Gen Z Menolak Diam
Mereka tidak membawa senjata, hanya ponsel, poster, dan 3 jari yang diacungkan ke langit tapi pemerintah di berbagai negara mulai gemetar,karena generasi yang sering disebut “apatis” tiba-tiba turun ke jalan.
Dari Paris, Berlin, Amsterdam, hingga Jakarta, gelombang protes yang dipimpin anak muda menjadi sorotan dunia, di Prancis protes yang berawal dari pelajar menyebar ke universitas, serikat pekerja yang tergabung dalam gerakan Yellow Vest.
Dengan isu biaya hidup, kondisi sekolah, dan respons keras aparat, di Jerman gerakan “Gen Z regelt” menggerakkan aksi di belasan kota.
Menyuarakan isu biaya hidup, pendidikan yang kurang memadai, krisis iklim, hingga rencana kembalinya wajib militer, di Indonesia, simbol 3 jari muncul dalam aksi mahasiswa dan masyarakat sipil pada 28 Oktober 2026 kemarin.
Bertrand Bissuel Jurnalis Le Monde menjelaskan, pada 5 Oktober 2026 aliansi pelajar sekolah menengah turun ke jalan setelah aksi demo buruh akhir September 2026 di Paris.
Dalam artikel berjudul “French students, unions and Yellow Vest protestors bet on common front in new strike” itu dijelaskan bahwa demonstrasi di Prancis semakin meluas.
Pada Kamis 5 November 2026 serikat buruh kembali turun ke jalan, mereka menyuarakan tuntutan peningkatan upah minimum, negosiasi upah minimum untuk buruh, perlindungan layanan publik, dan lapangan kerja.
Kenapa Gen Z Marah?
Gen Z bukan generasi yang tiba-tiba “mudah terprovokasi” mereka tumbuh di tengah 3 krisis yang saling menguatkan yakni: krisis ekonomi, krisis iklim, dan krisis kepercayaan terhadap lembaga negara.
Pertama biaya hidup naik lebih cepat daripada harapan hidup dan kondisi ekonomi mereka, banyak anak muda merasa bekerja keras tetapi tetap sulit membeli rumah, melanjutkan pendidikan, atau merencanakan masa depan.
Di Jerman kesenjangan kaya-miskin dan perubahan iklim menjadi keluhan utama para demonstran muda, di India pengangguran massal dan terbatasnya mobilitas sosial menjadi latar kemarahan Gen Z.
Kedua Gen Z merasa mewarisi masalah yang bukan sepenuhnya ciptaan mereka krisis iklim, utang, ketimpangan, dan lemahnya layanan publik.
Ethan Teekah Penulis Jurnal Britannica menjelaskan pada akhir 2025 demonstrasi besar-besaran terjadi di Kathmandu Nepal, Antananarivo Madagaskar, Rabat , Maroko, Lima Peru, sampai Istanbul Turki.
Semuanya melibatkan anak-anak muda Gen Z sebagai penggerak aksi hingga mayoritas demonstran, dalam beberapa kasus mereka bahkan berhasil menggulingkan pemerintahan.
Ketika kebijakan tampak lebih mengutamakan kepentingan elite atau jangka pendek, protes menjadi cara paling terlihat untuk berkata: “Kami tidak setuju.”
Ketiga kepercayaan terhadap institusi melemah bagi banyak anak muda media arus utama, partai politik, birokrasi dianggap lambat dan tidak transparan, mereka lebih percaya pada informasi yang tersebar di X, TikTok, dan pengalaman langsung teman-temannya.
Media Sosial dan Perlawanan Gen Z
Inilah pembeda antara protes Gen Z dibanding aksi massa yang dilakukan generasi sebelumnya aksi tidak lagi hanya dirancang di ruang rapat atau kantor serikat pekerja, tetapi juga di linimasa media sosial.
Hashtag, video viral, live streaming, dan meme membuat isu lokal dapat berubah menjadi narasi global dalam hitungan jam, BBC mencatat bahwa protes pemuda di Eropa banyak diorganisasi melalui TikTok dan Instagram.
Konten-konten viral membantu gerakan memperoleh momentum dengan cepat, dari perspektif komunikasi politik ini adalah peristiwa besar yang membuktikan kekuasaan bukan milik pemerintah tapi milik rakyat yang bersatu.
Jeans Thurau Jurnalis DW.com menjelaskan, pada Kamis 28 Oktober kemarin di saat para politisi dan pejabat pemerintah Prancis berkantor seperti biasa terjadi demo besar di berbagai kota.
Sebuah gerakan perlawanan rakyat yang bertajuk “Gen Z Regelt” memadati jalanan, sebelum massa turun ke jalan mereka telah menyerukan di media sosial.
Kampanye di ruang digital yang dilakukan secara sistematis dan masif, menyerukan kepada seluruh rakyat Prancis untuk turun ke jalan menggelar aksi protes di 23 kota.
Mereka Gen Z menggunakan aksi digital di media sosial dan aksi jalanan sebagai satu kesatuan bukan 2 dunia terpisah, mereka juga menggabungkan protes serius dengan budaya populer, film, anime, musik, dan meme.
Karena itu peran Gen Z bukan sekadar “peserta demo” mereka menjadi produser narasi, orator digital, kreator simbol, dan penggerak opini publik.
Filosofi Simbol 3 Jari
Simbol 3 jari telunjuk, jari tengah, dan jari manis diangkat sementara ibu jari serta kelingking dilipat kini menjadi tanda universal perlawanan dan solidaritas, simbol ini berasal dari film berjudul The Hunger Games.
Dalam cerita tersebut gestur 3 jari awalnya berarti terima kasih, penghormatan, dan perpisahan, namun seiring cerita berjalan ia berubah menjadi lambang pemberontakan rakyat terhadap Capitol yang otoriter.
Di dunia nyata simbol ini pertama kali dipakai aktivis pro-demokrasi Thailand setelah kudeta militer Mei 2014, kemudian dipakai demonstrasi Hong Kong pada 2014.
Lalu menjadi ikon perlawanan terhadap kudeta militer Myanmar pada 2021, di Thailand simbol 3 jari jari juga dikaitkan dengan cita-cita Revolusi Prancis: liberté, égalité, fraternité: kebebasan, kesetaraan, dan persaudaraan.
Nola Vemiliana Jurnalis Liputan6.com menjelasakan, simbol 3 jari (three fingers) pertama kali muncul di adegan saat perpisahan penduduk Distrik 12 dengan Katniss yang hendak dibawa oleh Capitol.
Seiring berjalannya alur film The Hunger Games, gesture 3 jari berubah menjadi simbol kemarahan, perlawanan, dan kesedihan yang dirasakan rakyat akibat kekuasaan pemerintah Capitol.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.