Lamongan (ANTARA) - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lamongan, Jawa Timur, memetakan sebaran wilayah terdampak banjir, cuaca ekstrem, dan kekeringan sebagai dasar penguatan kesiapsiagaan menghadapi potensi bencana hidrometeorologi.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Lamongan Samian mengatakan berdasarkan pemetaan terbaru, wilayah terdampak banjir meliputi tujuh kecamatan, yakni Deket, Glagah, Karangbinangun, Kalitengah, Turi, Kedungpring, dan Karanggeneng.
Sementara itu, wilayah terdampak cuaca ekstrem tersebar di delapan kecamatan, meliputi Tikung, Ngimbang, Karanggeneng, Kalitengah, Deket, Lamongan, Sukodadi, dan Bluluk.
"Untuk wilayah terdampak kekeringan tersebar di 16 kecamatan, yakni Bluluk, Sarirejo, Ngimbang, Pucuk, Karangbinangun, Deket, Glagah, Modo, Kembangbahu, Sambeng, Mantup, Lamongan, Tikung, Brondong, Kedungpring, dan Sugio," katanya di Lamongan, Jumat.
Ia menjelaskan, untuk penanganan kekeringan, BPBD Lamongan telah mendistribusikan 3.158.000 liter air bersih selama periode akhir Juli hingga akhir Oktober 2026. Bantuan tersebut menjangkau 70 desa dan 157 dusun di 16 kecamatan untuk memenuhi kebutuhan 20.860 kepala keluarga.
Selain itu, BPBD Lamongan mencatat 59 kejadian bencana sepanjang Januari hingga September 2026. Kejadian tersebut terdiri atas 19 kekeringan, 13 pohon tumbang akibat cuaca ekstrem, delapan kecelakaan air, tujuh kebakaran rumah, enam banjir, empat rumah roboh, dan dua tanah longsor.
Samian menambahkan bahwa peta kerawanan dan wilayah terdampak terus diperbarui dengan menyesuaikan perkembangan kondisi wilayah, hasil pemantauan, serta data kejadian di lapangan.
"Pemetaan tersebut menjadi dasar dalam menentukan langkah kesiapsiagaan dan prioritas penanganan," katanya.
Sebelumnya, Bupati Lamongan Yuhronur Efendi sebelumnya meminta seluruh jajaran pemerintah daerah bersama pemangku kepentingan memperkuat kesiapsiagaan menghadapi potensi bencana hidrometeorologi pada musim hujan 2026-2027.
"Kami memperkuat koordinasi antar instansi, serta membentuk posko kesiapsiagaan," katanya.
Berdasarkan prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), musim hujan 2026-2027 diperkirakan datang lebih lambat dari kondisi normal sehingga potensi cuaca ekstrem perlu diwaspadai.
Ia menambahkan bahwa untuk mendukung mitigasi, Pemkab Lamongan telah melakukan normalisasi 40 titik waduk dan rawa dengan volume sekitar 300 ribu meter kubik serta normalisasi 262 titik kali sepanjang 214 kilometer.
"Upaya lainnya meliputi pemeliharaan drainase, penyiapan personel, peralatan, obat-obatan, dan bantuan pangan," katanya.