Nasional

RS Ubaya operasikan Cath Lab 24 jam tangani penyakit jantung

RS Ubaya operasikan Cath Lab 24 jam tangani penyakit jantung
Range-nya kita mulai dari Rp40-an juta, tergantung casenya

Surabaya (ANTARA) - Rumah Sakit (RS) Ubaya Surabaya mengoperasikan layanan Catheterization Laboratory (Cath Lab) selama 24 jam untuk menangani penyakit jantung dan gangguan pembuluh darah dengan kapasitas hingga 10 tindakan per hari.

“Range-nya kita mulai dari Rp40-an juta, tergantung casenya,” kata Direktur RS Ubaya dr. Wenny Retno Sari Lestari di Surabaya.

Wenny mengatakan, layanan Cath Lab saat ini melayani pasien umum, asuransi, dan perusahaan. Sementara itu, RS Ubaya masih mempersiapkan tahapan pengajuan kerja sama dengan BPJS Kesehatan.

Dengan satu unit fasilitas, Cath Lab berpotensi melayani lima hingga 10 tindakan setiap hari, bergantung pada jenis dan kompleksitas kasus.

Cath Lab RS Ubaya menggunakan sistem angiografi Philips Azurion 5 yang mendukung lima bidang spesialisasi, yakni jantung, vaskular, bedah toraks kardiak dan vaskular (BTKV), bedah saraf, serta radiologi intervensi.

Wenny menjelaskan, pengembangan fasilitas tersebut diarahkan untuk menghadirkan layanan jantung dan pembuluh darah yang lebih komprehensif, termasuk tindakan intervensi struktural jantung dan penanganan kelainan pada aorta.

“Harapannya nanti bisa sampai ke rekonstruksi struktural dari jantung itu sendiri. Jadi kami siapkan juga untuk tindakan yang lebih kompleks, termasuk sampai ke aortanya,” ujarnya.

Dari sisi kesiapan sumber daya manusia, RS Ubaya didukung tenaga keperawatan bersertifikasi jantung lanjutan serta tim fisioterapi yang memiliki pelatihan khusus fisioterapi jantung.

Rumah sakit juga menyiapkan fasilitas penunjang berupa CT scan jantung dan magnetic resonance imaging (MRI) untuk membantu diagnosis pasien.

Dokter spesialis jantung RS Ubaya dr. Dimas Rio Balti mengatakan, teknologi yang tersedia sudah dapat digunakan untuk menangani kasus kegawatdaruratan jantung, termasuk acute coronary syndrome (ACS) atau sindrom koroner akut.

Salah satu teknologi yang digunakan adalah Coronary Map untuk membantu dokter memetakan pembuluh darah koroner selama tindakan sekaligus mengurangi penggunaan zat kontras.

Penggunaan zat kontras secara berlebihan berisiko mengganggu fungsi ginjal, terutama pada pasien dengan faktor risiko sebelumnya.

“Coronary Map akan mengurangi kontras. Kontras itu akan memberikan efek yang buruk kalau kebanyakan kepada pasien. Jadi kita menggunakan kontras lebih minimal, sehingga ginjalnya bisa lebih baik,” katanya.

Selain itu, perangkat tersebut diklaim mampu menekan paparan radiasi hingga 30 persen lebih rendah dibandingkan kebanyakan perangkat sejenis, baik bagi pasien maupun operator medis.

Dimas menambahkan, sejumlah teknologi intervensi lanjutan masih dalam proses pengadaan, di antaranya instantaneous wave-free ratio (iFR) dan fractional flow reserve (FFR) untuk menilai tingkat penyempitan pembuluh darah koroner, serta rotational atherectomy untuk menangani penyumbatan pembuluh darah yang mengalami pengapuran.

“Untuk teknologi standar penanganan acute coronary syndrome, pasien serangan jantung, kita sudah bisa. Kalau alat-alat yang lebih canggih sedang kita adakan dan itu sudah diproses,” ujarnya.

Sementara itu, dokter spesialis saraf RS Ubaya dr. Yudhi Adrianto menjelaskan, Cath Lab juga dapat dimanfaatkan untuk tindakan pada pembuluh darah otak bagi pasien stroke serta gangguan pembuluh darah perifer atau pembuluh darah di bagian tepi tubuh.

Ia mengingatkan masyarakat agar mewaspadai gejala gangguan aliran darah pada kaki, seperti kesemutan, terasa dingin, hingga perubahan warna kulit menjadi kehitaman.

Jika tidak segera ditangani, kondisi tersebut dapat berkembang menjadi komplikasi serius hingga berujung amputasi.