Nasional

Pemegang Saham Setujui Rights Issue BSI, Siapkan Penerbitan 6,8 Miliar Saham

Pemegang Saham Setujui Rights Issue BSI, Siapkan Penerbitan 6,8 Miliar Saham

JAKARTA -- Pemegang saham PT Bank Syariah Indonesia (Persero) Tbk (BSI) menyetujui rencana penambahan modal melalui penerbitan saham baru atau rights issue. Persetujuan tersebut diberikan dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada Jumat (6/11/2026), dengan jumlah saham yang diterbitkan sebanyak-banyaknya 6,8 miliar saham Seri B.

Direktur Utama BSI Anggoro Eko Cahyo mengatakan, aksi korporasi melalui Penambahan Modal dengan Memberikan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMHMETD) II itu ditujukan untuk memperkuat permodalan sekaligus meningkatkan porsi kepemilikan saham publik atau free float.

Menurut Anggoro, peningkatan free float menjadi salah satu hal yang dinantikan pasar. Saat ini, porsi saham publik BSI tercatat sekitar 9,9 persen. Perseroan berharap penambahan porsi tersebut dapat memperluas basis investor, termasuk dari kalangan institusi dan investor global.

“Kami melihat peningkatan free float sebagai momentum untuk memperluas basis investor BSI dan meningkatkan daya tarik saham Perseroan di pasar modal. Dengan kepemilikan saham publik yang lebih luas, semakin banyak investor domestik maupun global yang berkesempatan untuk berpartisipasi dalam pertumbuhan BSI,” ujar Anggoro dalam keterangan, Jumat (6/11/2026).

Dia mengatakan, peningkatan kepemilikan saham publik juga diharapkan mendorong likuiditas perdagangan saham BSI. Selain itu, langkah tersebut berpotensi memperkuat peluang perseroan untuk memenuhi kriteria sebagai konstituen indeks saham global.

Di sisi lain, tambahan modal diperlukan untuk menopang pertumbuhan bisnis BSI. Anggoro menyebut, penguatan permodalan akan menjadi penyangga bagi perseroan dalam menjaga ketahanan usaha, memperluas kapasitas pembiayaan, dan mengembangkan bisnis.

“Permodalan yang kuat merupakan fondasi bagi BSI untuk menghadapi berbagai tantangan ekonomi sekaligus menangkap peluang pertumbuhan ke depan. Melalui tambahan modal, kami ingin memastikan BSI memiliki capital buffer yang memadai untuk menjaga resiliensi, memperluas kapasitas pembiayaan, serta mendukung pengembangan bisnis secara berkelanjutan,” katanya.

BSI memproyeksikan kebutuhan permodalan meningkat dari Rp 51,07 triliun pada 2026 menjadi Rp 64,41 triliun pada 2027. Sementara itu, rasio kecukupan modal atau capital adequacy ratio (CAR) diproyeksikan naik dari 20,38 persen menjadi 23,31 persen.

Penguatan modal tersebut juga menjadi bagian dari upaya BSI untuk masuk kelompok bank berdasarkan modal inti (KBMI) 4. Jika target tersebut tercapai, BSI akan menjadi bank syariah pertama di Indonesia yang masuk kelompok tersebut.