Artis-artis Indonesia masih gencar menyoroti dampak kebakaran hutan dan lahan () yang masih terjadi di sejumlah wilayah, seperti Kalimantan hingga Sumatra.
Tak hanya menaruh perhatian lewat media sosial dengan basis pengikut mereka, mereka turut menggalang donasi bagi warga hingga untuk pemulihan alam yang terdampak.
Salah satunya adalah Raisa yang turut menarik perhatian publik saat menggalang donasi melalui pendapatan video musik terbarunya bertajuk Nyawa dan Harapan.
Lagu yang pertama kali dirilis 27 April 2016 itu kini memiliki video musik dengan visual sejumlah lanskap alam terdampak karhutla, kabut asap yang menyelimuti Sumatra Selatan, hingga orang utan yang terdampak bencana tersebut.
Dalam unggahan media sosial, Raisa menyebut penghasilan video musik Nyawa dan Harapan hingga 28 Oktober 2027 didonasikan untuk mendukung program restorasi habitat melalui Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI).
"Di setiap kehidupan ada harapan yang layak untuk dijaga," tulis Raisa di Instagram pada 28 Oktober 2026.
"Seluruh pendapatan JUNI Records dan Raisa yang dihasilkan dari music video Nyawa dan Harapan hingga 28 Oktober 2027 akan didonasikan untuk mendukung program restorasi habitat melalui Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI)," sambungnya.
Tak hanya Raisa, Natasha Rizky turut menggalang dana untuk membantu masyarakat terdampak karhutla di Kalimantan dan Sumatra.
Melalui unggahan di media sosial pada Sabtu (31/10), Natasha mengunggah dana yang terkumpul mencapai lebih dari Rp224 juta, melampaui target penggalangan sebesar Rp150 juta.
Ia juga menyampaikan bahwa penggalangan dana tersebut telah memasuki tahap pencairan ketiga untuk membantu memenuhi kebutuhan masyarakat terdampak.
"Terima kasih banyak untuk semua orang baik yang sudah berdonasi. Saat ini sudah memasuki pencairan tahap ketiga untuk membantu kebutuhan masyarakat terdampak, mulai dari obat-obatan hingga kebutuhan pokok," tulisnya di Threads.
Natasha juga berkomitmen membagikan update terbaru dari proses pencairan donasi tersebut.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan masih ada 742 hektare lahan yang terbakar akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) hingga Senin (2/11).
Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton SP Panjaitan mengatakan lahan yang terbakar itu tersebar di sejumlah provinsi, di mana Kalimantan Tengah dan Papua Selatan menjadi wilayah dengan luasan terbesar.
"Secara nasional kami bisa menyampaikan ada 742 hektare lahan terbakar," kata Berton seperti dikutip Selasa (3/11).
Berton merinci, Kalimantan Tengah mencatat luas lahan terbakar mencapai 351 hektare. Angka tersebut turun 42 persen dibandingkan hari sebelumnya.
Kemudian, Papua Selatan mencatat luas lahan terbakar 253 hektare atau turun 56 persen. Sementara itu, Sulawesi Tenggara mencatat 95 hektare atau turun 63 persen.
Adapun di Nusa Tenggara Timur, luas lahan terbakar mencapai 16 hektare atau turun 36 persen. Sementara di Bangka Belitung luas lahan terbakar seluas delapan hektare, dan di Kalimantan Barat mencapai 19 hektare.
Disampaikan Berton, di wilayah Bangka Belitung dan Kalimantan Barat sebelumnya tidak dilaporkan ada titik api. Namun, pada Senin kemarin justru ditemukan ada lahan yang terbakar.
Sementara itu, kata Berton, total ada 54 armada udara yang disiagakan untuk mendukung penanganan karhutla. Sebanyak 22 armada di antaranya digunakan untuk patroli dan operasi modifikasi cuaca, sementara 30 helikopter disiapkan untuk operasi pemadaman melalui water bombing.
"Kami lihat ada di Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Jambi dan Riau tetap ada standby atau dalam keadaan siap siaga ketika nanti pesawat ini dibutuhkan untuk keperluan yang ketika ada titik api ataupun memang diperlukan untuk melakukan modifikasi cuaca," ucap dia.
Selain itu, BNPB juga menyiapkan dukungan udara di Jawa Timur, Kalimantan Timur, Papua Selatan dan Papua Barat Daya untuk mengantisipasi kebutuhan penanganan karhutla.
Berton menegaskan kesiapsiagaan tetap dilakukan untuk mengantisipasi kemunculan titik api baru, termasuk di wilayah yang mulai mengalami hujan.