Teknologi

Suka Duka Hacker Korut, Dikasih Apartemen Tapi Kerja Penuh Stress

Suka Duka Hacker Korut, Dikasih Apartemen Tapi Kerja Penuh Stress
Jakarta

Hacker Korea Utara sedang menjadi sorotan karena diduga sebagai dalang pencurian kripto di platform Binance senilai USD 6,3 miliar atau sekitar Rp 114 triliun. Rupanya hacker menjadi profesi idaman di Korea Utara walaupun banyak tekanan.

Menurut informasi dari pembelot dan analis, Korea Utara memiliki program pendidikan yang setiap tahunnya memilih 200 siswa sekolah menengah paling cerdas untuk mempelajari teknik komputer. Program ini sudah berjalan selama satu dekade lebih.

Seleksi kandidat dimulai dari sekolah menengah sejak usia 11 atau 12 tahun. Pihak berwenang kemudian memilih sekitar 150 hingga 200 anak setiap tahun untuk mempelajari ilmu komputer.

Pada usia 17 tahun, para siswa berprestasi terbaik dikirim ke universitas-universitas terbaik di Korea Utara dan menjalani seleksi lebih lanjut. Kandidat yang lolos akan bergabung ke unit siber militer Korea Utara sebagai hacker.

Para hacker muda ini dilatih di bidang-bidang seperti protokol mata uang kripto dan rekayasa balik perangkat asing. Mereka juga mempelajari topik konvensional seperti matematika dan bahasa asing.

Mereka yang tidak terpilih menjadi hacker dilatih untuk membuat software atau aplikasi untuk perusahaan-perusahaan Barat lewat pekerjaan jarak jauh.

"Sementara siswa-siswa terbaik Korea Selatan mungkin mengejar karir di bidang kedokteran atau karir bergengsi lainnya, Korea Utara menyalurkan talenta terbaiknya ke dalam program nuklir dan siber yang pada dasarnya menjamin masa depan mereka," kata Lim Jongin, profesor emeritus sekolah keamanan siber di Korea University, seperti dikutip dari Reuters, Minggu (8/11/2026).

Hacker Korea Utara bisa mendapatkan hak istimewa seperti perjalanan luar negeri ke negara-negara sekutu, seperti China, di mana mereka dapat mengakses internet dengan bebas.

Kalau operasi peretasan mereka berhasil, hacker Korea Utara dapat membawa pulang 30% dari total keuntungan perampokan dalam mata uang dolar AS. Beberapa hacker bahkan menerima apartemen di ibukota negara Pyongyang di mana orang tua mereka juga dapat tinggal bersama.

Lim mengatakan apartemen yang diberikan kepada hacker luasnya mencapai 132 meter persegi. Selain itu, hacker juga berhak menjadi anggota partai yang berkuasa dan menikai anggota keluarga elit.

Meski terlihat menjanjikan, lingkungan kerja hacker Korea Utara tidak kondusif dan penuh tekanan, terutama yang diberi misi atau dikirim ke luar negeri. Mereka harus tinggal di ruang sempit, bekerja lebih dari 10 jam sehari, dan diawasi terus-menerus. Mereka juga harus memenuhi target bulanan, atau bersiap menghadapi penghinaan dan hukuman lainnya.

"Selalu ada tekanan untuk terus menghasilkan uang. Tekanannya sangat ekstrem, sehingga orang-orang memiliki masalah kesehatan yang sebelumnya tidak mereka miliki," kata Nam Bada, direktur eksekutif PSCORE.