Tanjungpinang (ANTARA) - Senin pagi, 12 Oktober 2026, listrik di kediaman Rio Julianto, warga Kelurahan Kampung Bugis, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau (Kepri), mendadak padam. Lampu yang semula menerangi seluruh ruangan seketika mati.
Saat itu, ayah dua anak tersebut tengah memanggang roti menggunakan oven listrik di dapur rumah. Aktivitas produksi itu terpaksa terhenti karena aliran listrik terputus.
Rio merupakan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang memproduksi roti kemasan berbahan baku terigu. Produknya dipasarkan ke berbagai warung dan pusat perbelanjaan. Listrik menjadi salah satu urat nadi usahanya.
Ia kemudian mencari tahu penyebab pemadaman melalui informasi dari PLN. Biasanya, perusahaan itu memberikan pemberitahuan jika terjadi gangguan atau pemadaman terencana. Namun, kali ini tidak ada informasi apa pun.
Tak lama berselang, informasi mengenai pemadaman listrik total atau blackout di Batam menyebar melalui media sosial dan media massa. Gangguan tersebut kemudian meluas ke Pulau Bintan, yang meliputi Kota Tanjungpinang dan Kabupaten Bintan. Saat itu, penyebabnya belum diketahui secara pasti.
Pemadaman terjadi di Pulau Bintan karena sistem kelistrikannya terhubung dengan Pulau Batam melalui jaringan interkoneksi kabel laut tegangan tinggi 150 kilovolt (kV) yang dikelola PT PLN Batam.
Ketika sistem utama mengalami gangguan, pasokan listrik kepada pelanggan di kedua wilayah yang saling terhubung itu ikut terdampak.
Listrik di rumah Rio dan warga sekitar Kampung Bugis padam sejak pukul 06.30. Pasokan sempat pulih pada pukul 12.00 dan kesempatan itu dimanfaatkan Rio untuk melanjutkan produksi dan memanggang roti secukupnya. Namun, ia mengaku tetap khawatir listrik akan kembali padam.
Kekhawatirannya terbukti. Sekitar pukul 16.00, listrik padam lagi. Di sejumlah wilayah, termasuk Tanjung Uban, Bintan, pemadaman berlangsung hingga puluhan jam.
Pada Senin malam itu, suasana Tanjungpinang terasa berbeda tanpa penerangan listrik. Jalan raya dipadati kendaraan karena banyak warga memilih keluar rumah untuk mencari udara segar daripada bertahan di dalam rumah yang gelap dan pengap.
Sejumlah pusat perbelanjaan juga dipadati pengunjung yang membeli makanan dan perlengkapan penerangan, mulai dari lilin hingga lampu darurat. Hotel dan penginapan pun dipenuhi warga yang mencari akses listrik serta kenyamanan tidur dengan pendingin ruangan atau AC.