Politik

Menteri PU: Penanganan sedimentasi jaga keberlanjutan fungsi bendungan

Menteri PU: Penanganan sedimentasi jaga keberlanjutan fungsi bendungan

Malang, Jawa Timur (ANTARA) - Menteri Pekerjaan Umum (PU) Dody Hanggodo menyatakan penanganan sedimentasi merupakan langkah konkret menjaga keberlanjutan fungsi bendungan supaya mampu mendukung tercapainya ketahanan pangan, energi, dan air.

"Sedimentasi dapat memicu pendangkalan di bendungan sehingga harus ditangani secara maksimal agar fungsi bendungan menjadi optimal," kata Dody usai menghadiri Seminar Nasional Bendungan Besar 2026 di Universitas Brawijaya, Kota Malang, Jawa Timur, Jumat.

Ia menjelaskan, setiap bendungan selalu menghadapi persoalan pendangkalan sehingga pengerukan sedimen merupakan bagian pemeliharaan agar bendungan terjaga kapasitas tampungnya.

"Kami melihat ke belakang apa yang sudah dibangun harus di-preserve dan yang sudah berdiri ditengok lagi, kalau belum maksimal mendukung ketahanan pangan, energi, dan air dimaksimalkan," kata Dody.

Selain sedimentasi, Dody menyampaikan bahwa upaya memastikan keandalan operasional bendungan juga menjadi konsentrasi pemerintah, sebagaimana yang terus berjalan di Bendungan Sutami atau Waduk Karangkates di Sumberpucung, Kabupaten Malang, Jawa Timur.

"Konsentrasi tahun ke tahun adalah kepedulian terhadap bendungan yang sudah ada puluhan tahun lalu, bahkan sejak zaman Belanda," ujarnya.

Sementara itu, Kepala Badan Pengembangan Infrastruktur Wilayah (BPIW) Kementerian PU Adenan Rasyid, menambahkan, persoalan sedimentasi yang memicu penyusutan daya tampung bendungan disebabkan banyak faktor, seperti perubahan tata guna lahan dan usia bumi.

"Perubahan daya tampung macam-macam dan tidak bisa digeneralisasi, ada yang 10 persen, 20 persen," kata dia.

Di tempat yang sama, Direktur Utama Perum Jasa Tirta (PJT) I Fahmi Hidayat, menyatakan, penurunan daya tampung di bendungan mampu berdampak pada upaya pengendalian banjir, berkurangnya air baku, hingga penurunan produksi listrik dari pembangkit listrik tenaga air (PLTA).

Oleh karenanya, dia menegaskan, perawatan operasional menjadi opsi utama dibandingkan harus membangun bendungan baru karena memiliki lebih banyak tantangan, mulai ketersediaan lahan representatif, biaya konstruksi, hingga dampak lingkungan.

"Bendungan harus berfungsi selama-lamanya, di (Bendungan) Sengguruh dilakukan flushing dan Sutami ada pengerukan," ucap dia.