Ekonomi

Media Asing Geger Listyo Sigit Sadap Prabowo, Sorot Mobilisasi Militer

Media Asing Geger Listyo Sigit Sadap Prabowo, Sorot Mobilisasi Militer

Jakarta, CNBC Indonesia - Penahanan eks Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo yang diduga menyadap Presiden Prabowo Subianto telah menghebohkan publik, tak terkecuali media internasional. Media asing ramai-ramai menyoroti rentetan peristiwa tersebut, dari pencopotan jabatan hingga pengerahan militer besar-besaran.

Dalam pemberitaan Reuters, Rabu (4/11/2026), berjudul "Troops deployed in Indonesia as president sacks aide accused of wiretapping", media tersebut menyoroti pemecatan Listyo Sigit. Listyo langsung dipecat secara tidak hormat dari jabatannya sebagai Kepala Staf Kepresidenan tak lama setelah ditangkap pada hari Selasa.

"Itu (penyadapan) juga mengarah pada tindakan yang membahayakan kepentingan negara dan keselamatan kepemimpinan bangsa, termasuk keselamatan kepala negara," papar juru bicara kepresidenan Prasetyo Hadi.

Media ini juga menyoroti keretakan mendalam antara Presiden Prabowo dengan Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi). Skandal yang tengah berlangsung ini diketahui terjadi di tengah memanasnya ketegangan antara Prabowo dengan Jokowi.

Sementara itu, dalam pemberitaan Deutsche Welle berjudul "Indonesia Deploys 20,000 Troops to Jakarta After Arrest of Ex-Police Chief in Wiretapping Scandal", media asal Jerman ini secara blak-blakan menyoroti mobilisasi puluhan ribu tentara. Pasukan berskala masif ini didatangkan ke Jakarta tak lama setelah penahanan tiga jenderal senior Polri.

Militer Indonesia memang membenarkan masuknya puluhan ribu pasukan, namun tidak mengonfirmasi secara resmi bahwa pengerahan itu terkait dengan skandal penyadapan.

"Pengerahan pasukan adalah kejadian normal," ungkap Juru bicara angkatan bersenjata Indonesia Mayor Jenderal Muhammad Nas. "Militer harus selalu siap melindungi seluruh bangsa dan menjaga keutuhan Republik Indonesia."

Di sisi lain, seorang kriminolog dari Universitas Indonesia, Adrianus Meliala, memiliki pandangan sendiri terkait skandal ini. Menurutnya, penyadapan dilakukan untuk sebuah kepentingan yang bukan bagi negara.

"Ada dugaan kuat bahwa penyadapan itu dilakukan bukan untuk kepentingan negara atau Polri, tetapi untuk kepentingan pihak lain," ungkap Meliala.

Selanjutnya, dalam pemberitaan Kyodo News berjudul "Indonesia deploys troops to capital amid wiretapping scandal", media Jepang ini menyoroti jangkauan pasukan. Pasukan yang dikerahkan ternyata turut mencakup unit marinir dan angkatan laut dari Pulau Jawa dan Provinsi Lampung.

Wakil Laksamana Yayan Sofiyan selaku asisten operasi angkatan laut membeberkan total pasukan yang tiba di ibu kota. Sejak fase awal pada Senin, sebanyak 20.980 personel pasukan telah tiba dan bersiaga di Jakarta.

"Tambahan 13.140 personel telah disiagakan dan tetap siap diturunkan jika dibutuhkan," ungkap Sofiyan.

Lebih lanjut, media ini juga mengulas ancaman hukuman pidana yang dapat menjerat Listyo dkk. Ketiga tersangka terancam dijatuhi hukuman 10 tahun penjara atas tuduhan berlapis. Tuduhan itu meliputi intersepsi yang melanggar hukum, perekaman, pengalihan, pengubahan, gangguan, atau pemantauan komunikasi elektronik nonpublik.

[Gambas:Video CNBC]