Jakarta, CNBC Indonesia - Harga saham PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) masih belum pulih dari tekanan meski perusahaan telah mencetak laba bersih selama tiga kuartal berturut-turut. Namun GOTO melakukan pembatalan saham tresuri dan buyback saham untuk memberikan manfaat ke pemegang saham.
Pembatalan tersebut telah mendapat persetujuan pemegang saham melalui RUPSLB pada 14 Oktober 2026 dan akan diselesaikan setelah proses yang dipersyaratkan terpenuhi. Setelah dibatalkan, saham treasuri itu dihapus dari jumlah saham yang diterbitkan.
"Bagi investor, manfaatnya konkret. Jumlah saham yang mereka pegang tetap sama, tetapi persentase kepemilikannya terhadap total saham naik karena jumlah saham perusahaan berkurang. Ini dilakukan saat GOTO sudah cetak laba bersih," ujar Abdul Azis, Analis Kiwoom Sekuritas, seperti dikutip Kamis (5/11/2026).
Ia menjelaskan, buyback sebelumnya telah mengurangi saham yang beredar di publik, sementara pembatalan membuat pengurangan itu permanen.
Dengan menghapus saham treasuri, perusahaan menghilangkan kemungkinan saham tersebut kembali menjadi pasokan di pasar, sehingga mengurangi potensi overhang di masa mendatang sekaligus mempertahankan manfaat kepemilikan dari buyback.
"Strategi ini relevan ketika fundamental perusahaan membaik, tetapi valuasinya masih tertinggal." tambahnya.
Ia juga menyoroti saham GOTO yang saat ini diperdagangkan dengan diskon sekitar 75% terhadap perusahaan sejenis dilihat dari pendekatan valuasi nilai perusahaan terhadap EBITDA atau EV/EBITDA. Saham GOTO diperdagangkan di 3,3x EV/EBITDA sedangkan rata-rata perusahaan ODS & Fintech peers di 13-14x EV/EBITDA
"Harga di pasar saat ini memang belum sepenuhnya mencerminkan perubahan kemampuan perusahaan menghasilkan laba dan kas," katanya.
Abdul Azis menjelaskan dibandingkan perusahaan internet lain yang tercatat di BEI, GOTO menunjukkan pencapaian laba yang paling konsisten. Bottom line sudah positif, ditopang bisnis inti dan model ekosistem yang terbukti berjalan. Ini menjadi landasan untuk menilai prospek perusahaan dalam jangka panjang.
Perbaikan tersebut terlihat dari pencapaian laba bersih selama tiga kuartal berturut-turut. Pada kuartal III-2026, GOTO membukukan laba bersih Rp441 miliar, memperpanjang tren profitabilitas di tengah tantangan pada sebagian bisnisnya.
Kinerja Fintech GoPay menjadi penopang laba di tengah tekanan yang dihadapi On-demand Services (ODS) Gojek.
"Hasil ini dicapai di tengah berbagai tantangan dalam beberapa bulan terakhir," ujar Direktur Utama GOTO, Hans Patuwo.
Keterhubungan layanan transportasi, pengantaran, pembayaran, dan keuangan menjadi kekuatan fundamental jangka panjang GOTO.
Ekosistem tersebut membuka peluang meningkatkan frekuensi transaksi dan penggunaan lintas layanan, dengan keberlanjutan pertumbuhan tetap bergantung pada disiplin biaya, persaingan, serta pengelolaan risiko kredit.
Keberlanjutan laba menjadi dasar bagi peluang penilaian ulang saham GOTO, sementara pembatalan saham treasuri mempermanenkan manfaat kepemilikan dari buyback.
Kombinasi tersebut memperkuat alasan untuk mencermati kesenjangan antara valuasi dan fundamental, meski waktu serta besarnya penyesuaian harga tetap bergantung pada kondisi pasar.
[Gambas:Video CNBC]