Gerakan musik inklusif SENADA 2026 yang diinisiasi oleh Lembaga Daya Dharma Keuskupan Agung Jakarta (LDD KAJ) siap digelar. Mengusung tema Together in Unity - Music Beyond Limits, gerakan ini menyatukan berbagai pihak, mulai dari Keuskupan Agung Jakarta, tokoh lintas iman, hingga diva pop Tanah Air, Kris Dayanti.
Acara ini menghadirkan ruang ekspresi, apresiasi, kolaborasi, sekaligus pemberdayaan ekonomi kreatif bagi para penyandang disabilitas. SENADA 2026 rencananya diselenggarakan pada Minggu, 15 November 2026 di Balai Kartini, Jakarta.
Kris Dayanti mengaku takjub sejak pertama kali mengikuti sesi latihan SENADA 2026. Pelantun Mencintaimu tersebut terpukau melihat aransemen lagu serta kesiapan dan profesionalisme para pengisi acara disabilitas.
"Perasaan saya senangnya luar biasa. Belum duduk, sudah kaget dengan aransemen Mencintaimu-nya itu bagus, terkesima. Biasanya kita latihan band ya aransemen, band, musik, tapi mereka kemarin sudah pakai gerakan koreografi. Semua excited, saya kagum. Mudah-mudahan terus semangat," ujarnya saat ditemui di Gereja Katedral, Jakarta Pusat, Kamis (5/11/2026).
Theo, perwakilan penyelenggara SENADA 2026, menjelaskan bakal ada 10 lagu yang disiapkan untuk dibawakan. Pilihan lagunya pun sangat beragam dan lintas budaya.
"Bawa 10 lagu, salah satunya Mencintaimu. Lagunya adalah lagu umum, ada lagu beragama Muslim juga, kita berkolaborasi dengan baik," tuturnya.
Theo menambahkan, keterlibatan Kris Dayanti didasari oleh karakter dan semangat kolaborasi cross-culture untuk menciptakan dampak sosial yang nyata.
"Kita lihat karakter masing-masing seperti apa, terus kita mau cross-culture. Kolaborasi luar biasa sama Mbak KD. Kita saling bahu-membahu untuk membuat gerakan kecil yang bisa berdampak buat semua," tuturnya.
Di sisi lain, momen ini juga dimanfaatkan Kris Dayanti untuk menyoroti isu aksesibilitas disabilitas di Indonesia yang dinilainya masih minim. Meski payung hukum telah tersedia sejak 1998, implementasinya di lapangan dirasa belum optimal.
"Akses buat anak-anak disabilitas 1 persen belum terealisasi. Ini lebih kepada sikap kemanusiaan kita. Di sini lebih menyentuh ke korporasi, perusahaan besar swasta untuk bisa terlibat langsung. Lebih ke jiwa hati yang tersentuh. Menurut UU sudah ada dari '98, dan turunannya ini perlu direalisasikan," ujarnya.
Istri Raul Lemos ini juga terharu melihat potensi besar yang dimiliki para penyandang disabilitas di lapangan, seperti pekerja profesional di Stasiun Gambir hingga Kereta Cepat Whoosh. Ia berharap industri hiburan dan pemerintah ikut tergerak membuka pintu lebih lebar.
"Mudah-mudahan langkah kecil kita bisa mendorong akses mereka yang lebih baik. TV-TV mungkin bisa bikin Indonesian Idol dengan disabilitas, bukan tidak mungkin. Atau bidang-bidang lain kayak sains. Kemampuan mereka luar biasa, punya keahlian," katanya.
KD juga berharap pihak legislatif, khususnya Komisi VIII DPR RI, dapat terus mengawal hak-hak serta fasilitas bagi teman-teman disabilitas di Tanah Air.