Politik

Rusia Serius Garap Kota Antariksa di Biak, Siap Bangun Infrastruktur Peluncuran Satelit

Rusia Serius Garap Kota Antariksa di Biak, Siap Bangun Infrastruktur Peluncuran Satelit

DEPOK — Rusia menyatakan kesiapannya terlibat dalam pembangunan infrastruktur antariksa di Biak, Papua. Moskow bahkan menegaskan siap berkontribusi setelah Indonesia mengambil keputusan final untuk memulai konstruksi fasilitas antariksa di wilayah tersebut.

Keseriusan Rusia itu disampaikan Duta Besar Rusia untuk Indonesia, Sergei Gennadievich Tolchenov, dalam peluncuran dan bedah buku Biak di Pusaran Geopolitik Pasifik: Rusia, Satelit, dan Masa Depan Strategis Indonesia karya Laus D.C. Romayom di Auditorium Juwono Sudarsono, FISIP Universitas Indonesia (UI), Depok, Kamis (5/11/2026).

Tolchenov mengatakan, posisi geografis Biak yang strategis menjadi salah satu daya tarik utama bagi pengembangan infrastruktur keantariksaan. Kedutaan Besar Rusia, kata dia, siap memfasilitasi kerja sama antara badan antariksa Rusia dan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).

Pernyataan tersebut memperlihatkan keseriusan Rusia menjajaki peluang kerja sama antariksa dengan Indonesia, terutama dalam pengembangan fasilitas peluncuran satelit di Biak.

Dalam kesempatan itu, Tolchenov menegaskan Rusia siap berkontribusi apabila pemerintah Indonesia telah mengambil keputusan final untuk memulai pembangunan.

Peluncuran buku tersebut diselenggarakan Center for International Relations Studies, Lembaga Penelitian dan Pengembangan Sosial dan Politik FISIP UI (CIReS LPPSP FISIP UI). Forum ini mempertemukan perwakilan diplomatik, kementerian dan lembaga, pemerintah daerah, akademisi, masyarakat sipil, serta mahasiswa untuk membahas posisi strategis Biak dalam geopolitik Pasifik.

Peluncuran dan bedah buku Biak di Pusaran Geopolitik Pasifik: Rusia, Satelit, dan Masa Depan Strategis Indonesia karya Laus DC Romayom di Auditorium Juwono Sudarsono, FISIP Universitas Indonesia (UI), Depok, Kamis (5/11/2026).
Peluncuran dan bedah buku Biak di Pusaran Geopolitik Pasifik: Rusia, Satelit, dan Masa Depan Strategis Indonesia karya Laus DC Romayom di Auditorium Juwono Sudarsono, FISIP Universitas Indonesia (UI), Depok, Kamis (5/11/2026). - (Dok UI)

Direktur CIReS LPPSP FISIP UI, Prof. Dr. Fredy BL. Tobing, mengatakan penerbitan buku tersebut merupakan upaya memperkenalkan potensi strategis Biak, sekaligus bentuk perhatian Universitas Indonesia terhadap pembangunan Papua.

Dia berharap pembahasan tersebut dapat mendorong optimalisasi pembangunan Indonesia bagian timur.

Wakil Bupati Biak Numfor, Jimmy Carter Rumbarar Kapissa, yang hadir mewakili bupati, menyampaikan apresiasi atas penerbitan buku tersebut. Menurut dia, Biak memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai kawasan strategis, mulai dari geopolitik antariksa, ketahanan energi dan pangan, hingga poros maritim dan simpul logistik.

"Biak bukan lagi sekadar halaman belakang Indonesia. Biak memiliki nilai jualnya sendiri untuk menjadi poros maritim dunia," ujar Jimmy.

Dia berharap buku tersebut dapat menjadi rujukan bagi para pemangku kebijakan dalam merumuskan arah pembangunan Biak ke depan.

Persaingan geopolitik antariksa

Penulis buku, Laus D.C. Romayom, menjelaskan, gagasan penerbitan buku tersebut berangkat dari kegelisahan terhadap belum optimalnya pemanfaatan posisi strategis Biak.

Menurut dia, nilai strategis Biak bertumpu pada empat aspek, yakni posisi geografis, akses, infrastruktur, dan fungsi kawasan. Ketertarikan Rusia, termasuk terhadap pengembangan sistem peluncuran satelit berbasis udara, menunjukkan bahwa kepentingan terhadap Biak telah melampaui persoalan pembangunan daerah.

