Jakarta, CNBC Indonesia - Ancaman bom palsu mengganggu puluhan penerbangan penumpang di seluruh Eropa Kamis. Hal ini memaksa sejumlah pesawat melakukan pendaratan darurat sampai memicu pengerahan jet tempur untuk mengawal atau mencegat pesawat lainnya.
Peristiwa ini menandai eskalasi dramatis menyusul gelombang ancaman serupa yang terjadi awal pekan ini. Sebelumnya delapan negara Eropa melaporkan serangan ke supermarket di sejumlah daerah membuat berton-ton makanan dibuang.
Mengutip Reuters Jumat (6/11/2026), serangkaian ancaman bom tidak biasa ini berdampak pada hampir 30 penerbangan hingga Kamis malam. Selasa, tujuh penerbangan dan sebuah kapal pesiar juga menerima ancaman palsu pada hari Selasa.
Belum ada pemerintah yang mengungkapkan pihak di balik ancaman tersebut. Hingga berita diturunkan, belum ada klaim tanggung jawab yang dapat diverifikasi.
Sementara itu, para pakar keamanan menyatakan bahwa ancaman ini mungkin dilakukan oleh individu yang memiliki keluhan pribadi atau sekadar meniru tindakan pihak lain. Namun ini juga mirip dengan ciri-ciri "serangan hibrida" yang lebih terkoordinasi.
"Dalam situasi seperti ini, atau dalam bentuk serangan sabotase lainnya, sangat sulit untuk membuktikan keterlibatan negara tertentu. Namun, hal ini sesuai dengan modus operandi yang ada," ujar kepala kelompok keamanan penerbangan Dyami, Eric Schouten.
Di sisi lain, banyak pejabat Eropa menuding Rusia sebagai dalang di balik berbagai aksi sabotase dan serangan hibrida sejak invasi ke Ukraina pada tahun 2022. Serangan semacam ini sering kali berbiaya murah, mudah untuk disangkal, dan diperkirakan tidak akan memicu respons bersenjata.
Negara-negara yang terdampak gangguan pada hari Kamis, seperti Denmark, Polandia, dan Rumania, sebelumnya secara langsung menuduh Moskow berada di balik serangan hibrida. Jerman juga menyalahkan Rusia atas serangan di bandara Leipzig pada bulan Agustus lalu.
Di masa lalu, Inggris pun pernah menuding Rusia, mengaitkan Iran dengan dugaan rencana serangan terhadap pangkalan udara Amerika Serikat (AS). Baik Rusia maupun Iran telah membantah tuduhan-tuduhan tersebut.
Melalui Email
Sementara itu, seorang sumber di bandara Italia mengungkapkan kepada Reuters bahwa sebuah email dengan subjek "Laporan Ancaman" (Threat Report) telah dikirimkan ke sejumlah maskapai penerbangan, operator bandara, dan penyedia layanan bandara di Bandara Fiumicino, Roma, serta Bandara Malpensa, Milan.
Surel tersebut, yang mengklaim berasal dari kelompok yang menamakan diri "pejuang Male State". Mereka menyatakan bahwa sejumlah perangkat telah dipasang di pesawat yang terbang dari Helsinki dan Dublin, dan perangkat tersebut akan meledak dalam waktu 60 menit.
"Hari ini langit kalian akan berubah menjadi merah," tulis surel tersebut.
Sejauh ini, belum ada yang mengonfirmasi secara independen siapa yang mengirim surel tersebut. Hingga sekarang belum ada petunjuk mengenai pihak di balik ancaman-ancaman lain di seluruh Eropa.
Gerakan "Male State"
Male State sebenarnya memang ada. Pendirinya adalah blogger asal Rusia, Vladislav Pozdnyakov, seorang anti-feminis.
Namun ia mengatakan "Male State" yang dibuat 2016 sudah tak ada lagi. Kelompok itu sudah dilarang di Rusia dan sama sekali tidak terlibat dalam kejadian ini.
"Siapa pun yang saat ini mendalangi provokasi di negara-negara Uni Eropa dengan menggunakan 'merek' ini, mereka bertindak demi kepentingan pribadi-pada dasarnya mereka menggunakan panji milik pihak lain," tulisnya di saluran Telegram miliknya yang memiliki banyak pengikut.
Jet Tempur Turun
Di Prancis, kantor Perdana Menteri (PM) Sebastien Lecornu menyatakan bahwa pihaknya telah mengerahkan jet tempur untuk mencegat penerbangan Aer Lingus dari Dublin menuju Roma. Jet tempur itu juga turut mengawalnya ke pangkalan angkatan udara di Evreux, setelah sang pilot tidak bekerja sama dengan pihak berwenang sebagaimana mestinya.
Hal sama juga dilakukan angkatan Udara Bulgaria. Jet tempur mereka telah mengawal tiga pesawat penumpang hingga mendarat.
Salah satu penerbangan Ryanair dari London menuju Sofia dialihkan ke Plovdiv, kota terbesar kedua di Bulgaria. Badan intelijen Rumania melaporkan bahwa sebuah penerbangan KLM tujuan Tel Aviv, yang dijadwalkan singgah di Bukares, menerima ancaman bom.
Kepolisian Spanyol melaporkan adanya tiga ancaman melalui surel dalam kurun waktu 20 menit, yang menyasar dua penerbangan Air Europa dari Madrid menuju Paris serta empat penerbangan masuk maskapai Iberia dari Roma dan Milan. Beberapa pesawat di Madrid dihentikan atau diarahkan kembali ke tempat parkir pesawat (apron), dan para penumpang diminta turun sementara pesawat diperiksa.
Di Warsawa, sebuah penerbangan LOT tujuan Paris dihentikan saat sedang melaju di landasan pacu (taxiing) menuju lokasi lepas landas, dan para penumpang dipindahkan ke pesawat lain. Sementara itu, kepolisian Denmark menyatakan bahwa dua pesawat telah diperiksa di bandara Kopenhagen.
Penerbangan lain yang menerima ancaman-termasuk layanan dari EasyJet, Finnair, LOT, Wizz Air, Ryanair, dan Air Serbia dengan tujuan Praha, Sofia, Wina, Brussel, Bukares, Roma, dan Milan-tetap mendarat sesuai jadwal. Namun beberapa di antaranya juga mendapatkan pengawalan dari militer.
"Awalnya, kami dibawa ke lokasi yang jauh dari terminal... jauh di landasan pacu. Pesawat itu dikelilingi oleh mobil pemadam kebakaran, ambulans, dan unit antiteror," ujar Elena Pala, seorang penumpang dalam penerbangan Wizz Air dari Milan, menceritakan apa yang terjadi saat pesawat mendarat di Bukares, Rumania.
"Saya bertanya apa yang sedang terjadi. Mereka hanya mengatakan ada situasi darurat. Hanya itu yang mereka sampaikan," tambah Pala.
[Gambas:Video CNBC]