Nasional

Polda Metro Dalami Dugaan Mahasiswa Bayaran di Acara Sumpah Pemuda

Polda Metro Dalami Dugaan Mahasiswa Bayaran di Acara Sumpah Pemuda
Jakarta, CNN Indonesia

 mengaku masih mengumpulkan informasi untuk mengungkap dugaan keterlibatan mahasiswa bayaran di agenda peringatan  di kawasan Bundaran HI Jakarta, beberapa waktu lalu.

Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Budi Hermanto, mengatakan pihaknya masih mengumpulkan informasi untuk mengungkap kronologi hingga akhirnya mahasiswa dimaksud bisa berada di lokasi acara dengan almamater kampus.

"Makanya, ini audit, investigasi, didalami, kenapa mahasiswa bayaran tadi dalam tanda kutip bisa berada di situ menggunakan jas almamater," kata Budi, Rabu (4/11).

Ia menyebut kepolisian maupun penyelenggara acara tidak menginginkan ada mahasiswa sewaan dalam kegiatan tersebut.

Menurutnya, acara peringatan Sumpah Pemuda seyogianya tidak hanya diperuntukkan bagi mahasiswa, melainkan juga dapat diikuti seluruh kalangan pemuda.

"Pasti kita akan, saya kasih buktinya, ada penyanyi yang dari Ambon, ada FBR. Namanya Sumpah Pemuda kan tidak harus mahasiswa. Seluruh pemuda boleh melaksanakan," ujarnya.

Saat ditanya mengenai keterlibatan pihak kepolisian dalam penyelenggaraan acara, ia memastikan kegiatan tersebut memiliki event organizer (EO) tersendiri.

"Ya pastinya ada EO sendiri lah, enggak mungkin kita lah ngurusin," ucap Budi.

Lebih lanjut, ia menambahkan hasil investigasi terkait keterlibatan dugaan mahasiswa bayaran itu akan disampaikan secara komprehensif setelah seluruh proses pendalaman selesai. Kata dia, pihak yang terbukti bertanggung jawab atas dugaan tersebut juga akan dikenai sanksi.

"Setelah itu komprehensif, paripurna, kami akan sampaikan pasti. Dan siapa yang bertanggung jawab terhadap itu pasti akan ada sanksinya," ungkapnya.

Sebelumnya, tiga peserta yang mengikuti deklarasi Sumpah Pemuda di Bundaran HI, Jakarta, pada Kamis (29/10) meminta maaf terkait penggunaan almamater kampus dan pengakuan sebagai mahasiswa.

Vrisma Nurhaliza, salah satu dari peserta tersebut menyampaikan permintaan maafnya melalui akun instagram resmi @keluargamahasiswautjkt pada Senin (2/11). Ia mengaku bukan mahasiswa Universitas Terbuka seperti almamater yang digunakannya pada aksi tersebut.

"Pada kesempatan kali ini, saya Vrisma Nurhaliza meminta maaf kepada seluruh mahasiswa dan kampus Universitas Terbuka atas situasi yang terjadi terkait penggunaan almamater berlogo Universitas Terbuka pada kegiatan deklarasi Sumpah Pemuda di Bundaran HI tanggal 29 Oktober 2026. Dengan ini, saya menegaskan bahwa saya bukan bagian dari mahasiswa Universitas Terbuka," ucap Vrisma.

Selain Vrisma, Sari Putri, perempuan yang memakai almamater berlogo Universitas Bina Sarana Informatika (BSI) ini juga turut meminta maaf melalui unggahan video pada akun Instagram @kbm_ubsi.dws.

"Pada kesempatan kali ini, saya Sari Putri, saya memohon maaf kepada seluruh mahasiswa Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) atas polemik yang terjadi terkait penggunaan almamater berlogo lama BSI dalam kegiatan deklarasi Sumpah Pemuda di Bundaran HI," kata Sari dalam video tersebut seperti dikutip Minggu (1/11).

Kemudian, Bayu Setiadi alias Dino juga menyampaikan permintaan maaf karena mengenakan almamater Universitas Dian Nusantara (Undira) saat aksi. Ia mengaku dirinya bukan merupakan mahasiswa dari kampus tersebut dan mengikuti aksi karena dibayar.

"Saya di sini hendak mengklarifikasi bahwa saya bukan mahasiswa Universitas Dian Nusantara. Saya mengikuti acara deklarasi Sumpah Pemuda di Bundaran HI pada 29 Oktober 2006 berdasarkan undangan dari komunitas dan saya dibayar," ucap Dino pada akun Instagram @bem_undira pada Jumat (30/10).

Polda Metro Jaya sebelumnya juga mengungkapkan permintaan maaf atas pemberitaan yang beredar hingga menjadi perhatian masyarakat terkait deklarasi Sumpah Pemuda Mahasiswa Indonesia 2026.

"Atas nama Polda Metro Jaya, kami meminta maaf kepada seluruh masyarakat. Kami memahami kegiatan tersebut menimbulkan beragam tanggapan, dan setiap kritik yang disampaikan kami terima dengan lapang dada untuk menjadi evaluasi," kata Budi dalam keterangan resmi, Sabtu (31/10).

"Saudara Raffi Ahmad dan saudara Willie Salim datang atas undangan kami selaku penyelenggara. Keduanya berniat baik untuk turut memaknai Sumpah Pemuda," sambungnya.