WASHINGTON — Gelombang Islamofobia yang mewarnai politik Amerika Serikat tidak menyurutkan langkah warga Muslim untuk merebut ruang di panggung kekuasaan. Sebaliknya, pemilu sela AS pada 3 November 2026 justru mencatat rekor kemenangan politikus Muslim di berbagai tingkatan pemerintahan.
Council on American-Islamic Relations (CAIR) bersama CAIR Action melaporkan sedikitnya 97 kandidat Muslim berhasil memenangkan pemilihan di tingkat federal, negara bagian, hingga pemerintahan lokal. Mereka tersebar di 21 negara bagian, termasuk 38 kemenangan dalam pemilihan legislatif negara bagian.
Angka tersebut menjadi rekor baru dalam catatan CAIR. Jumlahnya meningkat sekitar 18 persen dibandingkan pemilu sela 2022 yang mencatat 82 kemenangan politikus Muslim.
Dalam laporan yang dirilis pada 5 November 2026, CAIR menyebut masih ada 15 kandidat Muslim yang unggul dalam penghitungan suara dan enam kandidat lainnya terlibat dalam persaingan ketat. Organisasi tersebut memperkirakan jumlah politikus Muslim yang terpilih akan melampaui 100 orang setelah seluruh suara dihitung.
Secara keseluruhan, CAIR dan CAIR Action melacak 168 kandidat Muslim yang maju dalam pemilihan tahun ini. Sebanyak 97 kandidat telah dipastikan menang, 50 kalah, sementara sisanya masih menunggu kepastian hasil.
Fenomena tersebut juga mendapat perhatian Imam Shamsi Ali, anggota Board of Directors Islamic Society of North America (ISNA). Dalam tulisannya di Republika berjudul Pemilu Amerika yang Paling Dinanti dan Paling Bersejarah, Shamsi menilai kemenangan para politikus Muslim tidak semata-mata menjadi keberhasilan komunitas Muslim.
“Bagi kami, Muslim di Amerika, kemenangan ini tidak kami pahami secara sempit sebagai kemenangan komunitas Muslim semata. Sebaliknya, ini adalah kemenangan bagi demokrasi dan nilai-nilai yang membuat Amerika menjadi besar dan hebat. Para tokoh anti-Islam, penyebar kebencian, dan politisi yang gemar memecah belah kini banyak yang terkalahkan,” tulis Shamsi Ali, Rabu (4/11/2026).
Shamsi menyoroti kemenangan tersebut sebagai titik balik bagi komunitas Muslim yang selama ini menghadapi tekanan dari kelompok politik anti-Islam. Dia mencontohkan Texas, negara bagian dengan pertumbuhan komunitas Muslim yang besar, tetapi juga memiliki dinamika politik yang diwarnai sentimen anti-Islam.
Menurut Shamsi, hasil pemilu kali ini memperlihatkan bahwa politik kebencian dan sentimen anti-imigran tidak selalu berujung pada kemenangan elektoral. Dia juga menyampaikan ucapan selamat kepada Abdul El-Sayed yang mencatat sejarah sebagai senator Muslim pertama di AS.
Sejumlah kemenangan bahkan mencatatkan sejarah baru dalam politik Amerika.
Abdul El-Sayed berhasil menjadi Muslim pertama yang terpilih sebagai anggota Senat Amerika Serikat. Politikus Partai Demokrat itu memenangkan kursi Senat dari Michigan.
Kemenangan El-Sayed sekaligus menjadi terobosan bagi representasi Muslim di lembaga legislatif tertinggi AS. Sebelumnya, sejumlah politikus Muslim telah menduduki kursi Dewan Perwakilan Rakyat (House of Representatives), tetapi belum pernah ada Muslim yang terpilih menjadi senator.
Nama lain yang mencuri perhatian adalah Adam Hamawy. Dokter bedah trauma tersebut menjadi Muslim pertama yang terpilih mewakili New Jersey di Kongres AS.
Hamawy memiliki pengalaman panjang dalam misi kemanusiaan. Dia pernah bertugas sebagai dokter bedah di Gaza dan sejumlah wilayah konflik lainnya. Pengalamannya menangani korban perang turut menjadi bagian penting dari rekam jejak publiknya.
Di New York, Aber Kawas mencatatkan sejarah sebagai perempuan Muslim pertama sekaligus warga keturunan Palestina pertama yang terpilih menjadi anggota Badan Legislatif Negara Bagian New York.
Sementara itu, sejumlah politikus Muslim yang sebelumnya telah dikenal di panggung nasional juga berhasil mempertahankan kursi mereka. Mereka antara lain Ilhan Omar dan Rashida Tlaib di DPR AS, serta Andre Carson dan Lateefah Simon.
Di Minnesota, Keith Ellison kembali memenangkan pemilihan sebagai jaksa agung negara bagian.
Kemenangan para politikus Muslim tersebut berlangsung di tengah meningkatnya sentimen anti-Muslim di Amerika. CAIR mencatat organisasi itu menerima 8.683 pengaduan terkait pelanggaran hak-hak sipil sepanjang 2025, jumlah tertinggi dalam sejarah pencatatan tahunan mereka.
