Jakarta, CNBC Indonesia - Emiten perbankan PT Bank MNC Internasional Tbk. (BABP) tengah menjadi sorotan imbas sejumlah nasabah menyuarakan kesulitan transaksi dan tarik dana di media sosial. Otoritas pengawas turut memberikan perhatian untuk masalah ini.
Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Dian Ediana Rae sebelumnya mengungkapkan kondisi MNC Bank usai muncul rumor bangkrut. Menurutnya, sejauh pengawasan OJK, tidak ada masalah serius di bank swasta tersebut.
"Bank ini tidak ada isu yang serius sama sekali. Tidak ada isu-isu yang terkait dengan solvensi dan lain sebagainya," kata Dian kepada wartawan di Makassar, Selasa (3/11/2026).
Terkait kemungkinan adanya masalah teknis maupun likuiditas yang menyebabkan nasabah gagal melakukan penarikan tunai, OJK berharap MNC bisa segera mengatasi isu yang ada. Sambil menunggu penyelesaian masalah tersebut, dia meminta masyarakat tetap tenang dan terus berkomunikasi dengan pihak bank.
Meskipun otoritas menegaskan tidak ada masalah serius, jika menilik laporan keuangan perseroan terlihat adanya penurunan nilai dana pihak ketiga (DPK) pada akhir September 2026 dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya.
Himpunan simpanan MNC Bank tercatat senilai Rp11,32 triliun per 30 September 2026, yang terdiri dari giro sebesar Rp1,20 triliun, tabungan Rp1,62 triliun, dan deposito Rp8,50 triliun. Secara total, DPK ini menyusut 17,13% YoY dari Rp13,66 triliun.
Secara persentase, jenis simpanan deposito mencatatkan penurunan terbesar yaitu 24,35% YoY atau senilai Rp2,74 triliun. Penyusutan deposito ini lebih besar dibandingkan dengan nilai penurunan DPK secara keseluruhan yang sebesar Rp2,34 triliun.
Jenis simpanan tabungan MNC Bank juga berkurang, tetapi tipis sebesar 0,51% YoY. Di sisi lain, jenis simpanan giro menebal 51,01% YoY menjadi Rp1,20 triliun, tetapi kenaikan ini belum mampu menutup penurunan di sisi deposito.
Pada periode yang sama, BABP membukukan laba bersih tahun berjalan senilai Rp46,63 miliar sepanjang 9 bulan tahun ini. Laba ini turun 22,78% secara tahunan (year-on-year/YoY).
Dilansir dari laporan keuangan kuartal III/2026, kenaikan beban bunga lebih tinggi dibandingkan dengan pendapatan bunga, yaitu 51,05% YoY dibandingkan dengan 6,52% YoY. Dari sini, pendapatan bunga bersih MNC Bank pun tertekan 44,52% YoY menjadi Rp389,76 miliar dari sebelumnya Rp434,29 miliar.
Pendapatan dari komisi turut mengalami pertumbuhan 56,59% YoY menjadi Rp100,3 miliar dari Rp43,71 miliar. Namun, keuntungan penjualan aset keuangan turun 42% menjadi Rp17,25 miliar.
Di sisi lain, pos beban mengalami pembengkakan, seperti beban tenaga kerja yang naik 9,51% YoY menjadi Rp184,45 miliar, kemudian beban promosi 3,83% YoY menjadi Rp17,93 miliar, dan beban lainnya naik 7,82% YoY menjadi Rp248,08 miliar.
Laba operasional BABP pun susut 18,12% YoY menjadi Rp52,42 miliar dengan laba non operasional Rp6,72 per akhir September 2026. Usai dikurangi pajak penghasilan, laba bersih perseroan pun tercatat Rp46,63 miliar, susut 13,8% YoY dari Rp60,39 miliar pada kuartal III tahun lalu.
Bank milik konglomerat Hary Tanoesoedibjo tersebut juga mencatatkan penurunan aset 8,29% YoY dari Rp20,49 triliun per akhir kuartal III/2026 menjadi Rp18,79 triliun. Meski demikian, kredit yang diberikan tumbuh 8,38% YoY dari Rp11,09 triliun menjadi Rp12,02 triliun.
[Gambas:Video CNBC]