Mataram (ANTARA) - Bilah-bilah bambu berpindah dari satu tangan ke tangan lainnya. Perlahan, jemari Baiq Idayatul Husni menyilangkan potongan demi potongan bambu hingga membentuk pola yang semakin jelas.
Gerakan itu bukan hal baru baginya yang genap berusia 40 tahun, karena lebih dari separuh hidupnya telah dihabiskan bersama bilah-bilah bambu yang menjadi bagian dari keseharian.
Bagi perempuan asal Desa Loyok, Kecamatan Sikur, Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB), menganyam bukan sekadar pekerjaan.
Ada perjalanan panjang yang membuat keterampilan itu melekat bersama setiap tetesan keringat, mulai dari belajar sejak remaja hingga menjadikannya salah satu sumber penghidupan keluarga.
Lebih dari 20 tahun perempuan yang akrab dipanggil Ida tersebut menjalani pekerjaan sebagai perajin anyam bambu. Berbagai teori yang dahulu dipelajarinya sejak muda, kini menjadi keterampilan yang terus dia tekuni.
Kebiasaan menganyam yang dilakukan berulang kali membuat aktivitas itu terasa seperti bagian dari dirinya, bahkan menjadi sesuatu yang ia sukai.
Di balik setiap kerajinan ada kebutuhan keluarga yang harus terpenuhi. Hasil anyaman menjadi sumber penghasilan untuk membantu menghidupi anak-anaknya.
Bertahan sebagai perajin anyaman bambu bukan semata-mata tentang menjaga kebiasaan lama yang diwariskan turun temurun, melainkan juga tentang memastikan roda perekonomian keluarga tetap berputar.
Kisah Ida menjadi salah satu potret para perempuan di Desa Loyok yang menggantungkan kehidupan sekaligus mempertahankan keterampilan tradisional melalui anyaman bambu.
Pada 2022, Desa Lonyok yang terletak di selatan Gunung Rinjani dengan ketinggian 670 meter di atas permukaan laut tersebut pernah memperoleh penghargaan sebagai 500 Besar Desa Wisata dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.
Desa yang diresmikan pada 15 November 1961 itu merupakan pusat kerajinan ayaman bambu terbesar dan satu-satunya di Nusa Tenggara Barat. Beberapa ikon kerajinan ayaman bambu adalah dedungki dan gegandek.
Sumber penghidupan
Di satu toko seni, tempat kerajinan bambu yang dikelola oleh suami Baiq Heni Kusmiyanti sejak 1997, keterampilan itu terus menemukan ruang untuk berkembang bersama lanskap alam persawahan yang masih asri.
Sebanyak 13 perempuan perajin terlibat dalam menghasilkan berbagai produk yang tidak hanya digunakan untuk kebutuhan sehari-hari, tetapi juga memiliki nilai ekonomi.
Bilah bambu yang awalnya tampak sederhana dapat berubah menjadi tas, keranjang, wadah penyimpanan, hingga beragam perlengkapan rumah tangga. Setiap bentuk membutuhkan ketelitian dalam menyiapkan bahan, menyesuaikan ukuran, dan menyilangkan bagian demi bagian agar menghasilkan anyaman yang kuat serta rapi.
Di tangan para perajin, bambu tidak lagi sekadar bahan alam. Tanaman yang menyandang nama ilmiah Bambusoideae menjadi sumber penghidupan sekaligus media untuk mempertahankan keterampilan yang telah dikenal masyarakat Desa Loyok sejak lama.
Mempertahankan sesuatu yang diwariskan tidak selalu mudah. Hampir tiga dekade menjalankan usaha kerajinan membuat Heni memahami bahwa perubahan zaman membawa tantangan tersendiri.
Ketika berbagai produk modern semakin mudah ditemukan, keberadaan kerajinan tradisional membutuhkan perhatian agar tidak perlahan ditinggalkan.
Heni berharap keterampilan menganyam bambu tidak berhenti pada generasinya. Keberlanjutan kerajinan tradisional sangat bergantung dari kemauan generasi muda untuk mengenal dan mempelajarinya.
"Jangan sampai keterampilan yang sudah diwariskan sejak dulu hilang begitu saja. Saya juga berharap generasi muda mau belajar dan ikut melestarikannya agar kerajinan ini tetap dikenal hingga mancanegara," ujar perempuan berusia 43 tahun tersebut pada Oktober 2026.
Harapan itu menemukan makna lain ketika orang-orang dari luar daerah, bahkan luar negeri, datang untuk melihat langsung bagaimana bambu diolah menjadi kerajinan oleh para perempuan Desa Loyok.
