Berlin (ANTARA) - Sejak Minggu (1/11), lebih dari 413.000 pekerja di sektor industri logam dan kelistrikan telah berpartisipasi dalam lebih dari 2.800 aksi mogok kerja dan unjuk rasa di seluruh Jerman, melebihi partisipasi pada periode yang sama dalam negosiasi upah 2024, menurut IG Metall.
Aksi tersebut terjadi di tengah negosiasi upah yang sedang berlangsung yang mencakup sekitar 3,7 juta pekerja di sektor industri logam dan kelistrikan Jerman, termasuk produsen mobil, produsen mesin, dan pemasok mereka, kata serikat pekerja itu dalam pernyataan sebelumnya.
IG Metall menuntut kenaikan upah sebesar 5 persen selama 12 bulan, sementara pihak pengusaha telah menawarkan kenaikan upah 1,3 persen mulai Juli 2028, sebuah proposal yang telah ditolak oleh serikat pekerja tersebut, dengan alasan bahwa itu sama dengan pemotongan upah riil.
Perusahaan-perusahaan manufaktur Jerman menghadapi tekanan yang semakin besar dalam beberapa tahun terakhir akibat tingginya biaya tenaga kerja dan energi serta kelesuan ekonomi yang berkepanjangan, sehingga banyak perusahaan memangkas jumlah tenaga kerja dan menerapkan langkah-langkah pengurangan biaya.
Presiden IG Metall Christiane Benner mengatakan para pekerja tidak akan menerima program pengurangan biaya secara menyeluruh yang bertujuan untuk melindungi laba perusahaan dengan mengorbankan upah, serta menekankan bahwa inovasi dan investasi, bukan pemotongan upah, diperlukan untuk menghidupkan kembali industri Jerman.
Aksi mogok kerja peringatan tersebut telah berdampak pada perusahaan manufaktur besar di Jerman. Di Negara Bagian Bavaria, Jerman selatan, sekitar 3.000 pekerja masing-masing dari BMW, Audi, dan Bosch bergabung dalam aksi unjuk rasa, kata serikat pekerja itu.
Di Jerman utara, sekitar 12.400 pekerja di empat fasilitas Airbus bergabung dalam aksi unjuk rasa pada Kamis (5/11), sementara sekitar 3.300 karyawan Mercedes-Benz di Bremen ikut serta dalam aksi mogok kerja peringatan sebelumnya pada pekan ini, menurut serikat pekerja tersebut.