SEMARANG — Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal TNI Tandyo Budi Revita mengungkapkan, tiga prajurit yang gugur dalam kecelakaan helikopter MI-17V5 sudah hampir dua bulan berada di Kalimantan untuk menjalankan misi pemadaman karhutla. Hal itu diungkap Tandyo seusai memimpin upacara pemakaman salah satu prajurit yang gugur, yakni Kapten CPN (Anumerta) Nurhafiz Akbar Rizki Hartio (34 tahun), di Taman Makam Pahlawan (TMP) Giri Tunggal, Kota Semarang, Jawa Tengah, Kamis (5/11/2026).
“Kemarin kita kehilangan tiga prajurit kita terbaik dalam penanganan kebakaran hutan di Kalimantan. Dan almarhum, tiga orang ini, sudah hampir dua bulan di sana,” ungkap Tandyo kepada awak media.
Dia menambahkan, selama pelaksanaan misi pemadaman karhutla, tim tersebut telah melaksanakan 636 sorti. “Kalau dihitung airnya, itu kurang lebih 1,2 juta liter air yang sudah ditebarkan untuk membantu (pemadaman) kebakaran di Kalimantan,” ucapnya.
Pada kesempatan itu, Tandyo kembali menyampaikan belasungkawa atas tiga prajurit yang gugur dalam insiden kecelakaan helikopter MI-17V5. “Saya secara pribadi mengucapkan belasungkawa yang sedalam-dalamnya atas kepergian almarhum, yang pertama Letnan Kolonel CPN Anumerta Dudi Firmansyah, Kapten CPN (Anumerta) Nurhafiz, dan satu lagi Sersan 1 Heri yang saat ini mungkin masih di dalam pesawat. Saya minta doanya mudah-mudahan bisa segera diangkat,” kata dia.
Tandyo pun berharap kotak hitam yang berada di helikopter MI-17V5 dapat segera dievakuasi. Dia mengatakan data yang terekam dalam black box dapat menjadi petunjuk untuk mengungkap penyebab terjadinya insiden atau kecelakaan yang dialami helikopter tersebut. “Kotak hitam yang ada di situ bisa memberikan jawaban apa kendala pada saat terjadi crash heli MI-17 ini,” ucapnya.
“Dengan kotak hitam itu kita bisa mengetahui dan menjadi bahan kita untuk evaluasi latihan-latihan ke depan. Sehingga penanganannya akan lebih mudah,” tambah Tandyo.
Helikopter MI-17V5 mengalami kecelakaan di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11/2026). Insiden terjadi saat heli tersebut tengah melaksanakan misi pemadaman karhutla.
Terdapat delapan prajurit yang menjadi korban dalam kecelakaan tersebut. Tiga di antaranya meninggal atau gugur. Mereka adalah Kapten CPN (Anumerta) Nurhafiz Akbar Rizki Hartio, Letkol CPN (Anumerta) Dudi Firmansyah dan Sertu (Anumerta) Heri Prasetyo.