Kabupaten Blora mempertahankan posisinya sebagai lumbung pangan utama Jawa Tengah (Jateng), yang ditempuh melalui pengembangan pertanian organik serta penerapan teknologi pertanian modern untuk mendongkrak hasil panen.
Keseriusan upaya itu antara lain diperlihatkan saat Bupati Blora Arief Rohman meninjau panen padi di dua lokasi berbeda pada Selasa (3/11/). Panen pertama digelar di Desa Gondel, Kecamatan Kedungtuban, yang memanfaatkan metode padi organik hasil pembinaan Trubus dan Exxon.
Setelah itu, panen raya berlanjut ke Desa Sumber, Kecamatan Kradenan. Di lokasi kedua ini, petani menerapkan teknologi pupuk pembenah tanah Gemburin produksi PT Chemstar Agro Indonesia.
Keberhasilan panen di tengah musim kemarau ini membuktikan ketahanan sektor pertanian Blora. Pemerintah daerah berharap inovasi itu dapat terus dikembangkan guna memperkokoh peran Blora sebagai penopang ketahanan pangan Jateng hingga tingkat nasional.
Panen di Desa Gondel
Menghadiri panen padi organik di Desa Gondel, Kecamatan Kedungtuban, Bupati Arief menyatakan apresiasi atas semangat petani mengembangkan pertanian ramah lingkungan melalui pendampingan Trubus dan Exxon.
Pengembangan pertanian organik ini dinilai berpotensi meningkatkan kesejahteraan petani. Catatannya, keberhasilan produksi harus diikuti dengan kepastian pasar agar hasil panen memberikan keuntungan lebih baik.
Saat ini, sekitar 108 petani tergabung dalam kelompok pengembangan pertanian organik di Desa Gondel dengan luas lahan mencapai 6,6 hektare.
Hasil produksi beras organik pun telah memiliki merek dagang Bestiw. Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Blora berkomitmen membantu menghubungkan kelompok petani dengan berbagai pihak untuk memperluas akses pemasaran.
"Kalau harga beras biasa sekitar Rp 13.000 per kilogram, harapannya beras organik ini bisa dipasarkan minimal Rp 20.000 per kilogram. Dengan begitu, ada nilai tambah dan pembeda dibandingkan beras pada umumnya," ujar Arief.
Ia mengakui, masih ada sejumlah kendala, khususnya terkait keterbatasan biaya dan peralatan pengolahan hasil panen seperti mesin penggiling, mesin oven, dan mesin vakum.
Untuk itu, Arief meminta penguatan pendampingan dari penyuluh pertanian lapangan (PPL) dan pihak terkait. Sementara, pemerintah akan mendorong pengujian kualitas beras, mulai dari cita rasa, tingkat kepulenan, hingga daya tahan setelah dimasak.
Menurut Bupati, aspek kualitas dan kemasan menjadi faktor penting untuk membangun kepercayaan konsumen sekaligus memperkuat posisi beras organik di pasar.
"Kita punya cita-cita menjadikan Kabupaten Blora sebagai kabupaten organik. Pengembangannya dimulai dari desa-desa yang memiliki potensi, salah satunya Desa Gondel. Beberapa desa lainnya juga sudah mulai mengembangkan pertanian organik," katanya.
Pada saat bersamaan, Arief juga mengapresiasi pran Exxon dan Trubus, khususnya tim pendamping yang telah tinggal selama berbulan-bulan untuk memberikan pembinaan dan pengetahuan kepada petani.
Perwakilan kelompok petani perempuan Desa Gondel, Unsiatun Noor, menyebutkan para peserta telah mempraktikkan penanaman berbagai jenis sayuran organik, seperti kangkung, bayam, sawi, dan tomat.
Sebelumnya, mereka menerima pendampingan selama sekitar enam bulan dan telah memiliki keterampilan baru, termasuk budidaya sayuran, hingga pembuatan pupuk organik secara mandiri serta mikroorganisme lokal (MOL) berbahan nasi sebagai bahan pendukung pertanian organik.
"Sebelumnya kami belum memahami cara membuat MOL nasi. Melalui pendampingan program ini, kami diajari membuatnya sendiri dan alhamdulillah berhasil," tutur Unsiatun.
Unsiatun berharap, program pendampingan dapat terus berlanjut. Ia menilai pengetahuan dan keterampilan kelompok perempuan masih perlu ditingkatkan.
"Kami berharap program ini dapat terus dilanjutkan. Meski sudah mendapatkan banyak pengalaman, pengetahuan dan keterampilan pertanian organik kami baru sekitar 50 persen dan belum sepenuhnya menguasai tekniknya," katanya.
Panen di Desa Sumber
Selanjutnya, Bupati Arief Rohman menghadiri panen raya padi hasil penerapan teknologi pupuk pembenah tanah Gemburin yang dikembangkan PT Chemstar Agro Indonesia di Desa Sumber, Kecamatan Kradenan.
Arief menyatakan menyambut baik hasil demonstration plot (demplot) atau lahan percontohan, dan berharap teknologi pembenah tanah itu dapat menjadi alternatif yang mendukung peningkatan produktivitas pertanian di Kabupaten Blora.
Ia mengingatkan, hasil panen yang baik perlu ditindaklanjuti dengan kajian dan pendampingan lebih lanjut untuk mengetahui manfaat teknologi secara terukur, baik terhadap peningkatan produksi, kualitas tanah, maupun efisiensi biaya usaha tani.
"Hasil demplot yang bagus ini perlu kita tindak lanjuti dengan kajian dan pendampingan lebih lanjut, sehingga kita mengetahui manfaatnya secara nyata, baik terhadap peningkatan produksi, kualitas tanah, maupun efisiensi biaya usaha tani," tuturnya.
Arief kemudian mendorong agar Kepala Dinas DP4, para penyuluh pertanian, dan Camat Kradenan bersama-sama menindaklanjuti hasil kegiatan tersebut.
Ia juga meminta agar informasi mengenai teknologi Gemburin disampaikan kepada kelompok tani dan petani lainnya. Menurutnya, petani perlu diberi kesempatan melihat langsung hasil penerapannya, mempelajari cara penggunaan, serta mencoba teknologi tersebut sesuai dengan kondisi lahan masing-masing.
Arief berharap, PT Chemstar Agro Indonesia tidak hanya memperkenalkan produk, tetapi juga terus memberikan edukasi dan pendampingan kepada petani.
"Kami berharap PT Chemstar Agro Indonesia dapat terus mendampingi petani, memberikan edukasi, serta mengembangkan kerja sama yang berkelanjutan dengan Pemerintah Kabupaten Blora," pungkas Bupati Arief.