sekarang kita beralih dari yang profit-oriented jadi ke social business
Bandung (ANTARA) - Jarum jam baru saja beranjak dari angka delapan pagi ketika suasana sebuah rumah asri di Jalan Jati 35, Paledang, Kota Bandung, mulai menggeliat hidup.
Di salah satu sudut ruangan cukup besar yang disulap menjadi bengkel kerja bernama PUKA Creative House tersebut, seorang pemuda berusia 27 tahun, Aulia Rafi Rahmani, tampak tekun membentuk pola dan memberi warna pada desain di perangkat kerjanya untuk memenuhi pesanan kartu merchandise sebuah BUMN energi.
Sesekali bibirnya menyunggingkan senyum simpul saat melihat deretan elemen gambar yang baru ia selesaikan. Tampakanya, pria penyandang autisme yang tinggal di kawasan Ancol, Bandung, itu telah menemukan "rumah keduanya" sejak bergabung pada November 2024.
Bagi pemuda yang kini dipercaya menjaga gerai resmi PUKA di kawasan The Park itu, rutinitas merangkai kriya bukan sekadar pengisi waktu luang setelah lulus dari bangku sekolah khusus. Tapi panggung eksistensi diri yang memberinya kebanggaan, sekaligus penghasilan.
"Gabung di sini enak banget, senang. Kata mama daripada di rumah terus. Dapat gaji juga, semuanya di dompet," kata Rafi dengan mata berbinar menceritakan kebanggaan orang tua pada dirinya.
Harapan Rafi sederhana namun tulus, yaitu ingin terus membuat gelang, bando, cincin, dan hiasan bunga yang bagus-bagus bersama rekan-rekan kerjanya.
Tak jauh dari tempat Rafi berkarya, tiga perempuan tangguh penyandang disabilitas rungu, Anisa (34), Risna (43), dan Heni (43), tengah sibuk memilah manik-manik, memotong pola kain, dan merajut benang dengan teliti.
Ketiganya telah mengabdi selama lima hingga enam tahun di PUKA, menjadikan keheningan dunia mereka sebagai kekuatan fokus visual luar biasa untuk melahirkan produk-produk kriya berkualitas ekspor.
Dalam senyap yang produktif itu, deru mesin jahit listrik juga sesekali terdengar memberi irama suasana, menyatukan berbagai bahan untuk dijadikan tas, pakaian dan lainnya.
Di balik harmoni inklusif tersebut, berdiri sosok perempuan muda nan ceria, Dessy Nur Anisa Rahma, pendiri sekaligus CEO PUKA, yang pada satu dekade lalu memutuskan untuk mengubah arah bisnisnya dari sekadar mengejar keuntungan menjadi kewirausahaan sosial yang memanusiakan manusia.

Awal mula