BANDUNG -- Republika bersama Rumah Yatim dan Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH) menggelar forum diskusi bertajuk "Leader to Leader" yang diselenggarakan di The Papandayan Hotel, Kota Bandung, Jawa Barat, pada Sabtu (7/10/2026). Mengusung tema "Beyond Business, Beyond Charity: Kepemimpinan yang Mengubah Kepedulian Menjadi Dampak", forum ini mempertemukan sejumlah tokoh penting untuk membahas arah baru kepemimpinan yang berorientasi pada perubahan nyata.
Diskusi ini menghadirkan Anggota Komisi VIII DPR RI Atalia Praratya, Anggota Badan Pelaksana Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH) Republik Indonesia Indra Gunawan, Direktur Rumah Yatim Nugroho B Wismono, serta jajaran narasumber inspiratif lainnya untuk mengupas tuntas bagaimana kepedulian sosial dapat diterjemahkan menjadi aksi kolosal yang membawa kemaslahatan luas bagi masyarakat. Direktur Rumah Yatim Nugroho menilai forum diskusi seperti ini sangat penting untuk menyinergikan berbagai sektor, termasuk permasalahan sosial yang membutuhkan kolaborasi berbagai elemen.
"Permasalahan sosial tentu harus kita selesaikan dengan sebaik-baiknya dan tidak mungkin diselesaikan oleh satu pihak saja. Ketika permasalahan sosial hanya diselesaikan oleh sebagian pihak, pekerjaan tersebut tidak akan tuntas. Oleh karena itu, sinergi ketiga pihak ini harus terus dikembangkan secara maksimal," kata Nugroho.
Sebagai lembaga sosial, Rumah Yatim dalam menjalankan tugasnya selalu berkoordinasi dengan pemerintah, baik pemerintah daerah maupun pemerintah pusat, ketika menyalurkan bantuan kepada masyarakat. Saat ini, kata Nugroho, Rumah Yatim telah membuat protokol agar lembaga-lembaga zakat bersama pemerintah dapat menyelaraskan program dan data.
"Hari ini, Republika turut melakukan koordinasi sehingga komunitas telah menyatukan data-data tersebut di dalam satu pusat data (data center). Dengan demikian, data tersebut dapat menjadi acuan bagi lembaga-lembaga zakat untuk bergerak dan membuat program dalam menyelesaikan berbagai permasalahan sosial," ujar Nugroho.
Sebagai lembaga yang juga mengasuh anak yatim, kata Nugroho, pihaknya juga berupaya mengambil bagian untuk melepaskan kehidupan mereka dari jerat kemiskinan. Anak-anak yatim, kata dia, memiliki keterbatasan akses pendidikan, kesehatan, dan ekonomi sehingga, seolah-olah kemiskinan terus diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
"Padahal, ketika mereka diberikan akses yang sama dengan orang lain, mereka juga memiliki kesempatan untuk melakukan perubahan. Hal inilah yang kami lakukan di Rumah Yatim. Ketika anak-anak yatim diberikan akses dan kesempatan yang sama, ternyata hasilnya luar biasa," kata dia.
Saat ini, kata Nugroho, pihaknya sudah membangun 12 sekolah dengan tenaga pendidik dari anak-anak yatim yang telah menempuh pendidikan di perguruan tinggi, khususnya di bidang pendidikan. Bahkan saat ini menurutnya, minat untuk masuk ke sekolah yang kami bangun meningkat dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
"Karena itu, kami sedang mempertimbangkan pembangunan empat sekolah dalam satu tahun. Ini menjadi bukti bahwa ketika anak-anak yatim diberikan kesempatan dan akses yang sama, mereka juga mampu membangun dunia yang lebih baik," kata dia.