Surabaya (ANTARA) - Ketua Komisi C Dewan Perwakilan Rakyat Derah (DPRD) Kota Surabaya, Eri Irawan, mendorong percepatan target penanganan banjir di Kota Surabaya menjelang musim hujan seperti sekarang ini.
"Sampai dengan saat ini masih ada 124 titik banjir yang menjadi target penanganan pada 2027 dengan anggaran pengendalian banjir sekitar Rp1 triliun pada 2026," kata Eri Irawan saat dikonfirmasi di Surabaya, Rabu.
Ia meminta percepatan pembangunan saluran, normalisasi drainase, dan penyelesaian infrastruktur pendukung agar luas banjir serta waktu surut air semakin berkurang.
Eri mengatakan, Komisi C telah menggelar rapat bersama Dinas Sumber Daya Air dan Bina Marga (DSDABM) untuk memetakan progres penanganan banjir. Pada 2026, Pemkot Surabaya menargetkan penyelesaian 46 titik, sedangkan 124 titik lainnya menjadi sasaran pekerjaan pada tahun berikutnya.
“Ya, terakhir kami pekan lalu sudah rapat dengan Dinas Sumber Daya Air dan Bina Marga, kita memetakan target penuntasan banjir. Tahun ini kan kita targetkan 46 titik banjir selesai, tetapi memang masih ada sekitar 124 titik banjir yang akan kita selesaikan pada tahun depan. Jadi tahun ini selesai 46 dan tahun depan akan dilanjutkan lagi,” kata Eri.
Menurut Eri, penanganan banjir membutuhkan integrasi jaringan drainase lingkungan dengan saluran perkotaan. Sepanjang 2026, pembangunan saluran telah mencapai lebih dari 51 kilometer untuk memperlancar aliran air dari kawasan perkampungan menuju saluran utama.
“Nah, kita sudah mengecek juga, tahun ini ada pembangunan saluran itu di lebih dari 51 kilometer panjangnya. Nah, ini untuk mengintegrasikan antara saluran lingkungan di perkampungan dengan saluran di perkotaan," ujarnya.
Menjelang puncak musim hujan pada Desember 2026 hingga Februari 2027, Komisi C meminta pekerjaan saluran lingkungan dipercepat. Salah satu kendala yang ditemukan adalah keterlambatan pasokan material untuk menyelesaikan sambungan atau crossing antarsaluran.
Eri mengatakan pihaknya telah berkoordinasi dengan bagian pengadaan barang dan jasa agar penyedia segera mengirimkan material yang dibutuhkan. Percepatan tersebut diperlukan supaya saluran di perkampungan dapat terhubung secara optimal dengan sungai yang lebih besar.
“Kita berharap, ini kan prediksi BMKG nanti puncak musim hujan akan berlangsung mulai bulan Desember, Januari, Februari. Masih ada waktu 1 bulan kita melakukan upaya optimal,” ujarnya.