Bagi para turis, Desa Loyok bukan sekadar tempat singgah, melainkan ruang untuk mengenal kebudayaan yang tumbuh dan dijaga oleh penduduk lokal.
Salah satunya Dennis, wisatawan asal Australia yang berkunjung ke satu toko seni. Ketertarikannya terhadap kebudayaan lokal berawal dari kebiasaannya menjelajahi desa-desa di Indonesia. Baginya, setiap daerah memiliki ciri khas dan keunikan tersendiri yang selalu menarik untuk dipelajari.
Sebelum mengenal anyaman bambu di Loyok, Dennis lebih dahulu mengunjungi Desa Pringgasela di Lombok Timur untuk mempelajari keterampilan menenun. Ketertarikan terhadap kerajinan tradisional membawanya ke tempat para perempuan perajin bambu yang mengolah bahan sederhana menjadi berbagai produk bernilai guna.
Dia tidak hanya menyaksikan hasil kerajinan yang tersusun etalase galeri seni, tetapi juga mencoba merasakan sendiri proses pembuatan kerajinan anyaman bambu.
Dengan bimbingan para perajin, pria berusia 30 tahun itu diperkenalkan pada tahap awal mengolah dan menyusun bilah sebelum mencoba menyilangkan setiap bagian bambu.
Sesuatu yang terlihat sederhana ketika menjadi sebuah produk ternyata membutuhkan ketelitian dan kesabaran. Setiap bilah harus ditempatkan dengan tepat agar pola anyaman dapat terbentuk.
Pengalaman itu memberikan gambaran bahwa keterampilan yang selama ini dijalani para perajin bukan sesuatu yang dapat dikuasai dalam waktu singkat.
"Saya suka bepergian ke tempat-tempat di Indonesia, apalagi di desa-desa. Ada banyak ciri khas dan budaya unik yang saya temukan, dan saya sangat menyukainya. Saya pernah ke Pringgasela untuk belajar menenun, dan sekarang datang ke Loyok untuk belajar tentang anyaman bambu. Hasil kerajinannya sangat bagus, beragam, dan menurut saya luar biasa," kenang Dennis.
Daya tarik wisata
Kunjungan seperti yang dilakukan Dennis memperlihatkan bahwa kerajinan tradisional memiliki daya tarik yang lebih luas daripada sekadar produk yang diperjualbelikan.
Proses pembuatan ayaman bambu dapat menjadi pengalaman yang memungkinkan wisatawan mengenal lebih dekat keterampilan dan kehidupan masyarakat setempat.
Ketertarikan tersebut turut membuka kesempatan bagi anyaman bambu Desa Loyok untuk dikenal hingga ke luar negeri. Produk yang dihasilkan para perajin tidak hanya dipasarkan kepada pembeli dalam negeri, tetapi juga telah dikirim ke sejumlah pasar mancanegara.
Heni bersyukur karena wisatawan mancanegara sudah banyak yang datang ke tempat usahanya. Dengan demikian, pemasaran hasil produk kerajinannya tidak hanya di dalam negeri, tetapi sudah sampai ke luar negeri. Kini, dia sering mengirim produk anyaman bambu ke luar negeri.
Walau dikenal hingga mancanegara bukan berarti perjalanan kerajinan anyaman bambu tanpa tantangan. Di tengah banyaknya pilihan produk modern, keberadaan anyaman bambu tetap membutuhkan orang-orang yang bersedia menjaga keterampilan tersebut.
Pasar dapat memperluas jangkauan sebuah produk, tetapi keberlanjutan tradisi tetap bergantung pada tangan-tangan yang mau mengerjakannya.
Bagi Ida, anyaman bambu telah menjadi bagian dari perjalanan hidup yang dijalani selama puluhan tahun. Sementara bagi Heni, kerajinan itu merupakan warisan yang perlu diteruskan agar tidak berhenti pada generasi sekarang.
Sementara bagi Dennis, bilah-bilah bambu yang disilangkan menjadi pengalaman untuk mengenal sisi lain kebudayaan lokal saat berwisata di Indonesia.
Ketiganya bertemu dalam satu ruang yang sama, di antara bahan-bahan sederhana yang perlahan berubah menjadi kerajinan bernilai ekonomi dan budaya.
Tradisi tidak hanya dipertahankan melalui cerita tentang masa lalu, tetapi terus berlangsung lewat aktivitas sehari-hari para perajin.
Sebuah warisan budaya tidak cukup hanya dikenang atau dibanggakan, tetapi juga perlu dikerjakan, dipelajari, dan diteruskan agar tetap memiliki tempat di tengah perubahan zaman.