Nasional

Kopi yang dikeringkan oleh napas bumi

Kopi yang dikeringkan oleh napas bumi
Justru manisnya menemukan tempat berpijak, dan asamnya menemukan kawan

Jakarta (ANTARA) - Gelas plastik bercap Akkar Kamojang itu begitu menggoda dengan susu putih dan espresso kental yang belum tercampur sempurna.

Lalu dua warna itu disatukan dan memunculkan warna krem. Ketika dihirup, aromanya menyergap sebelum gelas plastik menyentuh bibir, pekat dan nyaris galak, seperti janji pahit yang sudah disiapkan untuk tenggorokan.

Janji itu tidak ditepati.

Yang datang justru rasa yang tenang. Manis legit gula aren merambat pelan, susu menumpulkan sudut-sudutnya, lalu di pangkal lidah muncul asam kecil yang jernih, mirip buah yang dipetik sehari sebelum terlalu matang.

Racikannya tujuh puluh persen arabika Kamojang, tiga puluh persen robusta. Ini kopi susu gula aren terbaik yang pernah penulis minum. Harganya lima belas ribu rupiah.

Di balik pagar kayu kedai, punggung-punggung bukit berselimut hutan berdiri diam, seakan tidak merasa perlu menjelaskan apa-apa.

Gelas kedua lebih pemalu. Kaskara di dalamnya berlapis seperti senja yang lupa diaduk: merah tua di dasar, jingga di tengah, busa pucat di permukaan. Kulit buah kopi yang di banyak kebun berakhir sebagai limbah itu diseduh menjadi minuman ringan serupa teh, lalu dipertemukan dengan sirup nanas dan peach. Asam dan manisnya tidak berebut tempat. Mereka berbagi.

Kamojang menawarkan jawaban yang menggoda untuk kenikmatan itu. Biji kopinya dikeringkan dengan uap panas bumi, kebunnya tumbuh di lereng gunung yang menyemburkan uap beraroma belerang.

Gampang sekali membayangkan napas itu menitipkan sesuatu ke dalam biji, semacam bumbu rahasia dari kedalaman. Tapi, penjelasan yang sebenarnya lebih bersahaja, dan karena itu justru lebih memikat.

Uap dan kabut