Denpasar (ANTARA) - Badan Pusat Statistik (BPS) Bali mencatat jumlah angkatan kerja pada Agustus 2026 mengalami penurunan sebanyak 3,83 ribu orang menjadi 2,74 juta orang karena beralih ke kegiatan bersekolah.
"Kalau kita lihat perpindahannya sebagian besar mereka ke bersekolah," kata Kepala BPS Bali Agus Gede Hendrayana Hermawan, di Denpasar, Kamis.
Agus menyebut penurunan angkatan kerja terjadi di tengah melonjaknya penduduk usia kerja sebesar 25,23 ribu orang, atau kini menjadi 3,57 juta orang.
Namun, karena penduduk usia kerja ini memutuskan menjadi bukan angkatan kerja maka kelompok bukan angkatan kerja bertambah sebanyak 29,06 ribu orang menjadi 0,84 juta orang, dengan didominasi warga bersekolah sebanyak 22,24 ribu orang.
Sementara itu, kelompok yang mengurus rumah tangga turun 5,6 ribu orang menjadi 0,44 juta orang, dan kelompok lainnya tercatat 12,41 ribu orang yang mayoritas merupakan lansia tak produktif.
Beralihnya warga usia produktif ke bangku pendidikan memicu penurunan Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) Bali dari 77,31 persen pada Agustus 2025 menjadi 76,66 persen pada Agustus 2026.
Penurunan TPAK terjadi pada kelompok laki-laki dari 83,84 persen menjadi 83,74 persen, serta perempuan dari 70,84 persen menjadi 69,66 persen.
Kepala BPS Bali menilai penurunan angkatan kerja tersebut bukan sinyal negatif bagi perekonomian daerah.
"Peluang mereka untuk meningkatkan kapasitasnya menjadi lebih besar karena sebagian dari mereka larinya ke bersekolah," ujarnya.
Agus Gede optimistis peningkatan kapasitas SDM ini akan berdampak positif pada kualitas tenaga kerja di masa mendatang.
"Kalau dia bersekolah, kemampuannya makin baik, otomatis ketika terjun ke lapangan pekerjaan akan mendapatkan pekerjaan yang semakin baik dengan tingkat upah atau penghasilan yang semakin besar," ujar Agus Gede.
Lebih lanjut BPS Bali membedah kondisi angkatan kerja Agustus 2026, dari sisi penyerapan, jumlah penduduk yang sebelumnya sudah bekerja turun 1,73 ribu orang menjadi 2,7 juta orang, sedangkan angka pengangguran menyusut 2,1 ribu orang menjadi 38,89 ribu orang.
Kondisi tersebut menekan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Bali dari 1,49 persen menjadi 1,42 persen, dengan pembagiannya TPT laki-laki naik menjadi 1,65 persen, sedangkan TPT perempuan turun signifikan menjadi 1,14 persen.
Dari sisi wilayah, pengangguran di perkotaan melandai menjadi 1,55 persen dan perdesaan turun tajam ke 1,04 persen, dengan TPT terendah di Badung (0,69 persen) dan tertinggi di Karangasem (1,65 persen).
BPS Bali juga memotret kualitas tenaga kerja Bali yang juga membaik dengan meningkatnya proporsi pekerja formal dari 49,53 persen menjadi 51,31 persen, didominasi status buruh/karyawan/pegawai sebesar 47,29 persen atau naik 33,33 ribu orang.
Pekerja berusaha sendiri naik menjadi 21,20 persen dan pekerja keluarga bertambah ke 11,89 persen, sementara pekerja dibantu buruh tidak tetap turun menjadi 8,70 persen dan pekerja bebas non-pertanian turun ke 4,77 persen.
Dari aspek pendidikan, pekerja lulusan SMP turun menjadi 12,23 persen dan SMK ke 15,70 persen, sedangkan lulusan SMA naik ke 23,63 persen, Diploma/Sarjana naik ke 13,30 persen, dan SD ke bawah tercatat 28,74 persen.
Adapun sektor penyerap tenaga kerja terbesar dari pantauan Agustus 2026 masih dipegang Perdagangan (20,85 persen), disusul Pertanian (17,22 persen), Industri (13,76 persen), serta Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum (14,58 persen).
Agus Gede menyebut sektor akomodasi makan minum tercatat paling produktif, karena menyumbang nilai tambah 22,87 persen meski hanya menyerap 14,58 persen tenaga kerja, sebaliknya perdagangan menyerap 20,85 persen tenaga kerja, namun hanya menghasilkan nilai tambah 8,81 persen.