BANDUNG -- Pemanfaatan lahan wakaf untuk pemberdayaan dan pemulihan lingkungan terus didorong dengan kolaborasi. Ini yang dilakukan oleh Green Waqf dan Waqf Center of Indonesian Development and Studies (WaCIDS) berkolaborasi dengan Sekolah Tani Indonesia dan PT Majoris Asset Manajemen dalam kegiatan penanaman Tamanu dan Rimpang di lahan wakaf Pesantren Tunas Quran Bandung pada Ahad (1/11/2026).
Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya mengoptimalkan pemanfaatan lahan wakaf untuk pemberdayaan pesantren dan pemulihan lingkungan. Kegiatan ini turut dihadiri oleh sejumlah perangkat desa, perwakilan beberapa NGO, seperti Relawan Nusantara, Lokadesa, Tropisme, serta PT Cinquer Agro Nusantara (CAN).
Lahan wakaf yang selama ini identik dengan 3M (Masjid, Madrasah, dan Makam) sejatinya juga memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi lahan pertanian yang berkelanjutan. Melalui penanaman Tamanu dan rimpang, Green Waqf berupaya memperluas manfaat aset wakaf agar dapat memberikan nilai tambah bagi lingkungan pesantren sekaligus masyarakat di sekitarnya.
Koordinator Green Waqf, Lisa Listiana, menjelaskan bahwa pemilihan Tamanu sejalan dengan visi gerakan ini. “Kami ingin agar lahan wakaf dapat memberikan manfaat ekologis sekaligus ekonomi bagi pesantren dan masyarakat sekitar. Biji Tamanu memiliki potensi untuk diolah menjadi minyak multiguna yang dapat dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan industri, mulai dari energi terbarukan, farmasi, hingga produk kecantikan alami seperti sabun dan krim anti-aging,” ujarnya.
Pemilihan Tamanu dan tanaman rimpang juga mempertimbangkan potensi pemanfaatannya dalam jangka panjang. Tamanu memiliki nilai ekonomi melalui bijinya yang dapat diolah menjadi minyak multiguna, sementara tanaman rimpang berpotensi dikembangkan sebagai komoditas pertanian yang dapat dibudidayakan dan dimanfaatkan oleh masyarakat dalam jangka waktu lebih pendek. Kombinasi keduanya diharapkan dapat mendorong diversifikasi tanaman di lahan wakaf, sehingga mendukung aktivitas ekonomi produktif di lingkungan pesantren.
Sejalan dengan hal tersebut, Founder Sekolah Tani Indonesia, Fatoni Saputra, menyampaikan bahwa program Santri Tani mendorong pesantren menjadi ruang pembelajaran yang membekali santri dengan keterampilan praktis dan kemandirian ekonomi.
“Program ini membekali para santri dengan keterampilan bertani, sehingga mereka mampu mengoptimalkan potensi lokal untuk memenuhi kebutuhan masyarakat sekitar. Melalui kegiatan ini, pesantren juga berpeluang mengembangkan sumber pendapatan dari hasil pertanian serta memperkuat kemandirian pangan di tingkat lokal,” ungkapnya.
Inisiatif ini juga dilatarbelakangi oleh kepedulian terhadap kondisi lingkungan, khususnya kawasan hulu Gunung Malayang yang menghadapi tekanan akibat berkurangnya tutupan vegetasi dan meluasnya lahan kritis. Kondisi tersebut, ditambah ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla), berpotensi mempengaruhi keseimbangan ekosistem serta kehidupan masyarakat di wilayah hilir.
Oleh karena itu, penanaman vegetasi yang sesuai dengan karakteristik lahan, disertai perawatan secara berkelanjutan, menjadi salah satu langkah untuk mendukung pemulihan fungsi ekologis kawasan. Keterlibatan pesantren dan masyarakat juga diharapkan dapat menumbuhkan kesadaran bersama dalam menjaga kelestarian lingkungan.