Politik

Kemenag Ingin PTKIN Kembangkan Hilirisasi Teknologi, OASE III Jadi Panggung Inovasi

Kemenag Ingin PTKIN Kembangkan Hilirisasi Teknologi, OASE III Jadi Panggung Inovasi

YOGYAKARTA -- Kebangkitan tradisi keilmuan Islam tidak cukup berhenti pada penguasaan ilmu agama. Perguruan tinggi Islam juga dituntut melahirkan ilmuwan yang mampu mengembangkan sains, menciptakan teknologi, dan mengubah hasil riset menjadi solusi bagi kebutuhan masyarakat.

Pesan ini mengemuka dalam penyelenggaraan Olimpiade Agama, Sains, dan Riset (OASE) III PTKIN 2026 di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Menteri Agama Nasaruddin Umar mengatakan, penguasaan sains dan teknologi merupakan salah satu kunci untuk mengembalikan kejayaan peradaban Islam. Karena itu, Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) perlu memperkuat tradisi penelitian sekaligus mengambil peran dalam pengembangan teknologi hilirisasi.

"Kalau kita ingin meraih kembali kejayaan ilmu dalam sejarah Islam, kita harus menguasai ilmu pengetahuan. Penguasaan sains dan teknologi sangat penting," katanya saat membuka OASE III PTKIN 2026 di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Rabu (4/11/2026).

Menag menyampaikan, sejarah peradaban Islam menunjukkan kemajuan ilmu pengetahuan tumbuh dari kemampuan para ilmuwan menghubungkan pemahaman keagamaan dengan pengamatan terhadap persoalan kehidupan. Pengetahuan tidak hanya dikembangkan sebagai teori, tetapi juga diterapkan untuk menjawab kebutuhan manusia, seperti penyediaan air dan pelayanan kesehatan.

Tradisi tersebut, kata Nasaruddin, perlu kembali diperkuat di lingkungan perguruan tinggi. Kampus harus menjadi tempat tumbuhnya keberanian bertanya, ketekunan melakukan penelitian, serta kemampuan menghasilkan inovasi yang memberikan manfaat nyata.

Salah satu peluang yang perlu dikembangkan PTKIN adalah teknologi hilirisasi. Menag mendorong perguruan tinggi Islam ikut berkontribusi dalam meningkatkan nilai tambah sumber daya Indonesia melalui pengembangan teknologi dan riset terapan.

"UIN dan perguruan tinggi keagamaan di bawah Kementerian Agama perlu berperan dalam pengembangan teknologi hilirisasi tersebut, tentu bersama perguruan tinggi umum juga," ujarnya.

Dorongan tersebut sekaligus memperluas orientasi pengembangan PTKIN. Perguruan tinggi Islam tidak hanya dituntut menghasilkan lulusan yang unggul secara akademik dan keagamaan, tetapi juga ilmuwan, peneliti, serta inovator yang mampu berkontribusi dalam pembangunan nasional.

Menag mengingatkan, kemajuan teknologi juga harus berjalan seiring dengan penguatan etika. Perkembangan kecerdasan artifisial (AI), misalnya, perlu disikapi dengan tanggung jawab agar kemampuan teknologi tidak justru menimbulkan persoalan baru bagi kemanusiaan.

"Jangan sampai ilmu pengetahuan berkembang tanpa bimbingan nilai dan tanggung jawab. Kemampuan yang besar dapat membawa akibat yang merusak apabila digunakan dengan cara yang salah," pesannya.

Dalam kesempatan ini, Nasaruddin mengapresiasi gelaran  OASE III PTKIN 2026 yang kembali diselenggarakan pada 3–7 November 2026. Ia berharap gelaran ini menjadi panggung pertemuan talenta mahasiswa dari berbagai daerah di Indonesia. 

"Adanya Oase menjadi ruang untuk berkompetisi dan meningkatkan kapasitas anak-anak bangsa, membuktikan kualitas mereka," ungkapnya.

Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama, Amien Suyitno juga menyebut OASE sebagai salah satu instrumen strategis untuk memperkuat integrasi ilmu agama, sains, dan riset di lingkungan PTKIN.

