Liputan6.com, Jakarta - Tren pelemahan kian menjepit keberlangsungan industri tahu dan tempe nasional. Tingginya ketergantungan terhadap impor membuat lonjakan harga bahan baku tak terelakkan, hingga memaksa para perajin, khususnya skala kecil dan menengah menghadapi pembengkakan biaya produksi.
Menanggapi kondisi yang kian genting ini, Gabungan Koperasi Produsen Tempe Tahu Indonesia (Gakoptindo) mendesak pemerintah untuk segera turun tangan menstabilkan harga kedelai impor, sekaligus mempercepat program swasembada kedelai nasional.
Sekretaris Jenderal Gakoptindo, Wibowo Nurcahyo, menuturkan bahwa terpuruknya kurs rupiah langsung berdampak pada melonjaknya beban operasional perajin di lapangan.
"Ketika rupiah melemah, harga kedelai impor semakin mahal. Kondisi ini membuat biaya produksi pengusaha tahu dan tempe meningkat, sementara kami tidak bisa sembarangan menaikkan harga jual karena harus mempertimbangkan daya beli masyarakat," ujar Wibowo kepada Liputan6.com, Rabu (4/11/2026).
Ia menambahkan, ketergantungan pada pasokan luar negeri menjadikan industri olahan kedelai lokal sangat rapuh terhadap dinamika harga komoditas global dan fluktuasi mata uang. Jika tidak ada intervensi konkret, ancaman henti produksi membayangi para pelaku usaha.
"Jangan sampai pelemahan rupiah dan kenaikan harga kedelai membuat pengusaha tahu dan tempe satu per satu gulung tikar. Pemerintah harus segera mengambil langkah agar industri ini tetap bertahan," katanya.
Solusi Jangka Panjang
Sebagai solusi jangka panjang, Gakoptindo mendorong pemerintah mengakselerasi kemandirian pangan lewat swasembada kedelai. Penguatan produksi lokal dinilai menjadi kunci utama untuk memutus rantai ketergantungan impor dan melindungi perajin dari gejolak rupiah.
Wibowo pun meminta adanya keberpihakan nyata kepada para petani kedelai, mulai dari distribusi benih berkualitas, penyediaan sarana produksi, pendampingan teknis, hingga jaminan penyerapan hasil panen di pasar.
"Indonesia harus mulai serius membangun swasembada kedelai. Dengan produksi dalam negeri yang kuat, pengusaha tahu dan tempe tidak terus-menerus bergantung pada kedelai impor dan tekanan pelemahan rupiah," ujarnya.