Nasional

Eropa Larang Impor Gas Rusia, Gazprom Ungkap Cadangan Jerman Anjlok di Bawah 60 Persen

Eropa Larang Impor Gas Rusia, Gazprom Ungkap Cadangan Jerman Anjlok di Bawah 60 Persen

JAKARTA -- Kebijakan Uni Eropa menghentikan impor gas Rusia secara bertahap menghadapi ujian menjelang musim dingin 2026–2027. Perusahaan energi Rusia, Gazprom, mengungkapkan bahwa tingkat keterisian fasilitas penyimpanan gas bawah tanah di Jerman telah merosot ke bawah 60 persen. Kondisi tersebut terjadi ketika negara-negara Eropa mencatat lonjakan penarikan gas dari cadangan bawah tanah dan menghadapi ketidakpastian pasokan energi internasional.

Gazprom menyebut situasi di Jerman sebagai perkembangan yang tidak biasa untuk pekan pertama November. Jerman merupakan negara dengan kapasitas penyimpanan gas terbesar di Uni Eropa sekaligus salah satu konsumen energi utama kawasan. Penurunan persediaannya menjadi perhatian karena negara tersebut membutuhkan pasokan besar untuk menggerakkan industri, pembangkit energi, serta sistem pemanasan selama musim dingin.

Menurut laporan surat kabar bisnis Rusia Vedomosti, Ahad (8/11/2026), Gazprom mengungkapkan bahwa penarikan gas dari fasilitas penyimpanan bawah tanah Eropa pada Jumat (6/11/2026) mencetak rekor tertinggi untuk tanggal kalender yang sama sepanjang periode pengamatan.

Mengutip data Gas Infrastructure Europe (GIE), Gazprom menyatakan jumlah gas yang dikeluarkan dari fasilitas penyimpanan pada 6 November melampaui rekor sebelumnya sebesar 83 juta meter kubik atau 23,9 persen. Angka tersebut merupakan tambahan volume dibandingkan rekor terdahulu pada tanggal yang sama, bukan keseluruhan gas yang ditarik selama satu hari.

Perusahaan energi Rusia itu mengingatkan bahwa peningkatan konsumsi gas dari fasilitas penyimpanan dapat mempercepat penyusutan cadangan apabila berlangsung terus-menerus. Gazprom juga mencatat serangkaian rekor penarikan gas untuk tanggal masing-masing pada 28–29 Oktober serta 1, 2, 4, dan 5 November.

Dalam penilaian Gazprom, tingkat keterisian penyimpanan gas Jerman yang turun di bawah 60 persen merupakan kondisi luar biasa pada awal November. Pernyataan tersebut menambah perhatian terhadap kemampuan Eropa mempertahankan pasokan energi selama musim dingin ketika impor gas Rusia sedang dibatasi secara bertahap.

Namun, data persediaan yang rendah belum berarti Jerman mengalami kekurangan gas. Regulator energi Jerman menyatakan bahwa pasokan tetap stabil karena kebutuhan negara tersebut juga dipenuhi melalui jaringan pipa, terminal gas alam cair, dan perdagangan energi internasional.

Cadangan Jerman Merosot Tajam

Data GIE yang dihimpun melalui platform Aggregated Gas Storage Inventory atau AGSI+ memperlihatkan bahwa fasilitas penyimpanan gas Jerman terisi sekitar 59,54 persen pada 6 November 2026. Angka sementara tersebut menurun 0,43 poin persentase dibandingkan sehari sebelumnya yang masih berada pada tingkat 59,97 persen.

Penurunan tersebut menjadi semakin mencolok jika dibandingkan dengan kondisi tahun lalu. Pada 6 November 2025, tingkat keterisian penyimpanan gas Jerman mencapai 75,15 persen. Artinya, persediaan pada tanggal yang sama tahun ini berada 15,61 poin persentase lebih rendah.

Berdasarkan kapasitas penyimpanan yang tersedia, cadangan gas Jerman pada 6 November diperkirakan mencapai sekitar 147 terawatt-jam. Jumlah itu menunjukkan volume energi yang masih tersimpan, bukan keseluruhan gas yang dapat dikonsumsi Jerman selama musim dingin.

Reuters pada Selasa (3/11/2026) sebelumnya melaporkan bahwa Jerman memasuki musim pemanasan dengan tingkat penyimpanan gas terendah yang tercatat untuk periode tersebut. Pada 2 November, fasilitas penyimpanan negara itu baru terisi 61,05 persen, jauh di bawah rata-rata Uni Eropa yang mencapai 74,56 persen.

Jerman juga gagal mencapai target keterisian penyimpanan rata-rata sekitar 70 persen yang ditetapkan untuk awal November. Pemerintah setempat sebelumnya berharap persediaan dapat mencapai tingkat tersebut agar tersedia cadangan memadai ketika kebutuhan pemanasan rumah tangga meningkat.

Perkembangan terbaru memperlihatkan kesenjangan yang semakin besar antara persediaan Jerman dan kawasan Uni Eropa secara keseluruhan. Data GIE untuk 6 November menunjukkan tingkat keterisian penyimpanan gas Uni Eropa masih berada di kisaran 73 persen, sedangkan Jerman telah turun di bawah 60 persen.

Posisi Jerman memiliki pengaruh besar terhadap pasar energi kawasan karena negara tersebut menguasai lebih dari seperlima kapasitas penyimpanan gas Uni Eropa. Jerman juga menjadi pusat manufaktur yang menggunakan gas alam sebagai bahan bakar industri dan sumber energi dalam berbagai proses produksi.

Ketika persediaan menurun, perusahaan energi perlu mempertimbangkan pengadaan gas tambahan melalui jaringan pipa maupun pasar LNG internasional. Langkah tersebut bergantung pada harga komoditas, kesiapan infrastruktur, serta ketersediaan pasokan dari negara-negara produsen.