Fokus komunikasi dari pementasan seni budaya ini tetap berada pada sudut pandang anak-anak
Jakarta (ANTARA) - Anak berusia mulai dari empat tahun di Perkumpulan Pencinta Seni Tari (PPST) Kencana Mas merespons langsung ancaman kerusakan alam dan bencana kabut asap melalui pementasan dramatari "Swara Ibu: Nyanyian dari Hutan" di Gedung Kesenian Wayang Orang Bharata, Jakarta Pusat, Minggu.
Ketua PPST sekaligus penulis dan sutradara dramatari "Swara Ibu", Ryan A. Syakur, menyatakan pihaknya melibatkan anak-anak tersebut untuk memupuk semangat positif sejak usia dini untuk menyelamatkan hutan di Indonesia.
"Mereka merasakan kualitas udara yang buruk dari Kalimantan sampai ke sini (Jakarta), dan mereka membaca pula kejadian di Papua serta daerah lainnya, asapnya bahkan bisa menyebabkan sesak," ujar Ryan saat ditemui ANTARA setelah pementasan.
Ryan menjelaskan konsep pertunjukan itu digali langsung dari jawaban polos anak-anak saat diajak berdiskusi mengenai kebakaran hutan dan lahan dan bencana kabut asap.
Para pelatih menerapkan metode pelatihan yang menyenangkan dengan mengutamakan kenyamanan anak-anak saat berkumpul dan menari bersama di sanggar, lalu memvisualisasikan reaksi anak-anak selama diskusi tentang karhutla dan bencana kabut asap itu ke dalam naskah drama melalui gambaran hutan hijau dan hutan gersang.
"Fokus komunikasi dari pementasan seni budaya ini tetap berada pada sudut pandang anak-anak," kata Ryan.
Menurut Ryan, ketertarikan anak-anak terhadap gerakan tari juga mempermudah pelatihan dan pemilihan karakter yang akan diperankan oleh anak-anak seperti Kijang, Semut, Kera hingga tokoh kupu-kupu biru bernama Lumi yang diperankan oleh Zeynep Zafria Ardi.
Pementasan turut menampilkan lakon cilik seperti Rarimpi yang diperankan Jasmina Budiani, Rarampa atau Cenik oleh Gisela Dahayu Locita Jati.
Meski didominasi pemeran cilik, ada juga pemeran dewasa untuk memerankan tokoh raksasa Kalagana yang diperankan oleh I Gusti Ngurah Udi Utawan, dan Diana Listyarini sebagai Dewi Alas, sesuai kebutuhan cerita.
Sekretaris Dinas Kebudayaan DKI Jakarta, Retno Setiowati, mengaku antusias menyaksikan pementasan tersebut.
"Senang banget karena bisa melihat anak-anak kecil bisa berpartisipasi, karena memang sejujurnya Indonesia ini memang membutuhkan pendidikan dari awal ya. Jadi, memang dari anak-anak kecil harusnya sudah dilatih untuk menyadarkan mereka akan pentingnya hutan," kata Retno.