Politik

Wamenkes: Indonesia tempati urutan kedua kasus Tb terbanyak di dunia

Wamenkes: Indonesia tempati urutan kedua kasus Tb terbanyak di dunia

Medan (ANTARA) - Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes) RI dr Benjamin Paulus Octavianus memaparkan, Indonesia saat ini menempati urutan kedua dengan kasus tuberkulosis (Tb) terbanyak di dunia setelah India.

Menurut Wamenkes, atas kondisi tersebut mendorong Presiden RI Prabowo Subianto memberikan instruksi khusus memperkuat penanganan Tb secara intensif.

"Hingga saat ini, lebih dari 114 juta warga Indonesia telah memanfaatkan layanan Cek Kesehatan Gratis (CKG)," ucap Benjamin di hadapan Wakil Menteri Agama RI Romo Muhammad Syafii bersama Wakil Menteri Dalam Negeri RI Akhmad Wiyagus didampingi Wakil Gubernur Sumatera Utara dalam peluncuran Gerakan Nasional Pesantren Bebas Tuberkulosis sekaligus pelaksanaan Cek Kesehatan Gratis Nasional 2026 di Pondok Pesantren Mawaridussalam, Desa Tumpatan, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara, Rabu.

Melalui pencanangan Pesantren Bebas Tuberkulosis ini, lanjut Benjamin, pemerintah ingin memastikan warga pesantren terbebas dari penularan Tb, dan mendorong para santri menjadi Duta Kesehatan.

Selain penanganan tuberkulosis, Wamenkes juga mengungkapkan, komitmen pemerintah dalam pemerataan fasilitas kesehatan nasional.

"Pemerintah mengalokasikan anggaran sekitar Rp120 triliun untuk merehabilitasi 441 rumah sakit daerah, dan memperbarui 1.988 Puskesmas di seluruh Indonesia mulai tahun depan," kata Benjamin.

Wakil Menteri Dalam Negeri (Wamendagri) RI Akhmad Wiyagus menyebutkan, kesiapan pihaknya bersinergi dengan Kementerian Agama bersama Kementerian Kesehatan sekaligus mengajak pemerintah daerah berperan aktif menyukseskan program ini.

"Keterlibatan pemerintah daerah menjadi bagian penting untuk memastikan pelaksanaan program berjalan optimal di wilayah masing-masing," kata Wiyagus.

Menurut Wamendagri, koordinasi pemerintah pusat dan daerah, sehingga upaya pencegahan maupun penanggulangan TB di lingkungan pesantren yang diharapkan terlaksana secara berkelanjutan.

Sebab, pondok pesantren merupakan lingkungan pendidikan sekaligus tempat tinggal bagi banyak santri maupun santriwati di tanah air.

"Karena itu, edukasi kesehatan, deteksi dini, pemeriksaan berkala, dan penanganan yang tepat jadi bagian penting menciptakan lingkungan belajar yang aman dan sehat," ujar Akhmad Wiyagus.

Pimpinan Pondok Pesantren Mawaridussalam Ustaz H Basron Sudarmanto MM menyampaikan rasa syukur atas kepercayaan menjadikan pesantrennya sebagai pusat peluncuran program nasional tersebut.

"Ini merupakan berkah luar biasa bagi kami. Santri dan pengajar membutuhkan kondisi fisik yang prima menjalankan tugas belajar dan mengajar. Terima kasih atas perhatian nyata dari pemerintah pusat dan Pemprov Sumut," tutur Busron.