Dalam survei sebelum pemilu yang dirilis pada Oktober 2026, CAIR juga menemukan 80 persen responden Muslim menilai sentimen anti-Muslim meningkat. Sebanyak 63 persen meyakini Muslim tidak memperoleh perlindungan yang setara berdasarkan undang-undang hak-hak sipil federal dibandingkan kelompok agama lainnya.
Namun, situasi tersebut tidak membuat partisipasi politik warga Muslim surut.
Palestina Menggerakkan Pemilih
Di balik rekor kemenangan politikus Muslim, isu Palestina menjadi salah satu faktor penting yang membentuk perilaku pemilih Muslim dalam pemilu sela kali ini.
Hal itu terlihat dalam survei keluar tempat pemungutan suara atau exit poll yang dirilis CAIR dan CAIR Action pada 4 November 2026.
Survei yang melibatkan 522 pemilih Muslim tersebut menemukan bahwa 80 persen responden menyatakan genosida di Gaza menjadi faktor besar yang memengaruhi pilihan mereka. Sebanyak 76 persen memasukkan Gaza dan hak-hak rakyat Palestina sebagai salah satu isu terpenting dalam pemilu.
Angka tersebut menunjukkan bahwa persoalan Palestina tidak lagi sebatas isu kebijakan luar negeri bagi sebagian pemilih Muslim Amerika. Perkembangan di Gaza turut menjadi pertimbangan ketika mereka menentukan wakil politik di dalam negeri.
Sikap terhadap perang AS-Israel melawan Iran juga ikut memengaruhi pilihan pemilih. Sebanyak 76 persen responden menyatakan perang tersebut menjadi faktor besar dalam menentukan pilihan mereka. Bahkan, 72 persen mengatakan suara mereka merupakan pesan untuk mencegah meluasnya perang di Timur Tengah.
Meski demikian, isu Palestina bukan satu-satunya pertimbangan. Persoalan ekonomi juga memiliki pengaruh besar. Sebanyak 80 persen responden menyatakan kondisi ekonomi menjadi faktor utama dalam menentukan pilihan politik mereka.
Survei tersebut juga menemukan meningkatnya Islamofobia justru mendorong partisipasi politik warga Muslim. Sebanyak 70 persen responden mengaku sentimen anti-Muslim membuat mereka lebih termotivasi untuk menggunakan hak pilih. Dari jumlah itu, 55 persen menyatakan Islamofobia membuat mereka jauh lebih terdorong untuk memilih.
Di antara responden yang memberikan suara, 80 persen mengaku memilih kandidat Partai Demokrat, sedangkan enam persen memilih Partai Republik.
CAIR menegaskan, hasil tersebut menunjukkan keterkaitan antara isu Gaza, perang di Timur Tengah, tekanan ekonomi, dan meningkatnya Islamofobia dengan pilihan politik pemilih Muslim.
Serangan Islamofobia Tak Menghentikan Kemenangan
Kemenangan El-Sayed dan Hamawy menjadi gambaran bagaimana isu identitas Muslim dan Palestina ikut mewarnai kontestasi politik Amerika.
Dalam pemilihan Senat Michigan, El-Sayed menghadapi serangan politik yang berusaha mengaitkannya dengan ekstremisme Islam. Pesaingnya, Mike Rogers, mantan anggota Kongres dari Partai Republik, berusaha membangun narasi mengenai dugaan hubungan El-Sayed dengan Ikhwanul Muslimin. El-Sayed membantah tuduhan tersebut dan tidak ditemukan bukti pendukung atas tudingan itu, menurut laporan Reuters.
El-Sayed juga menghadapi kritik karena menentang bantuan militer Amerika kepada Israel dan menyebut tindakan Israel di Gaza sebagai genosida. Namun, ia tetap berhasil memenangkan kursi Senat yang diperebutkan.
Sementara itu, Hamawy juga menghadapi serangan bernuansa Islamofobia selama kampanye. CAIR New Jersey menyebut kemenangan dokter yang pernah bertugas di Gaza itu berlangsung meski terdapat serangan terhadap karakter dan hubungan personalnya.
Direktur Eksekutif CAIR New Jersey Selaedin Maksut mengatakan komunitas Muslim dan para pendukungnya bergerak untuk memilih wakil yang dinilai bersedia memperjuangkan keadilan dan meminta pertanggungjawaban Israel atas tindakannya di Gaza.
CAIR dan CAIR Action menyebut kemenangan para kandidat Muslim sebagai penolakan pemilih terhadap berbagai serangan anti-Muslim yang mewarnai kampanye.
Organisasi tersebut juga mengingatkan para politikus Muslim yang terpilih agar menjalankan amanah untuk melayani seluruh konstituen, melindungi hak-hak sipil, serta memperjuangkan keadilan di dalam maupun luar negeri.
Dengan rekor kemenangan kali ini, keterwakilan Muslim di Amerika tidak lagi hanya terkonsentrasi di sejumlah daerah dengan populasi Muslim besar. Mereka kini hadir di berbagai lembaga pemerintahan, mulai dari Kongres, legislatif negara bagian, pengadilan, pemerintahan kota, hingga dewan pendidikan.
Bagi CAIR, hasil pemilu sela 2026 menunjukkan bahwa serangan terhadap identitas Muslim tidak berhasil menghentikan partisipasi politik komunitas tersebut. Sebaliknya, warga Muslim semakin memperluas keterlibatan mereka dalam menentukan arah politik Amerika.