Ekonomi

Pernah Jadi Satpam, Kini Dijuluki Ratu Layar Sentuh Berharta Rp 344 Triliun

Pernah Jadi Satpam, Kini Dijuluki Ratu Layar Sentuh Berharta Rp 344 Triliun

Liputan6.com, Jakarta - Jalan hidup seseorang memang tidak ada yang tahu. Berawal dari hidup susah hingga pernah bekerja sebagai sekuriti di lokasi konstruksi, Zhou Qunfei (56) kini bergelimpangan harta dan dinobatkan sebagai di .

Pendiri sekaligus Chairman Lens Technology tersebut memprakarsai bisnis komponen elektronik yang membuatnya dijuluki sebagai "Ratu Layar Sentuh".

Menurut daftar "Hurun Richest Women in China 2026" yang dipublikasikan Hurun Research Institute, Zhou memiliki total kekayaan mencapai US$ 19 miliar atau sekitar Rp 344 triliun (estimasi kurs Rp 18.154 per dolar AS).

Mengutip VnExpress, Rabu (4/11/2026), Zhou berhasil menempati posisi puncak untuk kedua kalinya, menggeser Zhong Huijuan yang merupakan mantan guru kimia sekaligus pendiri produsen obat Hansoh Pharmaceutical.

Kisah perjalanan hidup Zhou menjadi inspirasi bagi banyak pekerja imigran di China karena ia membangun seluruh usahanya benar-benar dari nol.

Lahir di sebuah desa di Provinsi Hunan, Zhou harus kehilangan ibunya saat baru berusia lima tahun. Tak lama kemudian, ayahnya mengalami kecelakaan kerja hingga kehilangan penglihatannya.

Di usia 16 tahun, Zhou terpaksa berhenti sekolah dan merantau ke Shenzhen. Di sana, ia mengawali pekerjaannya sebagai sekuriti proyek konstruksi sebelum akhirnya beralih menjadi buruh jalur perakitan di pabrik kaca.

Berbekal pengalaman tersebut, Zhou memberanikan diri mendirikan bengkel kerjanya sendiri pada 1993 saat berusia 23 tahun. Ia mempelajari teknik pencetakan sablon (screen-printing) tingkat lanjut hingga teknik pemrosesan kaca lengkung khusus.

Satu dekade kemudian, Zhou bersama rekannya resmi mendirikan Lens Technology di Shenzhen.

Perusahaan tersebut meraih batu loncatan besar setelah menjalin kesepakatan dengan Motorola, hingga kemudian dipercaya menjadi pemasok utama layar sentuh untuk iPhone generasi pertama buatan Apple. Lens Technology sukses melakukan penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) di Shenzhen pada 2015, tahun yang sama saat Zhou pertama kali dinobatkan sebagai wanita terkaya di China.

Lalui Banyak Perjuangan dan Tantangan

Perjalanan Zhou membangun kerajaan bisnisnya dipenuhi lika-liku. Ia pernah ditinggalkan oleh rekan bisnisnya hingga menghadapi persaingan tidak sehat dari para kompetitor.

Pukulan keras kembali melanda pada 2018 ketika saham perusahaannya anjlok di tengah memuncaknya ketegangan perdagangan AS-China dan kekhawatiran melambatnya penjualan Apple.

Guna mengatasi tekanan tersebut, Lens Technology melakukan diversifikasi bisnis ke luar sektor smartphone. Perusahaan mulai merambah manufaktur perangkat berbasis kecerdasan buatan (AI), robotik, serta industri masa depan lainnya. Saat ini, Lens Technology memproduksi komponen untuk komputer, perangkat sandang pintar (smart wearable), kendaraan listrik, hingga robot humanoid.

Lens Technology juga melakukan pencatatan saham sekunder di Hong Kong yang mengalami kelebihan permintaan (oversubscribed) hingga 462 kali lipat, sekaligus menandai kembalinya Zhou ke panggung puncak bisnis global.

Sosoknya menarik perhatian publik saat duduk di antara CEO Apple Tim Cook dan pendiri Tesla Elon Musk dalam jamuan kenegaraan yang digelar Presiden China Xi Jinping untuk Presiden AS Donald Trump pada Mei lalu.

Selain itu, ia meraih peringkat ketiga dalam daftar "2026 Most Powerful Women Asia" versi majalah Fortune berkat keberhasilannya mengembangkan Lens Technology menjadi raksasa manufaktur global.

Dominasi Pengusaha Wanita Mandiri di China

Laporan Hurun Research Institute mencatat dari 50 wanita terkaya di China, sebanyak 65% di antaranya membangun kekayaan dari hasil jerih payah sendiri (self-made) yang memulai bisnis pada rentang usia 32–59 tahun.

Di jajaran lima besar, hanya ada dua nama yang memperoleh kekayaan dari warisan, yaitu Kwong Siu Hing dari perusahaan properti Hong Kong Sun Hung Kai Properties dan Kelly Zong dari raksasa minuman Wahaha.

China kini menjadi rumah bagi lebih dari separuh miliarder wanita self-made di dunia, yakni menyumbang 78 dari 150 nama dalam daftar global.

"Berdasarkan indikator ini, para wanita pengusaha di China menunjukkan prestasi luar biasa yang melampaui proporsi populasi mereka dalam panggung bisnis global," tulis laporan Hurun.