SALATIGA — Produsen makanan dan minuman olahan tradisional asal Salatiga, Jawa Tengah, PT Adarasa Putra Jaya (Adarasa), berhasil memperluas jangkauan pasarnya hingga ke kancah internasional.Kini, Adarasa aktif mengekspor berbagai produk berbasis bahan alami, dari gula kelapa, rempah-rempah, hingga bahan minuman seperti bubuk ubi ungu (ube), ke sejumlah negara meliputi Belanda, Swiss, Vietnam, dan Amerika Serikat.
Komisaris Adarasa Eunike Rusmiati menceritakan, bisnis ini bermula sekitar 50 tahun lalu dari produksi rumahan permen asam. Pengelolaan usaha tersebut kemudian diambil alih Eunike bersama suami, Edy Hasan, pada 1996.
"Waktu itu kami mencoba menjalankan usaha ini karena sayang jika tidak diteruskan. Kami mulai mengembangkan produk, mencari pasar, dan belajar memenuhi kebutuhan konsumen. Ketika permintaan semakin besar, kami juga harus memahami perizinan dan standar kualitas agar usaha bisa terus berkembang," cerita Eunike lewat keterangan tertulis, Rabu(4/11/2026).
Peluang pasar internasional mulai digarap Adarasa pada 2007, dengan Belanda sebagai negara tujuan ekspor pertama. Produk ekspor perdananya adalah gula kelapa. Guna menjaga kualitas dan kepercayaan pasar luar negeri, Adarasa mengolah secara mandiri bahan baku melibatkan ratusan petani lokal.
Presiden Direktur Adarasa Edy Hasan mengatakan,pihaknya memilih mengolah sendiri bahan baku agar kualitasnya sesuai dengan spesifikasi pembeli. Dalam bisnis ekspor, kepercayaan harus dijaga melalui kualitas produk dan konsistensi pasokan. “Karena itu, kami juga membina sekitar 120 petani gula kelapa agar bahan baku yang dihasilkan memenuhi standar yang dibutuhkan,”kata dia.
Kemampuan membaca peluang dan menyesuaikan produk dengan kebutuhan pasar membuka pasar baru bagi Adarasa. Pada 2020, perusahaan mulai memasok bubuk ube ke Amerika Serikat setelah mendapatkan permintaan dari Negeri Paman Sam. Berbekal pengalaman mengembangkan produk berbasis bahan alami, Adarasa berhasil memenuhi spesifikasi yang diminta.
Bersamaan dengan perkembangan tersebut, BCA hadir menjadi mitra strategis dalam menopang arus kas dan modal kerja Adarasa. Salah satu fasilitas yang dirasakan manfaatnya oleh Adarasa adalah kredit ekspor.
“Dalam kegiatan ekspor, kami harus membeli bahan baku dari petani secara tunai, sementara pembayaran dari pembeli di luar negeri terkadang baru diterima beberapa waktu kemudian. Dengan adanya fasilitas ini, kami bisa tetap memenuhi kebutuhan bahan baku dan menjaga produksi berjalan lancar tanpa harus menunggu pembayaran dari pembeli,” ujar Eunike.
Pembiayaan dari BCA juga membantu Adarasa meningkatkan kapasitas dan efisiensi produksi. Edy mengungkapkan, pada masa awal usaha, proses pengemasan minuman sachet masih dilakukan secara manual, mulai dari pengisian, penimbangan, hingga penyegelan. Kini, sebagian pekerjaan tersebut telah menggunakan mesin sehingga proses produksi menjadi lebih efisien.
Tidak hanya pembiayaan, sejak tahun 2023 Adarasa juga diikutsertakan dalam program BCA UMKM Go Export. Melalui program di bawah payung Bakti BCA ini, Perseroan mendampingi pelaku usaha secara bertahap, mulai dari meningkatkan kesiapan legalitas, sertifikasi dan perizinan produk internasional, hingga memperluas akses pasar dan mempertemukan mereka dengan calon pembeli.
Lewat program BCA UMKM Go Export, Adarasa kemudian diajak mengikuti berbagai pameran perdagangan internasional serta program business matching oleh BCA, di mana Adarasa berkesempatan bertemu calon pembeli dari berbagai negara dan membuka peluang untuk memperluas jangkauannya di pasar global.
"Kami mengapresiasi dukungan BCA, mulai dari pembiayaan hingga kesempatan mengikuti pameran dan business matching. Ini membuka peluang bagi kami untuk bertemu calon pembeli baru dan mengembangkan pasar ekspor," kata Edy.
EVP Corporate Communication & Social Responsibility BCA, Hera F. Haryn, mengatakan dukungan terhadap pelaku UMKM seperti Adarasa merupakan bagian dari komitmen BCA mendorong pertumbuhan sektor produktif dan memperkuat perekonomian nasional. Komitmen tersebut tercermin dari penyaluran kredit UKM BCA yang mencapai Rp149,2 triliun per September 2026, tumbuh 15,4% secara tahunan (YoY). Pertumbuhan ini menjadi bagian dari kredit produktif BCA yang secara total mencapai Rp831 triliun, meningkat 17,2% YoY.
“BCA melihat UMKM seperti Adarasa memiliki peran penting dalam menggerakkan perekonomian dan menciptakan nilai tambah bagi masyarakat. Karena itu, kami terus memperluas akses pembiayaan sekaligus menghadirkan berbagai solusi perbankan yang dapat mendukung kebutuhan usaha, mulai dari pengelolaan transaksi hingga pengembangan kapasitas bisnis. Kami berharap dukungan tersebut dapat membantu pelaku UMKM meningkatkan produktivitas, memperluas jangkauan pasar, serta mengembangkan usahanya secara berkelanjutan,” ujar Hera.