Liputan6.com, Jakarta - Permintaan dan koin di mengalami penurunan pada kuartal III 2026. (WGC) mencatat, permintaan untuk kedua produk investasi tersebut mencapai 13,3 ton pada periode Juli-September 2026.
Angka itu turun 25 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, ketika permintaan emas batangan dan koin di Indonesia mencapai 17,7 ton.
Mengutip laporan World Gold Council, Sabtu (7/11/2026), penurunan juga terjadi dibandingkan kuartal II 2026. Pada periode April-Juni, permintaan emas batangan dan koin tercatat sebanyak 14,5 ton. Dengan demikian, permintaan pada kuartal III turun sekitar 8 persen secara kuartalan.
Meski demikian, kinerja permintaan sepanjang sembilan bulan pertama 2026 masih menunjukkan pertumbuhan. Secara kumulatif, permintaan emas batangan dan koin di Indonesia mencapai sekitar 51 ton, atau meningkat 17 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Data tersebut menunjukkan bahwa minat investasi emas masyarakat Indonesia masih relatif kuat secara tahunan, meskipun pembelian melambat pada kuartal III.
Penyebab Perlambatan Permintaan Emas
WGC menjelaskan, perlambatan permintaan emas batangan dan koin terjadi di tengah kondisi harga emas yang tinggi. Secara global, harga emas berdasarkan acuan LBMA Gold Price PM rata-rata mencapai US$ 4.262 per ons pada kuartal III 2026. Angka tersebut meningkat 23 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Kondisi harga tersebut membuat sebagian investor ritel lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan pembelian. Secara global, permintaan emas batangan dan koin tercatat 267,8 ton, turun 19 persen secara tahunan.
WGC menyebut investor cenderung menunggu arah pergerakan harga emas yang lebih jelas sebelum kembali menambah kepemilikan.
Di Indonesia, laporan WGC juga mencatat konsumen masih berhati-hati di tengah kondisi ekonomi yang menantang. Hal ini turut memengaruhi perilaku pembelian emas, termasuk kecenderungan menyesuaikan jumlah pembelian.
Meski permintaan kuartal III melemah, pertumbuhan kumulatif hingga September memperlihatkan bahwa emas masih menjadi salah satu instrumen investasi yang diminati masyarakat Indonesia.