Namun, dia mengingatkan, pengembangan kawasan antariksa membutuhkan investasi infrastruktur, peningkatan kualitas sumber daya manusia, serta kesinambungan kelembagaan. Pembangunan juga harus menghormati hak-hak masyarakat adat.

"Biak bukan hanya tentang apa yang diinginkan dunia dari Indonesia, tetapi juga tentang apa yang ingin dan mampu dilakukan Indonesia bagi masa depannya sendiri di Pasifik," kata Laus.

Dia menegaskan, keberhasilan pengembangan Biak tidak cukup diukur dari terjalinnya kerja sama internasional. Proyek tersebut juga harus mampu meningkatkan kapasitas teknologi nasional dan kesejahteraan masyarakat Papua.

Dalam diskusi buku yang dipandu jurnalis dokumenter INADIS Horizon, Tiara Harahap, sejumlah akademisi dan pemangku kepentingan turut memberikan pandangan mengenai peluang dan tantangan pengembangan kawasan antariksa di Biak.

Prof. Dr. Erna Sri Adiningsih dari Indonesia Space Agency (INASA) BRIN menyoroti tantangan koordinasi berbagai lembaga keantariksaan di Indonesia. Dia juga melihat peluang pengembangan ekonomi antariksa (space economy) yang dapat membuka ruang keterlibatan sektor swasta.

Menurut dia, Biak perlu menjadi modal utama dalam diplomasi antariksa Indonesia.

Sementara itu, peneliti Lab45, Dr. Andi Widjajanto, mengingatkan pembangunan fasilitas antariksa di Biak akan membawa Indonesia masuk ke dalam sistem internasional yang semakin kompleks.

Karena itu, Indonesia perlu menjaga prinsip politik luar negeri bebas aktif dalam menentukan mitra kerja sama. Pengembangan teknologi antariksa, menurut dia, tidak dapat dilepaskan dari dinamika persaingan geopolitik global.

Broto Wardoyo dari Departemen Hubungan Internasional FISIP UI menilai buku tersebut membuka ruang penelitian lebih luas mengenai Papua, khususnya posisi Biak dalam persaingan teknologi dan antariksa global.

Adapun Asra Virgianita, Ph.D., juga dari Departemen Hubungan Internasional FISIP UI, menekankan pentingnya perspektif ekonomi politik dan lingkungan. Dia mengingatkan agar hubungan dalam pengembangan ekonomi antariksa dibangun secara setara dan tidak membuat Indonesia terseret dalam kontestasi politik global.

Masyarakat adat harus dilibatkan

Anggota DPD RI daerah pemilihan Papua Barat, Filep Wamafma, menegaskan masyarakat Biak perlu menjadi bagian utama dalam rencana pengembangan kawasan antariksa tersebut.

Dia menyebut masyarakat Biak memiliki kesiapan dari sisi sumber daya manusia. Namun, pemerintah dan BRIN perlu menjelaskan secara transparan manfaat proyek bagi masyarakat dan pemerintah daerah.

Jaminan perlindungan lingkungan serta keberlangsungan mata pencaharian warga juga harus menjadi perhatian.

"Masyarakat Biak jauh lebih memahami Biak itu sendiri. Kalau ada gejolak, buka ruang bagi intelektual Biak untuk berbicara," ujar Filep.

Dalam sesi tanya jawab, peserta dari kementerian, Fakultas Hukum UI, dan Program Studi Hubungan Internasional Universitas Kristen Indonesia turut mempertanyakan peluang kerja bagi orang asli Papua, kepastian hak ulayat, serta mekanisme pembagian manfaat ekonomi yang adil.

Peserta juga menyoroti adanya penolakan dari sebagian tokoh gereja dan masyarakat terhadap rencana pengembangan kawasan tersebut.

Menanggapi hal itu, Erna menekankan pentingnya program peningkatan kapasitas secara berkesinambungan dan afirmasi pendidikan bagi putra daerah. Filep menyatakan DPD RI membuka ruang dialog untuk menampung aspirasi masyarakat.

Sementara itu, Asra mengingatkan bahwa kajian manfaat ekonomi harus berjalan beriringan dengan analisis dampak lingkungan dan perlindungan masyarakat adat.

Melalui forum tersebut, CIReS LPPSP FISIP UI berharap Biak dapat dipahami bukan sekadar sebagai lokasi potensial pembangunan fasilitas antariksa, melainkan juga sebagai kawasan strategis yang menentukan posisi Indonesia di Pasifik.

Pengembangan Biak, pada akhirnya, perlu menempatkan kepentingan nasional dan masyarakat Papua sebagai pijakan utama di tengah meningkatnya perhatian negara-negara besar terhadap kawasan antariksa.