Nasional

Indonesia berpeluang pertahankan surplus perdagangan hingga akhir 2026

Indonesia berpeluang pertahankan surplus perdagangan hingga akhir 2026

Jakarta (ANTARA) - Peneliti Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Yusuf Rendy Manilet menilai Indonesia berpeluang mempertahankan surplus perdagangan hingga akhir 2026 meskipun nilai surplus sepanjang Januari-September menyusut tajam dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Yusuf, saat dihubungi di Jakarta, Rabu, menilai surplus perdagangan masih berpeluang terjaga secara tahunan, meskipun nilainya diperkirakan lebih rendah dibandingkan tahun lalu.

“Risiko penyusutan masih cukup besar karena pada kuartal IV biasanya impor meningkat, terutama untuk kebutuhan energi dan konsumsi menjelang akhir tahun,” kata dia.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat surplus perdagangan Indonesia mencapai 10,61 miliar dolar AS sepanjang Januari-September 2026, turun dari 33,48 miliar dolar AS pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Penyusutan surplus terjadi ketika laju impor tumbuh 19,67 persen secara tahunan menjadi 210,63 miliar dolar AS, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekspor sebesar 5,58 persen menjadi 221,23 miliar dolar AS.

Yusuf memperkirakan risiko penyusutan surplus masih cukup besar pada sisa tahun ini.

Menurutnya, peningkatan impor untuk kebutuhan energi dan konsumsi menjelang akhir tahun berpotensi menambah tekanan, sementara harga sejumlah komoditas ekspor utama belum memberikan dorongan yang cukup kuat.

Untuk menjaga kinerja perdagangan, Yusuf menilai pemerintah perlu memperkuat ekspor melalui pengembangan manufaktur bernilai tambah, diversifikasi pasar tujuan ekspor, serta peningkatan efisiensi logistik.

Selain itu, penguatan industri antara domestik, seperti petrokimia, baja, dan komponen manufaktur juga menurutnya diperlukan untuk mengurangi ketergantungan terhadap bahan baku impor tanpa menghambat kebutuhan produksi industri.