Nasional

PT KBI Perluas Jangkauan Sistem Resi Gudang

PT KBI Perluas Jangkauan Sistem Resi Gudang

JAKARTA – Ekosistem Sistem Resi Gudang (SRG) yang dikembangkan PT Kliring Berjangka Indonesia (Persero) atau PT KBI terus meluas. Sepanjang Januari hingga Oktober 2026, jumlah pengelola gudang dalam ekosistem tersebut bertambah 10,6 persen dengan cakupan komoditas mulai dari gula, kopi, tembakau, gabah, beras, hingga rumput laut.

Pengembangan SRG dilakukan PT KBI bersama Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti) melalui kolaborasi dengan sejumlah pemangku kepentingan. Mitra yang terlibat antara lain Otoritas Jasa Keuangan (OJK), pemerintah daerah, perbankan, pelaku usaha, dan mitra internasional.

SRG merupakan instrumen yang dapat dimanfaatkan petani dan pelaku usaha komoditas untuk mengakses pembiayaan dengan menggunakan komoditas yang disimpan di gudang sebagai dasar penerbitan resi. Melalui sistem ini, komoditas yang tersimpan juga dapat tercatat dan terverifikasi.

Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko merangkap Pelaksana Tugas Direktur Utama PT KBI, Adiyasa Suhadibroto, mengatakan pengembangan SRG perlu didukung pencatatan komoditas yang akurat. Hal tersebut menjadi salah satu dasar bagi lembaga pembiayaan dan pembeli untuk memperoleh informasi mengenai komoditas yang tersimpan.

“Resi Gudang bukan sekadar instrumen penyimpanan, melainkan pintu bagi petani dan pelaku usaha komoditas untuk mengakses pembiayaan dan pasar yang lebih luas. Melalui pengembangan SRG dan pencatatan digital seperti e-Seaweed Platform, data komoditas menjadi lebih terverifikasi dan dapat menjadi fondasi kepercayaan bagi perbankan maupun pembeli,” ujar Adiyasa, Jumat (6/11/2026).

Salah satu pengembangan digital yang didukung PT KBI adalah peluncuran e-Seaweed Platform di Sulawesi Selatan pada 23–24 September 2026. Platform ini merupakan inisiatif bersama International Labour Organization (ILO) dan Pemerintah Swiss melalui State Secretariat for Economic Affairs (SECO), dengan dukungan OJK serta pemangku kepentingan nasional dan daerah.

Platform tersebut mencatat aktivitas petani rumput laut secara real time, mulai dari budidaya, transaksi, hingga proses di gudang. Data yang terverifikasi diharapkan dapat menjadi dasar pemanfaatan SRG dan memperluas akses pembiayaan bagi petani.

Dalam pelaksanaannya, PT KBI berperan sebagai Pusat Registrasi yang memastikan setiap Resi Gudang tercatat dan terverifikasi melalui Sistem IS-Ware Next Gen. Pencatatan digital tersebut menjadi bagian dari pengembangan layanan SRG untuk mendukung transparansi data komoditas.

Selain pengembangan SRG, PT KBI mencatat total transaksi Perdagangan Berjangka Komoditi (PBK) yang dikliringkan mencapai 9,27 juta lot hingga Oktober 2026. Angka tersebut tumbuh 2,6 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Segmen Loco dan Komoditi Sistem Perdagangan Alternatif (SPA) mencatat pertumbuhan transaksi 12,7 persen. Sementara itu, transaksi pasar fisik timah dalam negeri meningkat 17,68 persen secara tahunan.