Ekonomi

Proyeksi Rupiah 2027: Bisa Rp17.780/US$, Tapi Awas Tekanan di Awal!

Proyeksi Rupiah 2027: Bisa Rp17.780/US$, Tapi Awas Tekanan di Awal!

Sabang, CNBC Indonesia - Kepala Ekonom Bank Danamon Irman Faiz memproyeksikan nilai tukar rupiah lebih baik pada 2027, dengan rata-rata di kisaran Rp17.780 per dolar AS. Meski demikian, tekanan terhadap rupiah diperkirakan masih terjadi pada awal tahun depan.

Penguatan rupiah tersebut karena sentimen terhadap pasar keuangan Indonesia diperkirakan akan membaik, terutama dari eksternal. Perbaikan sentimen tersebut diharapkan mendorong kembali masuknya arus modal asing ke pasar keuangan domestik dan memberikan dukungan terhadap stabilitas nilai tukar rupiah.

"Nah ini yang kita harus perhatikan apakah sentimennya akan membaik atau tidak. Dan di tahun depan kami melihat sentiment ini akan membaik," katanya saat media briefing Bank Indonesia di Sabang, Aceh pada Kamis (5/11/2026).

Berdasarkan proyeksi tersebut, Irman memperkirakan rata-rata nilai tukar rupiah sepanjang 2027 berada di sekitar Rp17.780 per dolar AS atau relatif lebih kuat dibandingkan level Rp18.000.

Namun, rupiah masih berpotensi mengalami tekanan pada awal tahun seiring adanya ketidakpastian yang memengaruhi keputusan investasi global.

alam kondisi tersebut, rupiah berpeluang kembali menyentuh level Rp18.000 per dolar AS. Namun, tekanan diperkirakan dapat mereda setelah ketidakpastian mulai teratasi dan investor kembali melihat peluang pertumbuhan ekonomi Indonesia.

"Jadi saya proyeksi rupiah akan sepanjang tahun Rp17.800-Rp17.700 tadinya, ada potensi untuk kembali ke Rp18.000 di first quarter, tapi if we can go through the turbulence di kuartal dua, maka dia akan membaik di kuartal dua," ujarnya.

Menurutnya, apabila tekanan pasar pada kuartal pertama telah terlewati, peluang masuknya kembali investor aktif akan semakin terbuka. Investor dengan orientasi jangka panjang berpotensi memanfaatkan kondisi pasar yang telah mengalami koreksi untuk kembali masuk ke aset-aset domestik.

Hal tersebut didorong oleh keyakinan bahwa prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia masih tetap terjaga meskipun pasar menghadapi tekanan dalam jangka pendek.

Di sisi lain, Irman memproyeksikan Indonesia memang mengalami potensi pelebaran defisit transaksi berjalan menjadi 1,5% pada tahun ini dan 1,6% pada 2027. Pelebaran defisit tersebut menunjukkan kebutuhan dolar AS Indonesia masih relatif tinggi. Namun, menurutnya, tingkat defisit saat ini masih jauh lebih rendah dibandingkan kondisi pada periode 2013-2014.

"Artinya memang kebutuhan dolar kita relatif tinggi, tapi dengan 1,6% deficit karena ekonomi itu sebenarnya kalau kita bagikan jauh lebih kecil dibandingkan dengan 3,3% atau 4,5% karena itu defisit kita pada saat 2013-2014 sebelum Covid," katanya.

Dengan kondisi tersebut, Irman menilai tekanan terhadap rupiah saat ini lebih banyak dipengaruhi oleh sentimen pasar dibandingkan persoalan fundamental keseimbangan pasokan dan permintaan valuta asing.

"Artinya sebenarnya fundamentally supply demand rupiah itu harusnya tidak terdekat tidak di level sekarang levelnya. Mostly itu digerakkan oleh sentiment, karena tadi Bapak Ibu bisa lihat portfolio gross kita yang keluar pada tahun Covid kemudian kembali lagi secara perlahan itu belum balik ke level Covid," imbuhnya.

[Gambas:Video CNBC]