Kemendagri mendukung Festival Anak Bermain yang diinisiasi Kemen PPPA
Jakarta (ANTARA) - Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Arifah Fauzi mengajak keluarga untuk menghidupkan kembali permainan tradisional sebagai alternatif kegiatan positif bagi anak di tengah meningkatnya penggunaan gawai, karena permainan tradisional mendorong interaksi dan kebersamaan.
“Anak-anak tidak bisa dilarang begitu saja dari penggunaan teknologi atau gadget tetapi perlu diberikan alternatif kegiatan yang menarik, edukatif, dan sesuai dengan tahap perkembangan mereka. Salah satu alternatifnya adalah permainan tradisional berbasis kearifan lokal, karena setiap daerah memiliki permainan khas masing-masing,” ujar Menteri PPPA di Jakarta, Minggu saat Festival Anak Bermain.
Berbeda dengan penggunaan gawai yang cenderung dilakukan secara individual, katanya, permainan tradisional melibatkan banyak orang sehingga membuka ruang komunikasi dan memperkuat hubungan emosional antara anak dan orang tua.
“Permainan tradisional ini menjadi salah satu upaya untuk mendekatkan orang tua dengan anak-anaknya. Karena permainan tradisional tidak dilakukan sendiri seperti bermain gawai, sehingga ada hubungan dan interaksi yang lebih baik antara anak dan orang tua,” katanya.
Selain itu, dia juga menegaskan bermain merupakan salah satu hak anak yang harus dipenuhi. Hal ini sebagaimana diamanatkan dalam Pasal 11 Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, yang menyatakan bahwa setiap anak berhak untuk beristirahat dan memanfaatkan waktu luang, bergaul dengan anak sebaya, bermain, berekreasi, dan berkreasi sesuai dengan minat, bakat, dan tingkat kecerdasannya demi pengembangan diri.
Pada kesempatan tersebut, Arifah juga berinteraksi dan berdialog langsung dengan anak-anak serta orang tua yang mengikuti berbagai permainan tradisional. Menteri PPPA menyapa, mendengarkan pengalaman mereka, serta mengajak keluarga untuk tidak hanya mengajak anak bermain, tetapi juga terlibat aktif dalam setiap kegiatan.
“Kami menyampaikan apresiasi kepada Komplek Gelora Bung Karno (PPK-GBK), Komite Permainan dan Olahraga Tradisional Indonesia (KPOTI), serta Sriwijaya Capital yang telah berkolaborasi menyelenggarakan kegiatan ini sebagai wujud nyata kehadiran negara dalam menjamin pemenuhan hak anak atas pemanfaatan waktu luang dan kegiatan budaya di ruang publik,” kata Menteri PPPA.
Senada, Wakil Menteri Dalam Negeri Bima Arya yang turut hadir mendukung upaya menghidupkan kembali permainan tradisional. Ia menyebut permainan tersebut memiliki sejumlah manfaat bagi tumbuh kembang anak, mulai dari meningkatkan kemampuan bersosialisasi, melatih motorik dan keseimbangan tubuh, hingga membangun sportivitas serta mengenalkan filosofi kehidupan.
“Kemendagri mendukung Festival Anak Bermain yang diinisiasi Kemen PPPA. Saya berharap Festival Anak Bermain ini menjadi gerakan berkelanjutan yang direplikasi di berbagai daerah dengan melibatkan pemerintah daerah, keluarga, komunitas, dan masyarakat," katanya.
Menurut Bima, dengan semakin banyaknya ruang publik yang menghadirkan permainan tradisional, anak-anak diharapkan memiliki lebih banyak kesempatan untuk bermain, berekreasi, bersosialisasi, sekaligus mengenal warisan budaya bangsa.
Festival Anak Bermain merupakan hasil kerja sama Kemen PPPA dengan Pusat Pengelolaan Komplek Gelora Bung Karno (PPK-GBK), Komite Permainan dan Olahraga Tradisional Indonesia (KPOTI), serta dukungan Sriwijaya Capital. Festival ini menghadirkan 18 jenis permainan tradisional, di antaranya congklak, egrang, gasing, dan berbagai permainan berbasis kearifan lokal lainnya yang dapat dimainkan anak-anak bersama keluarga.
Kegiatan ini sekaligus menjadi bagian dari rangkaian awal peringatan Hari Anak Sedunia yang diperingati setiap 20 November. Sebagai kelanjutan, Kemen PPPA bersama PPK-GBK dan KPOTI akan menggelar aktivasi ruang bermain berbasis permainan tradisional di Moja Museum pada 22 November 2026.