6/11/26).

Dengan kapasitas tersebut, kebutuhan PVC nasional secara teori dapat dipenuhi dari produksi dalam negeri. Namun, kondisi pasar justru memperlihatkan masih adanya tekanan dari produk impor yang menawarkan harga lebih murah.

"Seharusnya kebutuhan ini bisa dipenuhi semua dari dalam negeri. Tetapi nyatanya sekarang banyak impor karena seperti saya sampaikan tadi, petrokimia di luar negeri itu mengalami oversupply," ujarnya.

Ilustrasi Popok. (Dok. Freepik/)Ilustrasi Popok. (Dok. Freepik/) Foto: Ilustrasi Popok. (Dok. Freepik/)

Persoalan serupa terjadi pada industri superabsorbent polymer atau SAP. Bahan baku ini digunakan dalam pembuatan produk penyerap cairan, termasuk popok bayi dan produk kebutuhan higienitas lainnya.

Saat ini, Indonesia baru memiliki satu produsen SAP dengan kapasitas produksi 90.000 ton per tahun. Perusahaan tersebut berencana memperluas kapasitasnya menjadi 140.000 ton per tahun pada awal 2027.

"Demand kita sekitar 100.000 ton. Berarti ini kan ingin disuplai dari industri ini. Tetapi ternyata juga banyak impor, Bapak Ibu sekalian. Superabsorbent polymer, nah ini tantangannya," kata Bimo.

Sementara itu, Sekretaris Jenderal Inaplas Fajar Budiono juga menyoroti besarnya impor produk petrokimia yang masuk ke Indonesia. Khusus untuk PVC, volume impor pada tahun ini berpotensi kembali mencapai ratusan ribu ton.

"Untuk PVC, data kita juga mirip-mirip. Ini kita juga perlu dorong, jangan sampai impornya kegedean. Impor kita catat kira-kira tahun ini bisa sampai 300.000 ton lagi kalau tidak dibendung," ujar Fajar.

[Gambas:Video CNBC]