Ia berharap kompetisi ini tidak sekadar melahirkan mahasiswa berprestasi, tetapi juga menjadi ruang pembinaan calon ilmuwan Muslim yang memiliki kedalaman pemahaman agama sekaligus kemampuan mengembangkan ilmu pengetahuan modern.

"OASE mencita-citakan lahirnya Ibnu Sina-Ibnu Sina baru, Ibnu Rusyd-Ibnu Rusyd baru," ungkap Suyitno.

Menurutnya, cita-cita tersebut membutuhkan ekosistem akademik yang mendukung pengembangan talenta mahasiswa secara berkelanjutan. Setiap PTKIN perlu menemukan kekhasan dan keunggulan masing-masing, baik melalui penguatan reputasi riset, integrasi ilmu agama dan sains, pengembangan teknologi, maupun kepedulian terhadap lingkungan.

Suyitno mencontohkan UIN Maulana Malik Ibrahim Malang yang mengembangkan perpaduan tradisi Ma’had Al-Jami’ah, ilmu agama, dan sains. Sementara UIN Raden Intan Lampung menunjukkan penguatan karakter kampus berwawasan lingkungan melalui capaian dalam pemeringkatan UI GreenMetric.

Ia juga mengapresiasi UIN Sunan Kalijaga sebagai tuan rumah OASE III PTKIN 2026 yang mencatatkan capaian dalam Times Higher Education World University Rankings 2026. Selain penguatan prestasi akademik, Suyitno meminta perguruan tinggi lebih aktif mendokumentasikan capaian mahasiswa melalui Pusat Prestasi Nasional (Puspresnas). Dengan demikian, berbagai inovasi dan prestasi PTKIN dapat tercatat serta memperoleh pengakuan lebih luas.

"Dunia harus tahu itu, dan caranya para Wakil Rektor III harus aktif mengisi aplikasi Puspresnas," ujarnya.

OASE III PTKIN 2026 ini diikuti 497 finalis dari 54 PTKIN yang berhasil lolos seleksi dari total 1.592 peserta.

Para finalis akan berkompetisi dalam 18 cabang perlombaan yang terbagi dalam tiga klaster, yakni agama, sains, dan riset. Klaster agama diikuti 221 peserta, klaster sains 109 peserta, sedangkan klaster riset diikuti 167 peserta.

Pada klaster sains, mahasiswa berkompetisi dalam bidang matematika, fisika, biologi, kimia, robotik, serta desain arsitektur Islam. Sementara klaster riset menghadirkan bidang yang berorientasi pada kebutuhan masa depan, seperti nanoteknologi dan kesehatan, teknologi produk halal dan ketahanan pangan halal, ekoteologi, konservasi energi untuk kampus hijau mandiri energi, serta virtual trading.

Selain kompetisi, penyelenggaraan tahun ini juga menghadirkan ekspo inovasi yang melibatkan 34 PTKIN. Ekspo tersebut menjadi ruang untuk memperkenalkan berbagai karya, hasil penelitian, dan pengembangan inovasi perguruan tinggi keagamaan Islam.

"OASE menjadi momentum penting untuk menyiapkan mahasiswa menghadapi transformasi digital dan perkembangan kecerdasan artifisial. Kompetisi ini diharapkan memperkuat budaya riset, kemampuan berpikir kritis, sportivitas, kolaborasi, serta persaudaraan antarmahasiswa PTKIN," ujarnya.

Rektor UIN Sunan Kalijaga Noorhaidi Hasan mengatakan, kehadiran 54 PTKIN menunjukkan komitmen bersama dalam membangun generasi yang cerdas, berintegritas, kreatif, dan mampu memberikan kontribusi bagi masyarakat.

"OASE bukan sekadar ajang memperebutkan medali dan menentukan siapa yang menjadi juara. Lebih dari itu, OASE adalah ruang perjumpaan gagasan, pertukaran pengetahuan, dan pengembangan talenta terbaik mahasiswa PTKIN," ungkapnya.

Sebagai tuan rumah, UIN Sunan Kalijaga juga berharap OASE terus berkembang menjadi agenda akademik nasional yang berkualitas, inklusif, dan berdampak. Kompetisi ini juga didorong tidak berhenti pada pencapaian medali, tetapi berlanjut menjadi pembinaan talenta, pengembangan riset, dan kolaborasi lintas perguruan tinggi.