Nasional

PBB serukan pembebasan staf yang ditahan oleh Houthi

PBB serukan pembebasan staf yang ditahan oleh Houthi

Perserikatan Bangsa-Bangsa (ANTARA) - Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) meminta kelompok Houthi di Yaman untuk membebaskan seluruh personel PBB yang ditahan serta memberikan informasi mengenai mereka.

"Semua personel PBB yang ditahan secara sewenang-wenang harus dibebaskan, terutama yang membutuhkan perawatan medis mendesak," kata Juru Bicara Sekretaris Jenderal PBB Stephane Dujarric pada Kamis (5/11).

"Kami benar-benar membutuhkan akses ke mereka yang sedang ditahan, agar kami juga dapat menilai kondisi medis mereka," ujar dia.

Dujarric mendesak Houthi untuk segera memberikan informasi terverifikasi mengenai di mana mereka ditahan dan kesehatan mereka.

Dia juga mengatakan bahwa Houthi harus memastikan kontak rutin dengan keluarga para personel itu serta akses terhadap perawatan medis yang diperlukan, termasuk perawatan khusus.

Keadaan seputar kematian staf PBB Mohammad al-Shami dalam penahanan Houthi menimbulkan kekhawatiran serius tentang kemungkinan adanya perlakuan buruk, termasuk kegagalan untuk mengungkap informasi yang tepercaya mengenai nasib dan kesejahteraan al-Shami, kata Dujarric dalam sebuah taklimat pers rutin.

Jenazah al-Shami diserahkan pekan lalu. Keluarganya mengatakan bahwa meskipun al-Shami telah meninggal sekitar sebulan sebelumnya, mereka baru mendapat kabar tentang kematian staf PBB tersebut baru-baru ini.

"PBB sekali lagi menyerukan penyelidikan yang cepat, independen, tidak memihak, dan transparan untuk menetapkan tanggal, penyebab, serta keadaan seputar kematian al-Shami, termasuk kondisi penahanannya, serta apakah dia menerima perawatan medis yang memadai atau bahkan tepat waktu, dan mengapa keluarganya serta PBB tidak segera diberi tahu mengenai kematiannya," papar Dujarric.

"Penyelidikan tersebut juga harus mengidentifikasi pihak-pihak yang bertanggung jawab guna memastikan mereka dimintai pertanggungjawaban," lanjutnya.

Dujarric mengatakan al-Shami adalah staf PBB kedua yang meninggal saat ditahan oleh Houthi, sehingga menimbulkan kekhawatiran serius mengenai keselamatan dan kesejahteraan semua orang yang ditahan serta personel kemanusiaan lainnya yang berada dalam situasi serupa, terutama mereka yang menderita kondisi medis serius.

Al-Shami dilaporkan ditahan dalam gelombang penyerbuan yang dilancarkan Houthi pada Juni 2024, di mana 13 staf PBB ditangkap.

Dujarric menyebutkan bahwa otoritas Houthi bertanggung jawab atas keselamatan dan kesejahteraan semua personel PBB serta personel kemanusiaan lainnya yang ditahan.

Di bawah hukum hak asasi manusia internasional, setiap orang yang dirampas kebebasannya harus diperlakukan secara manusiawi dan selalu diberi perawatan medis serta perlindungan yang memadai.

"Sekali lagi, Houthi harus membebaskan mereka semua dengan segera dan tanpa syarat. Seruan ini tidak hanya mencakup staf kami sendiri, tetapi juga personel misi kemanusiaan, misi diplomatik, dan masyarakat sipil," tutur Dujarric.

Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (UN OCHA) mengatakan warga sipil di Yaman masih terus mengungsi akibat kekerasan yang melanda beberapa provinsi, dengan hampir 135.000 orang mengungsi di dalam Provinsi Taiz.

PBB menegaskan kembali seruannya tentang perlindungan warga sipil dan akses kemanusiaan yang aman, berkelanjutan, dan tanpa hambatan, khususnya bagi para pengungsi dan masyarakat yang semakin terdampak oleh konflik yang sedang berlangsung.