Yogyakarta (ANTARA) - Polda Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menyebut puluhan personel kepolisian dan warga mengalami luka-luka dalan aksi unjuk rasa yang berujung ricuh pada Hari Sumpah Pemuda, 28 Oktober, di kawasan Malioboro, Kota Yogyakarta.
Kapolda DIY Irjen Pol Langgeng Purnomo mengatakan benturan fisik di lapangan saat aksi unjuk rasa tersebut juga berdampak pada masyarakat dan aparat keamanan yang sedang melindungi masyarakat.
"Sebanyak 39 warga juga ikut menjadi korban dan sempat dirawat petugas kesehatan yang standby di DPRD, termasuk di pihak kami, sebanyak 60 personel dari Polda DIY dan Polresta Yogyakarta. Kemudian hampir gagar rotak, tangannya patah, kakinya patah," kata Langgeng saat ditemui di Mapolda DIY, Sleman, Sabtu.
Namun, diinformasikan para korban telah berangsur pulih dan sudah keluar dari rumah sakit.
Menurutnya, luka yang dialami para personel kepolisian beragam, mulai akibat terkena lemparan batu, petasan, hingga bom molotov saat bertugas di lapangan.
"Bagian dari evaluasi bahwa peristiwa tanggal 28, khususnya penyerangan terhadap aparat dengan menggunakan paving block, batu, kemudian penyerangan juga menggunakan bom molotov, petasan," ujarnya.
Oleh karena itu, lanjut Langgeng, Polda DIY telah meluncurkan Satuan Tugas (Satgas) Patroli Siaga Reserse (Pagar) dengan total 858 personel sebagai langkah pencegahan terhadap potensi kerusuhan.
"Ini juga bagian langkah pencegahan, sehingga diharapkan bagi para perusuh, bagi para pelaku-pelaku yang punya niat untuk berbuat anarkis, bahwa negara hadir dan siap sekarang. Untuk Polda DIY melalui penguatan satu detasemen," katanya.
Ia menyebut Satgas Pagar akan melakukan patroli dan apabila terdapat seseorang yang tertangkap tangan membawa barang bukti yang melanggar aturan, akan dilakukan proses hukum.
"Proses hukum ini oleh kami, kami akan selalu melibatkan pengawas internal yaitu dari inspektorat dipimpin oleh Pak Irwasda dan melibatkan pengawas eksternal yaitu dari Kompolnas, dari Komnas HAM," ujarnya.