Jakarta (ANTARA) - Studio produksi drama vertikal asal Indonesia, Suneeday Creative, tetap mengandalkan kreativitas manusia dalam pengembangan cerita dan karakter di tengah meningkatnya penggunaan kecerdasan buatan (AI) dalam produksi micro drama di China.
Chief Commercial & Marketing Officer Suneeday Creative Sahlil Ge mengatakan teknologi AI dimanfaatkan untuk mempercepat proses produksi, tetapi penentuan cerita dan karakter tetap melibatkan penulis, sutradara, dan pemeran.
“China menunjukkan seberapa cepat teknologi bisa memproduksi drama dalam jumlah besar. Tapi untuk saat ini volume bukan tantangan kami, karena kami sudah memproduksi lebih dari 600 episode per bulan. Yang dicari penonton dan brand di Indonesia adalah karakter yang mereka percaya, dan itu lahir dari manusia,” kata Sahlil dalam keterangan tertulis di Jakarta, Jumat.
Pernyataan tersebut disampaikan setelah Suneeday menjadi salah satu studio yang diundang YouTube dalam acara The Micro Drama Frontier di Hangzhou dan Hengdian, China, pada 20-22 Oktober 2026.
Dalam kegiatan tersebut, peserta mengunjungi studio dan lokasi syuting di Hengdian World Studios serta mengikuti diskusi bersama pimpinan YouTube kawasan Asia Pasifik, eksekutif produksi micro drama, dan kreator.
Diskusi antara lain membahas perkembangan format micro drama, peluang bisnis global, serta perubahan industri produksi konten seiring berkembangnya teknologi AI.
Hengdian selama ini dikenal sebagai salah satu pusat produksi film dan drama di China. Perkembangan teknologi AI turut mendorong perubahan pola produksi konten di negara tersebut.
Mengutip data media negara China yang diberitakan CNN, lebih dari 95 persen micro drama baru di China pada kuartal pertama 2026 diproduksi menggunakan AI.
Di Indonesia, format micro drama juga berkembang dan menjangkau berbagai kelompok usia. Pertumbuhan tersebut diikuti persaingan antarpelaku industri dalam memproduksi dan mendistribusikan konten melalui berbagai platform digital.
Suneeday menyebut mampu memproduksi lebih dari 30 episode drama vertikal per hari dengan melibatkan pemeran manusia. Studio tersebut juga mendistribusikan kontennya melalui 26 kanal di TikTok, YouTube, Instagram, dan Snack Video.
Perusahaan yang berdiri pada 2022 itu mencatat ekosistem kanalnya memiliki lebih dari 50 juta pengikut dan menghasilkan lebih dari satu miliar tayangan per bulan.
Suneeday menilai perkembangan industri micro drama di China menjadi salah satu bahan evaluasi untuk mengembangkan strategi produksi, distribusi, dan kemitraan di pasar Indonesia.