Jakarta, CNBC Indonesia - Persaingan para pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah semakin ketat. Untuk itu diperlukan strategi dalam memenangkan persaingan tersebut termasuk memanfaatkan kanal digital.
Banyak pengusaha kecil mengaku omzet mereka baru meningkat setelah memahami teknik optimasi produk, konten, dan strategi pemasaran berbasis data. Cerita ini datang dari Trendy Spring Bed di Surabaya.
Direktur Business and Development Trendy Spring Bed, Vincentius Leonardo menjelaskan bisnisnya bermula pada 1990. Bisnis ini mencatat pertumbuhan pesat mengingat belum memiliki banyak kompetitor.
Dalam perjalanannya, Trendy Spring Bed kemudian mendapat banyak pesaing. Bisnis ini akhirnya mulai memanfaatkan kanal digital melalui platform Shopee.
Adapun Trendy Spring Bed masuk ke Shopee bermulai dari akun pribadi owner perusahaan. Trendy Spring Bed memanfaatkan fitur Shopee Ads dari platform Shopee. Bisnis ini memasang iklan dengan budget kecil, sekitar Rp100 ribu hingga Rp500 ribu.
Dari iklan tersebut, Trendy Spring Bed mencatat penghasilan sebesar Rp 68 juta pada bulan pertama sedangkan pada bulan kedua menjadi Rp 128 juta.
Vincentius menyebut fitur Shopee Ads memberikan dampak bagi penjualan dibandingkan fitur lain. Hal ini karena fitur tersebut dapat memperkenalkan produk kepada para customer.
Meski begitu dia juga tetap memanfaatkan fitur Shopee Live dalam memasarkan produk kasurnya. Menurut Vincentius sepanjang 12 jam live memberikan average outlet conversion rate sebanyak 40%.
"Selama 3 jam mereka live itu paling jelek kalau mereka live-nya jelek banget itu 100 pasti dapat, 100 penonton. Kalau waktu bagus 3 jam kadang bisa 900, bisa sampai 1.500. Itu kalau demo di depan mall sini ya, sudah penuh," ungkap dia dikutip dari akun YouTube Shopee Indonesia, Senin (2/11/2026).
Sementara itu, Deputy Director of Public Affairs Shopee Indonesia, Radynal Nataprawira menuturkan, di era digital, seorang pengusaha perlu beradaptasi. Pasalnya, siapa yang menyangka bahwa kasur yang besar kini dapat dipesan dengan mudah dan bisa sampai ke depan rumah.
"Di era digital yang menentukan produk bukan ukuran. Tapi bagaimana pengusaha mau beradaptasi di era digital," tegas dia.
Oleh karena itu, Radynal berharap ke depan makin banyak anak muda yang punya tekad, mau beradaptasi dengan dunia digital, dan melihat peluang.
Di sisi lain, apa yang dirasakan Vincentius juga dirasakan oleh usaha Makaroni SOS. Pemilik usaha Makaroni SOS, Ahmad Adi Sudrajat menjelaskan usahanya dimulai pada 2021 yakni ketika pandemi Covid-19 berlangsung. Ketika memilih bisnis tersebut ia mengaku langsung tercetus platform Shopee sebagai media pemasaran.
"Kita awalnya itu kan September 2021 kita mulai mikir tuh, itu kan pandemi. Orang tua sudah pernah punya bisnis yang snack. Akhirnya kita ya sudah kita coba jual saja. Dan langsung kepikiran Shopee waktu itu," terang dia.
Dia mengaku berhasil menjual rata-rata 1.600 sampai 2.000 dalam sehari. Adapun ketika tiba diskon tanggal kembar, terjadi kenaikan penjualan hingga tiga kali lipat.
Makaroni SOS juga memanfaatkan fitur Shopee Live dari Shopee dalam memasarkan produknya. Makaroni SOS memiliki sekitar 80 dengan lebih dari 200 SKU.
"Untuk live kita hampir 24 jam. Kita start mulai dari setengah 6 pagi eh dan berakhirnya setengah 5. Kita punya host-nya 5. 5 orang dengan durasi 5 setengah jam. 5 setengah jam ya," terang Ahmad.
Makaroni SOS juga menghadirkan program diskon seperti promo flash sale atau undian bagi para customer.
"Iya, ada undian khusus misalnya harga khasnya kan 40.000 sekilo. Kita bikin 10.000. Jadi mereka, mereka stay tune dan nonton terus," terang dia.
Lebih lanjut, Ahmad membeberkan berbagai tips bagi mereka yang ingin memulai bisnis. Menurut dia, bisnis dapat dimulai dari level kecil seperti halnya Makaroni SOS.
"Kita mulainya dari modal yang cuma tidak sampai 500.000 bahkan. Jadi, memang untuk UMKM-UMKM terus saja riset pasar. Kita enggak selalu selamanya itu akan naik terus, pasti ada fase-fase down-nya tapi ya tidak perlu tidak perlu apa ya merasa low terus-terusan," pungkas dia.